Home Islami Inspirasi : Kisah Perjuangan Seorang Tukang Cuci

Inspirasi : Kisah Perjuangan Seorang Tukang Cuci

Inspirasi : Kisah Perjuangan Seorang Tukang Cuci
ILustrasi: Mencuci Piring. Dok : Viva

Inspirasi : Kisah Perjuangan Seorang Tukang Cuci

Widiynews.com – Dalam kisah inspirasi kali ini dikisahkan tentang seorang pemuda berjalan menuju sebuah perusahaan untuk melamar bekerja. Setelah memasukkan semua berkas yang diminta, akhirnya ia mengikuti tes yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Pada tes pertama dan tes kedua ia berhasil lulus tes, dan pada tes terakhir ia akan bertemu dengan pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan mengetahui bahwa si pemuda memiliki nilai akademik yang sangat baik.

Kemudian ia bertanya, “Apakah kamu mendapatkan beasiswa dari sekolah?” tanya pemimpin perusahaan itu. Kemudian si pemuda itu menjawab, “Tidak”.

“Apakah ayahmu membayar uang sekolah?” tanya kembali sang pemimpin perusahaan kepada si pemuda. “Tidak, ayah saya meninggal dunia ketika saya berumur satu tahun. Ibu sayalah yang membayarkannya,” jawab sang pemuda.

“Dimana ibu kamu bekerja untuk biaya sekolahmu?” tanya lagi si pemimpin perusahaan. “Ibuku bekerja sebagai tukang cuci,” jawab si pemuda setelah mendengar pertanyaan sang pemimpin perusahaan yang ia datangi.

Mendengar jawaban si pemuda itu, pemimpin perusahaan meminta si pemuda untuk menunjukkan tangannya. Kemudian si pemuda menunjukkan tagannya yang lembut dan halus.

“Apakah kamu pernah membantu ibumu mencuci baju?”. “Tidak pernah. Ibu selalu melarangku untuk membantu, ibuku selalu ingin aku belajar dan membaca banyak buku. Selain itu, ibuku dapat mencuci baju lebih cepat dari aku,” jawab sang pemuda.

Baca Juga : Kesabaran Ibu Melebihi Kesabaran Manusia Biasa

Pemimpin perusahaan mengatakan, “Aku memiliki permintaan. Ketika kamu pulang ke rumah hari ini, pergi dan cuci tangan ibumu. Kemudian temui aku esok hari.” minta sang pemimpin perusahaan kepada si pemuda.

Si pemuda merasa kemungkinannya mendapatkan pekerjaan ini sangat tinggi. Ketika pulang, dia meminta ibunya untuk membiarkan dirinya membersihkan tangan ibunya. Ibunya merasa heran, senang tetapi dengan perasaan bercampur aduk, ia menunjukkan tangannya ke anaknya.

Si pemuda membersihkan tangan ibunya secara perlahan. Air matanya tumpah. Ini pertama kalinya dia menyadari tangan ibunya sangat kasar dan banyak luka. Beberapa luka cukup menyakitkan, ibunya merintih ketika dia menyentuhnya.

Ini pertama kalinya si pemuda menyadari, bahwa sepasang tangan inilah yang setiap hari mencuci baju agar dirinya bisa sekolah. Luka ditangan ibunya merupakan harga yang harus dibayar untuk kebutuhan hidup sehari-hainya, biaya sekolah, dan biaya persiapan untuk masa depannya. Setelah membersihkan tangan ibunya, pemuda tersebut diam-diam mencuci semua pakaian tersisa.

Keesokan paginya, sang pemuda pagi ke kantor pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan menyadari ada air mata di mata sang pemuda. Kemudian ia bertanya, “Dapatkan kamu menceritakan apa yang kamu lakukan dan kamu pelajari tadi malam dirumahmu?” tanya sang pemimpin perusahaan.

Pemuda itu kemudian menjawab, “Saya membersihkan tangan ibu saya dan juga menyelesaikan cuciannya. Saya sekarang mengetahui apa itu apresiasi. Tanpa ibu saya, saya tidak akan menjadi diri saya seperti sekarng ini. Dengan membantu ibu saya, baru sekarang saya tahu betapa sukar dan sulitnya melakukan sesuatu dengan sendirinya. Dan saya mulai mengapresiasi betapa pentingnya dan berharganya bantuan dari sang ibu,” tutur sang pemuda kepada calon bosnya itu.

Baca Juga : Ibu Sang Pelita Hati

Pemimpin perusahaan kemudian menjawab, “Inilah yang saya cari dari dalam diri seorang manajer. Saya ingin merekrut seseorang yang dapat mengapresiasi bantuan dari orang lain. Seseorang yang mengetahui penderitaan orang lain ketika mengerjakan sesuatu, dan seseorang yang tidak menempatkan uang sebagai tujuan utama dari hidupnya.” kata sang pemimpin perusahaan.

“Mulai sekarang, kamu diterima diperusahaan ini. Selamat bergabung!” ungkap sang pemimpin perusahaan.

Kisah ini mengajarkan kepada kita, betapa beratnya dan sukarnya perjuangan sang ibu selama ini. Lantas, masihkah kita bersikap dan berkata kasar kepadanya?

Mari Bagikan :

Pengguna Samsung Galaxy A7 yang juga menjadi kontributor di situs berita Widiynews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here