Indahnya Menangis karena Allah

PARADIGMA umum memandang bahwa wanita identik dengan menangis. Ya, karena memang wanita dianugrahi Allah perasaan yang lembut dan mudah tersentuh. Seberapa seringkah Anda menangis? Karena apa Anda menangis? Karena bersedih, karena ditinggal orang yang disayangi, karena ditimpa musibah.

Baca juga: 5 Keutamaan Menangis karena Takut Allah

Maka, saya bertanya kepada Anda seberapa seringkah Anda menangis di hadapan Allah karena teringat akan dosa yang pernah Anda lakukan? Seberapa seringkah Anda menangis karena takut kepada-Nya?

Allah berfirman, yang artinya,

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”. (Qs. Al-Maidah: 83)

Anas bin Malik berkata, “Rasulullah berkhutbah kepada kami, sama sekali aku belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu sebelumnya. Rasulullah bersabda, “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, sungguh kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika para sahabat bermajelis bersama Rasulullah mendengarkan wasiat-wasiat beliau, para sahabat merasakan seolah-olah seakan-akan bumi berhenti berputar. Seolah-olah hanya ada mereka bersama Rasulullah. Mereka melupakan harta dunia yang dimilikinya, melupakan anak dan istri di rumah. Hati mereka tertuju pada wasiat Rasulullah yang agung. Kata-kata dari lisan Rasulullah membasuh jiwa mereka sehingga jiwa mereka menjadi tenang.

Syaikh Al-Mubarakfury berkata dalam kitabnya Rahiqul Makhtum, “Wasiat-wasiat Rasulullah tentang akhirat mampu mengucurkan air mata pada sahabat. Inilah kekuatan kalam Rasul. Seorang sahabat, Abu Najih Al ‘Irbad bin Sariyah berkata, ‘Rasulullah memberi kami wasiat yang membuat hati kami bergetar dan mata kami menangis.’”

Baca juga: Hinaan dan Cacian yang Membawa Berkah…Bacalah Sejenak!

Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang mudah menangis karena takut kepada Allah. Begitu juga generasi setelah mereka. Mereka senantiasa mengingat dan menyadari betapa kecil dan lemahnya diri mereka di hadapan Allah yang Maha Perkasa.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya Bahr Al-Dumu’,

  • “Wahai tawanan dunia, wahai budak nafsu, wahai sarang dosa, wahai wadah bencana, ingatlah apa yang telah kau perbuat dan takutlah kepada Tuhan!”
  • “Wahai saudaraku, sampai kapankah engkau menunda amal, larut dalam angan, terlena oleh kelapangan, dan lalai akan serangan ajal?”
  • “Wahai saudaraku, engkau telah menghabiskan usiamu dalam permainan. Orang lain berhasil meraih tujuan, sementara engkau malah semakin jauh. Orang lain bersungguh-sungguh, sementara engkau dalam lembah syahwat. Kapankah engkau akan sadar dan bertobat? Bilakah engkau keluar dari kubangan hawa nafsu dan kembali menuju Tuhan Yang Mahamulia dan Maha Terpuji?”
  • “Wahai saudaraku, cucilah noda dosa dengan linangan air mata.”

Ibnul Jauzi dikenal sebagai seorang ulama yang berpikir spontan, berperangai baik, dan selalu memberikan jawaban yang tepat setiap dihadapkan pada pertanyaan yang menyulitkan.

Baca juga: Inilah Manusia Paling Lemah Menurut Nabi Muhammad SAW

Ibnul Jauzi adalah ahli nasehat. Kata-katanya lembut, menggugah semangat yang tertidur, mengingatkan hati yang lalai, dan mencairkan hati yang membatu. Ibnul Jauzi menyampaikan nasehat-nasehatnya dengan spontanitas.

Ia menyampaikan nasehat dengan diselingi sejumlah ayat Al-Quran sampai banyak orang yang mengucurkan air mata. Dalam benak mereka yang hadir dalam majelis Ibnul Jauzi, tersimpan kerinduan untuk selalu mendengarkan nasehat-nasehatnya. Karena dengan nasehatnya, banyak orang yang teringat akan dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah.

Dalam salah satu majelisnya Ibnul Jauzi melantunkan bait-bati syair mengenai rasa cinta kepada Allah yang sangat merasuk ke dalam jiwa, serta lembut nan indah. Bait-bait syair tersebut mampu menyalakan api cinta dalam hati. Di antara bait-bait syair itu adalah:

Di manakah hatiku yang dipenuhi gejolak cinta
Di manakah hatiku
Tiadalah ia akan sadar sesudahnya
Duhai Pemberi Harapan
Tambahkan daku rasa cinta
Dengan dzikir mereka kepada Allah
Maka aku akan menebusnya

Baca juga: Hidup Itu Proses, Maka Bersabarlah…..

Ia terus-menerus melantunkan bait-bait syairnya. Derai tangisan nyaris menutup pintu ucapan orang-orang yang hadir. Hingga akhirnya ia pun beranjak turun dari mimbar. Hati mereka yang hadir dipenuhi rasa takut kepada Allah. Mereka membakar jiwa mereka dengan air mata yang berderai. (Al-Qushshashu wal Mudzakkirin)[]

Sumber: ARTIKELMUSLIMAH

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!