Komentar Suryo Prabowo dan Aktivis HAM Soal Video Viral Agum Gumelar

JAKARTA-Purnawirawan Agum Gumelar memberikan keterangan soal detail penculikan 1998 yang videonya viral di media sosial.

Seperti yang diunggah oleh akun penggiat sosial media, Ulin Ni’am Yusron di Facebook, Minggu (10/3/2019).

Dalam video berdurasi 9 menit itu, memperlihatkan Agum Gumelar yang memakai baju putih tampak menceritakan kisahnya yang menjadi anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) di tahun 1998.

Dilansir oleh bbc.com, selain Agum Gumelar, nama lain yang menjadi anggota DKP yakni Subagyo Hadi Siswoyo, Djamari Chaniago, Fachrul, Yusuf Kartanegara, Arie J. Kumaat, dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Lalu, Agum juga bercerita soal DKP yang turut memeriksa Letjen Prabowo Subianto di tahun 1998 yang kini menjadi Ketua Umum Partai Gerindra.

“Anggota DKP tugasnya memeriksa kasus pelanggar HAM, berjalanlah DKP memeriksa satu bulan lebih, memeriksa yang namanya Prabowo Subianto,” ujar Agum Gumelar dalam video.

“Dari hasil pemeriksaan mendalam di dapat fakta, bukti yang nyata bahwa dia telah melakukan pelanggaran HAM berat.”

“Saya di samping anggota DKP, Tim Mawar (berisikan Prabowo) yang melakukan itu anak buah saya semua dong, saya melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan mereka, di luar kerjaan DKP karena dia bekas anak buah saya,” tambah Agum Gumelar.

Agum Gumelar lalu mengatakan dirinya mengetahui lokasi tempat pembuangan jasad orang yang diculik tersebut.

“Di sinilah saya tahu matinya orang-orang itu, di mana di buangnya saya tahu betul,” kata Agum lagi.

Atas viralnya video tersebut, mantan Kepala Staf Umum TNI Purnawirawan Suryo Prabowo dan Haris Azhar selaku aktivis HAM memberikan komentar.

Melalui Twitter @marierteman, Suryo Prabowo menganggap tudingan pada Prabowo itu termasuk fitnah.

Dikarenakan, Agum tak bisa memberikan bukti atas tudingan itu.

““….. saya tahu bagaimana matinya orang-orang (yg diculik) itu, di mana dibuangnya. Saya tahu,” Kata Agum Gumelar.

Tanpa menunjukkan fakta dan bukti, ini bisa masuk kategori pencemaran nama baik dan fitnah pada Prabowo.

Ayo buktikan pak!,” tulis Suryo Prabowo, Selasa (12/3/2019).

Sementara Haris Azhar, justru mempertanyakan pernyataan Agum Gumelar yang mengatakan dirinya mengetahui lokasi korban penghilangan dan tak melapor ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Haris juga menganggap pernyataan Agum Gumelar itu merupakan pernyataan musiman yang hadir jelang pemilihan.

“Agum Gumelar bicara lagi soal Prabowo.

Katanya tahu dimana korban penghilangan orang. Lah kok tidak kasih tahu Presiden? knp tdk minta dicari? kenapa baru bicara skrg?.

Hampir mirip 2014, Agum, Wiranto, ‘buka’ catatan jelang nyoblos. Habis itu gelap,” tulis Haris Azhar.

Sebelumnya, partai binaan Prabowo, Gerindra juga meminta Prabowo untuk mengusut korban penculikan dan tak terus mengaitkan dengan nama Prabowo.

Loading...

Gerindra meminta Presiden Jokowi untuk mengusut dalang pelanggaran HAM yang menghilangkan sejumlah aktivis.

Partai binaan Prabowo itu juga merasa gerah jika ketua umumnya selalu dikaitkan dengan isu penculikan setiap maju ke kontestasi pemilihan presiden (pilpres).

“Pak Presiden @jokowi, ini ada yang tahu mengetahui siapa dalang pelanggar HAM yang ‘menghilangkan’ aktivis, dan di mana jasad para aktivis tersebut.

Mungkin bisa ditindaklanjuti agar kasus ini segera selesai dan tidak berlarut-larut terus menerus,” tulis Gerindra.

Kicauan dari partai berlogo Garuda itu lalu mendapatkan komentar dari netizen @Ghozylcal.

Netizen itu bertanya soal jasad korban penculikan yang disebutkan telah ditemukan di mana lokasinya.

“Penasaraan kelanjutannya, aplg sdh blg tahu jasadnya dmn..,jgn cuma blg tahu aja pak..bongkar klw mmg benar tahu jasadnya dimana,” kata netizen @Ghozylcl.

Gerindra kembali menanggapi jika memang benar jasad korban penculikan telah diketahui, maka seharusnya dikembalikan ke pihak keluarga.

“Jika memang ia mengetahui di mana jasadnya, harusnya dibuka saja dari dulu. Agar pihak keluarga mengetahuinya. Jangan cuma dijadikan ‘dagangan’ setiap 5 tahun sekali,” jawab Gerindra.

Diberitakan bbc.com pada Minggu (10/3/2019), Prabowo sering memberikan jawaban terkait isu penculikan yang dikaitkan dengan dirinya.

Dilansir oleh majalah Panji di tahun 1998, Prabowo mengatakan dirinya memiliki daftar nama aktivis yang dianggap berpotensi menganggu keamanan.

“Tapi bahwa mungkin mereka salah menafsirkan, terlalu antusias, sehingga menjabarkan perintah saya begitu, ya bisa saja. Atau ada titipan perintah dari yang lain, saya tidak tahu. Intinya, saya mengaku bertanggung jawab,” kata Prabowo.

Terkaik kasus itu, Prabowo juga telah diperiksa oleh tim yang deikenal dengan Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang berisikan jendral-jendral senior.

Setelah melalukan pemeriksaan, DKP memutuskan untuk memberhentikan Prabowo dari dinas militer.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade juga pernah menceritakan soal isu yang kerap menerpa Prabowo itu.

Andre menjelaskan bahwa sejumlah personel Tim Mawar Kopassus telah usai berurusan dengan Mahkamah Militer.

Saat itu Tim Mawar Kopassus dianggap berada di balik 8 aktivis.

Beberapa dari Tim Mawar telah diadili dan dinyatakan bersalah hingga divonis hukuman penjara.

Beberapa aktivis juga telah dibebaskan dan bahkan satu di antaranya bergabung dengan Partai Gerindra.

“Pak Prabowo sudah mempertanggungjawabkan itu. Dari delapan aktivis itu, beberapa bahkan jadi anggota DPR dari Gerindra. Kalau mereka merasa diculik oleh Pak Prabowo, tidak akan mau bergabung dengan Partai Gerindra, ya kan?” papar Andre.

Sementara jumlah lainnya, Andre meminta untuk ditanyakan pada Wiranto yang saat ini menjabat Menkopolhukam.

“Nah, korban yang lain, tanyakan ke Panglima ABRI waktu itu, Jenderal Wiranto,” tambahnya.[]

Sumber: TRIBUNNEWS

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!