Soal Kasus Penipuan Investasi dan Paytren, Ini Tanggapan Pihak Yusuf Mansyur!

Soal Kasus Penipuan Investasi dan Paytren, Ini Tanggapan Pihak Yusuf Mansyur!
Ustadz Yusuf Mansur

WIDIYNEWS.COM – Ustadz Jam’an Nur Chotib Mansur atau yang karib disapa Ustadz Yusuf Mansur tengah berhadapan dengan perkara hukum terkait kasus investasi Condotel Moya Vidi yang dilaporkan oleh empat investor asal Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Keempat orang atau investor tersebut melaporkan Yusuf Mansur karena merasa telah ditipu. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur kini telah menaikkan status kasus itu, dari tingkat penyelidikan ke penyidikan.

“Saya sudah menerima surat pemberitahuan dari Polda terkait perkembangan laporan saya. Polda Jatim sudah melakukan gelar perkara dan kasus dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan,” kata kuasa pelapor, Sudarso Arief Bakuma, kepada wartawan di Surabaya pada Jumat, 8 September 2017.

Melalui kuasa hukumnya, Ina Rachman mengatakan, bisnis pembayaran digital Paytren kini berjalan dengan baik meskipun ada laporan yang melibatkan Yusuf Mansur di Polda Jawa Timur. Ia mengatakan, selama ini Yusuf Mansur telah bersikap kooperatif.

“Paytren tidak ada kaitan sama sekali. Selama ini ustaz Yusuf Mansur dan tim selalu bersikap kooperatif dengan pihak kepolisian,” ucap Ina, Sabtu malam 9 September 2017, dilansir dari Viva.co.id (10/9/2017).

“Jika ada pihak yang merasa dirugikan dan melakukan pengaduan. Silakan saja. Tapi apakah pelapor-pelapor ini memang benar melakukan pelaporan atau ada unsur pidana atau tidak, kalau tidak ada, pihak ustaz akan melaporkan balik,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, Yusuf Mansur dilaporkan oleh empat orang atau investor Condotel Moya Vidi asal Surabaya, Jawa Timur ke Polda Jatim dengan nomor laporan 742/VI/2017/UMJATIM. Menurut kuasa hukum pelapor, Sudarso, investasi itu ditawarkan oleh Yusuf Mansur kepada jemaahnya di seluruh Indonesia, termasuk di Surabaya pada 2012-2013.

Investasi Condotel Moya Vidi yang ditawarkan Yusuf Mansur, menurut Sudarso dalam bentuk sertifikat. Harganya Rp 2.75 juta perlembar sertifikat. Otoritas Jasa Keuangan menyoroti dan menghentikan investasi yang dijalankan Yusuf Mansur tersebut. Investasi yang dikumpulkan dari ribuan jemaah juga dialihkan untuk membangun hotel, bukan condotel seperti awal diketahui. “Pengalihan aset itu hanya diberitahukan terlapor melalui websitenya,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kasus penipuan investasi yang menyeret dai kondang ittu, Kepala Seksi Orang dan Harta Benda Kejaksaan Tinggi Jatim, Usman mengaku hingga saat ini belum menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan atau SPDP dari Polda Jatim. “Kami belum menerima SPDP kasus itu,” tegasnya.