Punya Bawahan Lebih Senior? Santai Saja!

Widiynews.com – Saat berhadapan dengan bawahan yang lebih senior, Anda mungkin merasa sungkan. Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila Anda bisa menerapkan komunikasi yang asertif.

Dunia kerja memang sudah berubah, kompetensi kini lebih dihargai ketimbang senioritas. Untuk menduduki posisi tertentu, Anda tidak perlu menunggu antrean. Bila Anda menduduki posisi tinggi dari para senior, tidak perlu merasa terintimidasi. Santai saja. Tiga resep ini akan menjadikan Anda pemimpin yang dihargai.

Hindari Berprasangka

Dalam berhubungan dengan orang lain, ktia kerap berprasangka atau melekatkan label pada seseorang, dari apa yang kita dengar dari orang lain. Padahal belum tentu terbukti kebenarannya. Dalam ilmu-ilmu sosial, kita juga mengenal istilah stereotip, yaitu menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan kelompok tertentu.

Dalam hal ini, stereotip yang kerap melekat pada kelompok senior adalah lebih tahu sehingga tak jarang yang sok tahu, cenderung menganggap sebelah mata pada orang lain yang dianggap tidak selevel dan hal menyebalkan lainnya. Stereotip memang tidak selamanya negatif. Tapi apapun yang bersifat prasangka, sebaiknya dihindari karena dapat berpotensi merusak hubungan.

Misalnya, rumor yang beredar, senior A terkenal susah diajak bicara, mau menang sendiri atau label negatif lainnya. Anggaplah informasi ini sebagai gambaran sehingga Anda bisa menyiapkan cara yang efektif untuk berhubungan dengannya.  Tapi ketika berinteraksi dengannya, buang jauh-jauh prasangka negatif itu. Bersikaplah terbuka dan nikmati pengalaman Anda dalam berhadapatn dengannya.

Bisa saja apa yang dikatakan orang lain tentang sikap mau menang sendiri muncul karena kecenderungannya untuk bersikap kritis dan argumentatif. Bila Anda bisa melihatnya sebagai hal yang positif, Anda bisa menyalurkannya sebagai aset yang berguna bagi tim Anda.

Komunikasi Asertif

Sebagai atasan, tugas Anda salah satunya adalah mengelola tim dengan baik sehingga bisa mencapai target yang ditetapkan perusahaan. Anda perlu memastikan bahwa semua anggota tim berkontribusi secara positif, bukan malah menghambat team work. Kunci keberhasilan Anda akan sangat ditentukan oleh kepiawaian Anda menjalin hubungan dan berkomunikasi, termasuk kepada bawahan.

Saat berhadapan dengan bawahan yang lebih senior, Anda mungkin merasa sungkan. Hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi bila Ada bisa menerapkan komunikasi yang asertif. Dalam berkomunikasi, sampaikan dengan jelas dan tegas maksud Anda. Perlu diingat, tegas bukan berarti galak, keras atau kaku ya. Maksudnya, komunikasi dilakukan secara positif, tidak merendahkan diri sendiri tetapi juga tidak meremehkan atau menyerang lawan bicara.

Contoh kasus, suatu ketika Anda mendengar keluhan dari tim bahwa “si senior” menghambat kerja tim karena selalu telat mengirimkan laporan yang merupakan tanggung jawabnya. Anda ingin menegurnya mengenai isu keterlambatan ini, tapi sungkan. Sementara bila Anda mendiamkannya, Anda bakal dituding tidak fair terhadap anggota tim lainnya. Lebih dari itu, Anda tidak bisa disebut sebagai pemimpin yang baik karena membiarkan anggota tim Anda terus melakukan kesalahan.

Lalu, harus bagaimana? Sederhana saja sebetulnya. Anda bisa mengajaknya berbicara secara pribadi. Cari tahu apa yang terjadi yang menjadi penyebab terjadinya berulang-ulang. Apakah ia mengalami kendala dalam menyelesaikan tugasnya? Jangan-jangan ia memiliki hambatan tertentu namun malu mau mengungkapkannya karena merasa lebih senior.

Anda bisa sampaikan pesan Anda secara jelas tanpa menyerang egonya. Misalnya, “Saya paham bahwa dalam pekerjaan pasti menemui kendala. Tapi dengan pengalaman kerja dan skill yang Anda miliki, pasti Anda bisa mencari solusinya”.

Sekiranya ia membutuhkan bantuan, tawarkan jalan keluarnya. Sebagai pemimpin Anda dianggap peka terhadap persoalan bawahan dari berorientasi pada solusi. Itu akan membuatnya merasa aman dan bisa diandalkan.

Manfaatkan Jam Terbangnya

Senioritas menandakan bahwa sebagai karyawan, ia memiliki pengalaman atau jam kerja lebih lama daripada Anda di perusahaan atau lebih matang dari segi usia. Tapi bukan berarti lebih pintar atau lebih jagoan, kan? Faktanya, Anda adalah atasannya dan ia pasti memahami hal tersebut.

Jadi berhentilah merasa minder atau terintimidasi dengan predikat keseniorannya. Tak perlu menganggapnya pesaing atau pengawas yang siap menerkam Anda saat Anda lengah. Alih-alih menganggapnya pesaing, lebih baik Anda memanfaatkan pengalamannya dan kebijaksanaannya dalam bekerja.

Mintalah pandangan atau masukannya untuk hal-hal yang ia kuasai dengan baik, itu akan membuatnya merasa dihargai dan bukan tak mungkin ia bakal menjadi pendukung setia Anda.

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!