Home News Peristiwa Jadi Tersangka Lagi, Ini 14 Fakta Mengejutkan Soal Setya Novanto di Pengadilan

Jadi Tersangka Lagi, Ini 14 Fakta Mengejutkan Soal Setya Novanto di Pengadilan

Jadi Tersangka Lagi, Ini 14 Fakta Mengejutkan Soal Setya Novanto di Pengadilan

Berita Terkini. Komisi Pemberantasan Korupsi menerbitkan surat perintah penyidikan pada 31 Oktober 2017 atas nama tersangka Setya Novanto.

WIDIYNEWS.COM – Ketua DPR RI Setya Novanto kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah sebelumnya menang melalui proses praperadilan.

Ketua Umum Partai Golkar itu diduga terlibat dalam kasus mega proyek e-KTP. Pengumuman ini disampaikan oleh Wakil Ketua KPK Saut Situmorang melalui jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

“Setelah proses penyelidikan dan terdapat bukti permulaan yang cukup dan melakukan gelar perkara akhir Oktober 2017, KPK menerbitkan surat perintah penyidikan pada 31 Oktober 2017 atas nama tersangka SN, anggota DPR RI,” kata Saut.

Saat ini, tiga tersangka dalam kasus e-KTP telah menjalani persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Berikut ini beberapa fak persidangan mengenai Setya Novanto yang berhasil kami rangkum dari berbagai media.

1. Pertemuan antara terdakwa dengan Setya Novanto

Dalam kesaksian di pengadilan, mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini mengatakan, ada pertemuan yang dihadiri Irman dan kawan-kawan, Sugiharto, dan Andi Narogong selaku pelaksana proyek e-KTP.

Pertemuan itu dilakukan di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, sekitar pukul 06.00 WIB. Pertemuan itu juga dihadiri oleh Setya Novanto yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Golkar. Sayang, tidak disebutkan kapan pastinya pertemuan itu terjadi. Namun, menurut Diah, pertemuan itu berlangsung singkat karena Setnov tergesa-gesa ada acara lain.

2. Pengakuan Ganjar Pranowo

Dalam persidangan, mantan Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo mengaku pernah secara kebtulan bertemu dengan Setya Novanto di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Saat itu, menurut Ganjar, Setnov sempat menyinggung proyek e-KTP yang ditangani oleh Komisi II DPR.

Disebutkan dalam BAP, Ganjar juga mengaku pernah memberitahu penyidik bahwa Andi Narogong adalah orang dekat Setnov.

3. Berusaha Menghilangkan Fakta

Didalam persidangan terungkap bahwa Setnov berupaya untuk menghilangkan fakta keterlibatan dirinya dalam kasus mega tersebut. Novanto memerintahkan Diah Anggraini untuk menyampaikan pesan kepada Irman agar mengaku tidak mengenal Setya Novanto saat ditanya penyidik KPK.

4. Dua kali bertemu Setya Novanto

Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tanos mengaku pernah dua kali menemui Setya Novanto. Menurutnya, saat itu ia baru saja bergabung dengan konsorsium yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek pengadaan e-KTP.

Ia mengatakan, awalnya di diajak oleh pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong untuk bertemu Setya Novanto dirumah Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran, Jakarta Selatan.

5. Novanto Kantongi Jatah 7 Persen

Ketua DPR RI itu disebut-sebut mendapat jatah 7 persen dalam proyek pengadaan e-KTP. Hal ini diungkapkan oleh Johanes Richard Tanjaya, yang merupakan salah satu tim TI dalam konsorsium pelaksana proyek e-KTP.

6. Novanto menjadi kunci anggaran di DPR

Dalam persidangan, mantan Dirjen Dukcapil Irman mengatakan, Andi pernah mengatakan bahwa kunci penentu anggaran proyek e-KTP bukanlah Komisi II DPR, melainkan Setya Novanto. Menurut Irman, Andi berjanji untuk mempertemukan dirinya dengan Novanto.

7. Jatah sudah diterima Setya Novanto

Irman mengatakan, berdasarkan laporan dari Sugiharto, Dirut PT Quadra Solution, Anang Sugiana Sudiharjo sudah empat kali mencairkan dana untuk empat termin proyek e-KTP. Pencairan dilakukan sejak Desember 2011. Setiap kali pencairan, Anang menyerahkan uang tersebut kepada pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Andi kemudian meneruskan uang tersebut untuk diberikan kepada Setya Novanto dan sejumlah anggota DPR lainnya.

8. Kesaksian Hotma Sitompoel

Pengacara Hotma Sitompoel mengakui bahwa ia pernah menemui Setya Novanto di salah satu hotel di Jakarta untuk menanyakan kepada Novanto tentang kasus korupsi e-KTP. Sebelum menemui Novanto, ia mendengar banyak pihak yang terlibat dalam kasus korupsi terkait pengadaan e-KTP.

