Widiynews
Berita Gaya Hidup Masa Kini

Sekjen PDIP Sebut Prabowo Bodoh dan Lupa Sejarah!

Prabowo Subianto Disebut Bodoh oleh Sekjen PDIP

Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menilai Prabowo tidak belajar dari sejarah ketika melontarkan masalah ekonomi. Ia juga mengutarakan kebodohan Prabowo mulai dari kritik ekonomi hingga aspek elementer seperti kasus hoaks Ratna Sarumpaet.

Hal ini diutarakan menggapi pernyataan Prabowo yang menyebut sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kebodohan atau “economics stupidity”.

Hasto mengatakan, masalah ekonomi tidak bisa lepas dari sistem ekonomi elitis yang diadopsi oleh rezim Soeharti di masa lalu. Hal ini membuat keluarga Cendana dan kroni Soeharto yang paling diuntungkan.

“Sejarah mencatat, bahwa reformasi lahir karena koreksi atas sistem yang otoriter, dimana ekonomi kekuasaan saat itu hanya didominasi kroni Soeharto. Pak Prabowo seharusnya paham hal ini,” ujarnya di Jakarta, Jumat (12/10/2018).

Prabowo dianggap telah lupa akan sejarah yang pernah dialami era rezim Soeharto. Menurut, Hasto, pernyataan yang dilontarkan oleh Prabowo adalah sebuah kebodohan sebagai kampanye dan serangan terhadap rezim Jokowi.

“Serangan ekonomi (adalah) kebodohan, Pak Prabowo semakin menunjukkan bahwa Beliau pura-pura lupa dengan sejarah, lalu menimpakan hal tersebut sebagai kesalahan Presiden Jokowi,” lanjutnya.

Hasto pun kembali mengingatkan Prabowo bahwa saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998, kedaulatan negara digadaikan lewat Letter of Intent IMF. Hasto berharap Prabowo tidak lupa hal itu sebelum mengeluarkan argumentasi.

“Ketika terjadi krisis, kedaulatan negara digadaikan melalui Letter of Intent IMF, dan Pak Prabowo memahami hal ini dan segala akibatnya tidak bisa cuci tangan,” ujar Hasto.

Ia juga menyinggung terkait kasus penyebaran berita bohong yang dilakukan oleh aktifis perempuan, Ratna Sarumpaet beberapa waktu lalu. Menurut Hasto, Prabowo terlalu percaya atas perkataan dan foto wajah lebam Ratna. Itu merupakan aspek elementer yang merupakan kebodohan Prabowo.

“Padahal dari aspek elementer saja, Pak Prabowo tidak bisa membedakan antara penganiayaan dan operasi atau mark-up wajah. Inilah contoh dari kebodohan itu sendiri. Capres negarawan seharusnya menyampaikan narasi positif untuk Indonesia Raya,” pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto mengatakan, sistem ekonomi yang berjalan sudah lebih parah dari paham neoliberalisme yang dianut oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini ia sampaikan dalam pidato di Rakernas (Rapat Kerja Nasional) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

“Ini menurut saya bukan ekonomi neoliberal lagi. Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity. Ini yang terjadi,” ujar Prabowo, di pondok pesantren Minhajurrosidin, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Menurut Prabowo, indikatornya dapat ditarik pada rentang 1997 hingga 2014. Kekayaan Indonesia yang hilang atau dinikmati oleh pihak asing menurut Prabowo mencapai US$300 miliar.

“Dengan tidak adanya cadangan kekayaan di dalam negeri tidak mungkin indonesia bisa menjadi negara yang sejahtera,” tutup Prabowo.

Sumber: Rimanews

Berita Terkait
Loading...
loading...

Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More