Berita Terkini: Hari Perempuan Internasional 2017 Dimeriahkan Google Doodle Hari Ini

Berita Terkini. Hari Perempuan Internasional 2017 Dimeriahkan Google Doodle Hari Ini. Berbahagialah bagi Anda para kaum wanita, karena tepat pada hari ini, Rabu 8 Maret 2017 merupakan peringatan Hari Perempuan Internasional 2017 atau dalam istilah kerennya International Women’s Day. Indonesia dan belahan dunia lainnya memperingati hari bersejarah ini dengan beragam kegiatan oleh kaum wanita.

Berita Terkini: Hari Perempuan Internasional 2017 Dimeriahkan Google Doodle Hari Ini

Sebagai bentuk apresiasi, Google pun ikut merayakan dengan membuat doodle khusus. Jika Anda mengakses laman Google hari ini, maka pada halaman depan mesin pencarinya akan langsung terlihat Google Doodle yang menampilkan beberapa gambar perempuan dengan segala macam aktivitas dalam bentuk kartun slideshow. 

Ada tiga belas tokoh perempuan dari berbagai bidang yang diketengahkan oleh Google lewat coretan Doodle besutannya di International Women’s Day, mulai dari pelukis, pengacara, aktris, hingga astronot. Di akhir slideshow, Anda akan diarahkan ke hasil pencarian berisi ke-13 tokoh perempuan tersebut di bagian paling atas, antara lain Lovelace, Lotfia ElNadi, Lee Tai-Young, dan Miriam Makeba.

Hari Perempuan Internasional sendiri memperingati perjuangan perempuan untuk memperoleh hak-haknya di masyarakat. Diwakili ke-13 tokoh, para perempuan sepanjang sejarah telah membuktikan diri bahwa mereka sama baiknya dengan kaum laki-laki dalam berbagai bidang.

International Women’s Day berakar dari sosialisme di Rusia dan kini dirayakan secara global di banyak negara.

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional sesungguhnya merupakan kisah perempuan biasa dalam menoreh catatan sejarah; sebuah perjuangan berabad-abad lamanya untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, seperti juga kaum laki-laki.

Di masyarakat Yunani Kuno, Lysistrata menggalang gerakan perempuan mogok berhubungan seksual dengan pasangan mereka untuk menuntut dihentikannya peperangan.

Sedangkan dalam Revolusi Prancis, perempuan di Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan ‘Kemerdekaan, Kesetaraan dan Kebersamaan menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu.

Wacana memperingati Hari Perempuan Internasional sebetulnya telah berkembang sejak seabad lalu. Ini ketika dunia industri sedang dalam masa pengembangan dan pergolakan, peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan pemunculan paham-paham radikal.

Berikut adalah kronologi singkat dari beberapa kejadian penting yang mengiringi perjalanan Hari Perempuan Internasional seperti dikutip dari situs Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH-APIK):

1909: Dalam rangkaian pendirian Partai Sosialis Amerika, Hari Perempuan Nasional pertama kali diperingati pada 28 Februari di AS. Hari tersebut kemudian terus diperingati oleh para perempuan AS pada setiap hari Minggu terakhir Februari hingga 1913.

1910: Pertemuan kelompok sosialis internasional di Kopenhagen, Denmark, memutuskan untuk memiliki Hari Perempuan Internasional sebagai penghormatan atas hak-hak asasi perempuan dan mendorong diperolehnya hak suara bagi semua perempuan di dunia.

Keputusan ini diterima secara bulat oleh semua peserta yang diikuti lebih dari 100 perempuan dari 17 negara, termasuk tiga perempuan pertama yang dipilih sebagai anggota parlemen Finlandia. Namun pada saat itu, mereka belum memutuskan pada tanggal berapa peringatan hari tersebut akan diadakan.

1911: Sebagai tindak lanjut dari keputusan yang telah diambil setahun lalu, Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali diperingati (pada 19 Maret) di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss. Lebih dari sejuta perempuan dan laki-laki bersama-sama turun ke jalan untuk merayakannya.

Selain hak untuk ikut serta dalam pemilu dan posisi di dalam pemerintahan, mereka menuntut hak bekerja, kesempatan memperoleh pelatihan, dan penghapusan diskriminasi gender dalam pekerjaan.

Kurang dari seminggu sejak peringatan tersebut, pada 25 Maret terjadi insiden tragis di New York, AS, yang menewaskan lebih dari 140 buruh perempuan yang kebanyakan adalah imigran asal Italia dan Yahudi.

Kejadian ini sangat mempengaruhi peraturan perburuhan di AS dan kondisi kerja yang menyebabkan insiden ini terjadi kemudian dikecam habis-habisan selama peringatan Hari Perempuan Internasional tahun berikutnya.

1913-1914: Sebagai bagian dari upaya perdamaian yang berkembang selama berlangsungnya Perang Dunia I, perempuan Rusia memperingati Hari Perempuan Internasional untuk pertama kali pada hari Minggu terakhir Februari 1913.

Di belahan Eropa lainnya, pada atau sekitar 8 Maret di tahun berikutnya, perempuan berunjuk rasa baik untuk memprotes perang maupun sebagai ungkapan solidaritas kepada saudara-saudara perempuan di manapun juga.

1917: Karena dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang, perempuan Rusia sekali lagi turun ke jalan pada hari Minggu terakhir di bulan Februari menyerukan ‘Roti dan Perdamaian’. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan.

Sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Raja Rusia Tsar Nicholas II turun tahta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu.

Hari bersejarah itu jatuh pada 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian (kalender Masehi yang juga kita gunakan).

Pada 1920, hampir tidak pernah lagi diperingati Hari Perempuan Internasional. Namun pada tahun 1975, melalui kepeloporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Hari Perempuan Internasional akhirnya diperingati kembali pada setiap tanggal 8 Maret.