Home News Peristiwa Tragedi Pembantaian Etnis Rohingnya, Dunia Berduka!

Tragedi Pembantaian Etnis Rohingnya, Dunia Berduka!

Tragedi Pembantaian Etnis Rohingnya, Dunia Berduka!
Ribuan etnis Rohingnya yang melarikan diri ke Bangladesh. Dok: Reuters

WIDIYNEWS.COM – Kecaman demi kecaman terhadap pembantaian etnis Rohingnya yang terjadi selama dua pekan ini terus berdatangan. Banyak pihak yang menyayangkan sikap yang terkesan “berdiam diri” Aung San Suu Kyi– tokoh demokrasi dan HAM yang kini menjadi salah satu petinggi di Myanmar.

Hingga saat ini, belum terdengar suara maupun manuver dari wanita yang pernah menerima gelar Nobel Perdamaian itu. Itu sebabnya, banyak pihak yang memprotes krisis Rohingnya yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar tersebut.

Duka demi duka dari belahan dunia terus berdatangan. Mereka turut menyampaikan keprihatinan mereka atas situasi di Myanmar. Mulai dari kicauan mereka di media sosial hingga aksi nyata melalui unjuk rasa.

Malala Yousafzai, gadis muda yang terkenal dengan pembelaannya pada hak-hak anak perempuan untuk bisa bersekolah asal Pakistan ini menuliskan “Dunia menunggu Anda, Muslim Rohingnya menunggu Anda” kritik gadis itu terhadap San Suu Kyi– sang pemimpin negara Myanmar tersebut yang selama tragedi Rohingnya tak juga bersuara.

Melalui akun Twitternya, Malala meminta Aung San Suu Kyi, untuk melakukan atau mengatakan sesuatu terkait aksi kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar terhadap etnis Rohingnya. Malala juga meminta, kekerasan itu segera dihentikan, etnis Rohingnya diakui kewarganegaraannya, dan seluruh negara di dunia bersedia membantu para pengungsi Rohingnya.

“Selama beberapa tahun terakhir, saya selalu mengutuk perilaku tragis dan memalukan ini. Saya masih menunggu rekan saya, sesama penerima Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi untuk melakukan hal yang sama. Dunia menunggu, dan Muslim Rohingya menunggu,” kicau Malala, 4 September 2017.

Sikap diam Suu Kyi atas kekerasan yang terjadi didepan matanya sendiri membuat dunia kecewa. Kesunyian Suu Kyi sudah terasa sejak Oktober 2016, saat terjadi kekerasan yang sama pada etnis Rohingnya di Rakhine. Kala itu, Suu Kyi juga enggan bersuara. Padahal, sejak Januari 2016, Suu Kyi resmi menjadi pemimpin di negara tersebut. Meski sudah tak lagi menjadi tahanan rumah, dan sudah menjadi pemimpin, namun perempuan paruh baya itu sepertinya tak terhubung dengan Rakhine. Entah sejauh apa sebenarnya jarak yang membentang, ia tak banyak berkomentar.

Februari 2017, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad Al Hussein mencatat, Suu Kyi tak sedikitpun memperlihatkan kondisi emosional ketika membaca laporan PBB terkait pembantaian Rohingnya.┬áPada akhir Agustus 2017, konflik kembali terulang. Dan Suu Kyi kembali berdiam diri. Tak ada komentar sedikitpun atas kekerasan dan kebrutalan tentara Myanmar terhadap etnis Rohingnya.

Minggu lalu, kecaman terhadap Suu Kyi juga muncul dari Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson. “Aung San Suu Kyi pernah menghadapi tantangan besar di negaranya sendiri. Saya berharap saat ini ia bisa menggunakan kualitasnya yang sudah diakui untuk menyatukan negaranya, untuk menghentikan kekerasan dan mengakhiri prasangka yang menimbulkan sengketa antara Muslim dan komunitas lain di Rakhine,” kata Johnson seperti dikutip dari Reuters, dan diberitakan Viva.co.id, Kamis (7/9/2017).

Bahkan, Sekjen PBB Antonio Guterres mengaku sangat kecewa dengan situasi yang terjadi di Rakhine. Ia meminta kepada seluruh pihak untuk menahan dan menenangkan diri untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan. Sementara Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan, apa yang terjadi di Rakhine adalah genosida atau pembersihan etnis.

Baca dihalaman berikutnya,
klik nomor halaman dibawah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here