Takdir Profesional & Konsep Bahagia Dunia Akhirat

Jika Anda seorang sarjana baru dan diterima bekerja di 3 tempat sekaligus: perusahaan minyak multinasional, BUMN besar, dan yayasan sosial, mana yang akan Anda terima?

Hampir semua orang memilih tempat bekerja yang gajinya paling tinggi, benefitnya paling bagus, atau nama perusahaannya paling bonafid. Anda jugakah?

Lalu, mulailah rutinitas hari demi hari: berangkat subuh, bekerja seharian, dan pulang larut malam. Setahun. Sepuluh tahun. Berpuluh tahun. Kita mengejar karir. Tahun demi tahun. Menantang. Hingga karir menghabiskan seluruh waktu kita; bahkan hidup kita. Kita mengumpulkan uang. Tahun demi tahun. Mengasikkan. Hingga uang memikat hari kita, perhatian kita, waktu kita.

Begitu mengasikkannya mengejar karir. Begitu menggodanya uang. Mengisi hari-hari kita, mengusik mimpi kita. Hingga tak ada lagi hari tersisa. Hingga tak ada lagi mimpi lainnya. Hingga tak ada lagi waktu untuk keluarga, tetangga, dan orang tua. Hingga tak sempat lagi mengisi hari dengan hobi dan mengejar mimpi-mimpi terdalam kita. Uang dan karir merampasnya dari hidup kita.

Penjajah Belanda memang telah lama hengkang dari negeri kita. Jepang juga sudah tak lagi memaksa kita kerja paksa. Para pejuang negeri ini telah mengusirnya. Tapi kini uang dan karir datang menggantikannya. Menjajah pikiran kita. Merampas waktu dan hidup kita. Mengusir tetangga, keluarga, bahkan orang tua dari perhatian kita. Menghapus masjid dan rumah saudara dari daftar kunjungan rutin kita.

Itukah resiko orang kaya? Itukah takdir para professional? Mari berkaca pada Abu Bakar. Ia pebisnis ulung. Jutawan. Karir tertingginya sebagai khalifah, pemimpin negara. Tapi sebelum matahari terbit ia sudah melakukan 4 hal istimewa: tahajud untuk Tuhannya, mengunjungi orang sakit, bersedekah pada orang miskin, dan shalat subuh berjamaah di masjid.

Mari kita lihat Umar. Ia pengusaha kaya. Sekaligus penguasa imperium terbesar di dunia. Tapi obsesi hidupnya bukan mengumpulkan uang, melainkan berlomba mengalahkan Abu Bakar dalam jumlah sedekah. Padahal yang ia berikan bukan 2,5%, tapi 50% dari hartanya. Cita-cita terbesarnya bukan menaklukkan dunia dalam kekuasaannya, tapi meninggalkan dunia tanpa harta dan bertemu Tuhannya.

Doa mereka sama: “Ya Allah, cukup jadikan dunia dalam genggamanku, jangan letakkan ia dalam hatiku.” Mari belajar dari mereka agar makin lantang kita teriak: Merdeka! Mari keluar dari jebakan ‘takdir’ dalam pikiran kita agar hidup kita lebih punya makna.

Terkait

Lainnya:

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More