9. Novanto siap bantu para terdakwa

Andi Narogong pernah mengundang Irman dan Sugiharto untuk bertemu di Hotel Grand Melia, Jakarta. “Setya Novanto menyampaikan bahwa ia banyak keperluan dan tidak bisa bertemu lama-lama. Dia bilang, ‘Pokoknya e-KTP akan saya bantu’,” kata Irman.

Kapolri Sebut Kasus Pimpinan KPK adalah Ujian Bagi Polri

Selanjutnya, satu pekan setelah pertemuan di Grand Melia, Andi Narogong kembali menghubungi Irman. Andi mengajak Irman bertemu Novanto di ruang Ketua Fraksi Golkar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Menurut Irman, Novanto saat itu mengatakan bahwa ia sedang mengkoordinasikan anggota DPR lainnya soal e-KTP. “Waktu saya mau keluar, saya diberitahu, kata Setya Novanto, nanti soal perkembangan hubungannya sama Andi,” kata Irman.

10. Keponakan Novanto gabung konsorsium e-KTP

Mantan Direktur Utama PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi mengaku pernah bergabung dengan konsorsium pelaksana proyek e-KTP. Irvanto mengaku bahwa dirinya adalah keponakan Setya Novanto.

11. Istri dan dua anak Novanto diduga terlibat proyek

Dalam persidangan, jaksa mengonfirmasi pengetahuan Novanto seputar PT Murakabi Sejahtera dan PT Mondialindo Graha Perdana. PT Murakabi merupakan salah satu peserta lelang dalam proyek e-KTP. Sebagian besar saham murakabi dimiliki PT Mondialindo.

Dalam persidangan, jaksa mengungkap bahwa istri dan putra Novanto adalah pemilik saham di PT Mondialindo. Sementara, putri dan keponakan Novanto, Irvanto Hendra Pambudi, memiliki saham di PT Murakabi.

12. Kantor milik Novanto digunakan 14 perusahaan fiktif

Kantor yang terletak di Lantai 27 Gedung Menara Imperium, Kuningan, Jakarta Selatan, digunakan sebagai alamat lebih dari 14 perusahaan. Kantor yang dimiliki Setya Novanto tersebut hanya diisi oleh tiga orang pegawai.

Hal itu terungkap saat mantan Direktur Utama PT Murakabi Sejahtera Deniarto Suhartono bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (6/11/2017). Selain di PT Murakabi, Deniarto juga menjabat sebagai Komisaris PT Mondialindo Graha Perdana.

Meski tercatat dalam akta notaris, nilai saham dalam berbagai perusahaan tersebut fiktif. Masing-masing pemegang saham tidak pernah menyetorkan modal kepada PT Murakabi.

13. Rekaman Johannes Marliem

Jaksa KPK memutar rekaman pembicaraan antara Direktur Biomorf Lone LLC, Johannes Marliem dan Anang Sugiana Sudihardjo selaku Direktur Utama PT Quadra Solutions. Dalam rekaman yang diputar jaksa, terungkap bahwa Setya Novanto yang saat itu menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar menerima uang terkait uang e-KTP.

14. Keterangan Novanto dibantah sendiri oleh keponakannya

Novanto dan Irvanto sama-sama dihadirkan sebagai saksi dalam sidang. Namun, Novanto mendapat giliran pertama. Sementara, Irvan dan saksi-saksi lainnya memberikan keterangan pada sesi kedua persidangan.

Awalnya, kepada jaksa dan mejelis hakim, Novanto mengaku hanya dua kali bertemu dengan terdakwa, Andi Agustinus alias Andi Narogong. Dua kali pertemuan itu berlangsung di Teabox Cafe, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Pemerintah Berencana Hapus Golongan Listrik 900, 1.300 dan 2.200 VA

Novanto mengatakan, pertemuan itu hanya terjadi secara kebetulan. Saat itu, menurut dia, Andi menawarkan pembuatan kaos dan atribut partai.

Namun, saat mendapat giliran bersaksi, Irvan mengatakan bahwa ia pernah beberapa kali melihat Andi Narogong di kediaman Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran, Jakarta Selatan. Pertemuan itu sekitar tahun 2014-2015.

“Saya pernah lihat Andi beberapa kali di rumah Pak Novanto. Kalau tidak salah waktu lebaran 2-3 tahun lalu, waktu itu ada open house,” kata Irvan kepada jaksa KPK.

Mari Bagikan :

Pengguna Samsung Galaxy A7 yang juga menjadi kontributor di situs berita Widiynews.com