Widiynews
Berita Gaya Hidup Masa Kini

Hinaan dan Cacian yang Membawa Berkah…Bacalah Sejenak!

Hinaan yang Membawa Berkah Dalam Hidup

Tak selamanya hinaan dan cacian itu menyakitkan, jika kita bisa bersikap sabar dan ikhlas, mungkin itu bisa menjadi jalan keberkahan dalam hidup karena kebesaran hati kita menerimanya. Simak kisahnya dibawah ini.

Suatu hari, anak muda ini mengantar pesanan muatan berisi puluhan buku ke kantor berlantai 7 di suatu perguruan tinggi.

Saat ia berusaha memanggul buku-buku tersebut menuju lift kantor, datang seorang satpam yang berusia 50-an menghampirinya dan berkata:

“Lift ini untuk profesor dan dosen, lainnya tidak diperkenankan memakai lift ini, kau harus lewat tangga!”

Mendengar ucapan tersebut, anak muda berusaha memberikan penjelasan pada satpam itu. “Saya hanya ingin mengantar buku semobil ini ke kantor lantai 7, ini kan buku pesanan kampus ini !”

Hinaan dan Cacian yang Membawa Berkah…

Satpam perusahaan itu justru kembali berkata dengan nada tinggi. “Saya bilang tidak boleh ya tidak boleh, kau bukan profesor atau pun dosen, tidak boleh menggunakan lift ini!.

Terjadinya debat yang cukup lama diantara keduanya. Satpam tersebut tidak mau mengalah dan bersikeras bahwa sang anak muda itu tidak diperkenankan mengangkut buku semobil itu menggunakan lift.

Anak muda itu kemudian berfikir, bagaimana bisa mengangkut habis buku banyak itu ke lantai 7 dengan cepat jika tidak menggunakan lift. Jika menggunakan tangga, setidaknya ia harus bolak-balik 20 kali dan itu sangat melelahkan.

Karena tak tahan lagi, anak muda itu akhirnya memutuskan untuk menumpuk buku-buku itu ke sudut aula dan meninggalkan tumpukan buku itu disana..

Setelah itu, anak muda itu kembali ke perusahan tempat ia bekerja dan menjelaskan peristiwa yang terjadi padanya kepada atasan. Ia juga mengajukan surat pengunduran diri kepada bosnya.

Setelahnya ia pergi ke sebuah toko buku dan membeli bahan pelajaran sekolah SMU dan buku referensi. Sambil meneteskan air mata, ia bersumpah untuk bekerja lebih keras dan harus bisa luluh masuk ke perguruan tinggi.

“Saya tidak akan membiarkan orang melecehkan saya lagi” teriak sang pemuda didalam hatinya.

Selama 6 bulan menjelang ujian, anak muda itu belajar selama 14 jam setiap hari, sebab ia sadar waktunya sudah tidak banyak lagi, ia tidak bisa lagi mundur atau malas-malasan.

Dalam benaknya masih terbayang hinaan satpan yang tidak mengizinkannya memakai lift. Ia terus terbayang tindakan yang ia anggap sebagai diskriminasi tersebut. Ia terus memacu semangatnya, dan melipatkan gandakan kerja kerasnya.

Dua puluh tahun pun berlalu. Anak muda itu ternyata bisa lulus dan masuk ke salah satu lembaga ilmu kedokteran dan menjadi seorang dokter klinik.

Anak muda yang kini menjadi seorang dokter itu kemudian merenung sejenak. Saat itu, jika bukan karena satpam yang sengaja mempersulitnya, bagaimana mungkin ia menyeka air matanya dari hinaan itu, dan berdiri dengan berani melangkah hingga meraih kesuksesannya saat ini.

Kemudian dalam benak dokter muda itu berfikir, “Saya berhutang budi pada satpam yang dulu telah menghina dirinya”. Ia pun berusaha untuk mencari tahu keberadaan satpam yang telah membantu membuatnya menjadi orang sukses. Ia ingin membalas jasa satpam tua tersebut sebagai bentuk terima kasihnya selama ini.

Sumber: ceritamotivasiterupdate.blogspot.com

Baca Juga: Mari Belajar Ikhlas dari Kupu-Kupu

Berita Terkait
Loading...
loading...

Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More