Saksi Mata Ini Ungkap Bagaimana Ngerinya Aksi Brutal Terorisme di Masjid

WIDIYNEWS – Penembakan massal terjadi di dua masjid kota Christchurch, Selandia Baru, ketika pelaksanaan salat Jumat. Saksi mata menggambarkan kengerian saat peristiwa yang membunuh puluhan jemaah itu terjadi.

Diberitakan media setempat, Stuff, saksi mata di Masjid Al Noor, Deans Ave, Ahmad Al-Mahmoud, 37, mengatakan pelaku adalah pria kulit putih, pirang, mengenakan helm dan rompi anti peluru.

BACA JUGA: PBNU Mengutuk Keras Berbagai Tindakan Terorisme

Pelaku, kata Mahmoud, melepaskan puluhan hingga ratusan tembakan sekitar 10 menit setelah jemaah memulai salat Jumat sekitar pukul 13.30. Kondisi panik setelah itu, dengan korban bergelimpangan.

Seorang saksi, pria keturunan Palestina, di masjid tersebut kepada AFP mengaku melihat seorang jemaah meninggal setelah tertembak di kepalanya.

“Saya mendengar tiga kali tembakan cepat, setelah 10 detik, tembakan dimulai lagi. Itu pasti senapan otomatis, tidak ada yang bisa menarik pelatuk secepat itu,” kata jemaah yang tidak ingin disebut namanya ini.

“Lalu orang berlarian. Beberapa bersimbah darah,” lanjut dia.

Saksi lainnya kepada media Stuff mengaku tengah salat Jumat di masjid itu ketika mendengar tembakan. Dia dan jemaah lain langsung berlarian keluar masjid.

Nahas, di luar dia melihat istrinya tergeletak di trotoar luar masjid, meninggal tertembak.

Saksi lainnya mengaku melihat anak-anak turut menjadi korban. “Tubuh-tubuh manusia di sekitar saya,” kata dia.

Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan seorang pelaku berhasil tertangkap. Namun diduga ada pelaku lainnya dalam peristiwa itu.

Kepolisian meminta masyarakat Muslim untuk tidak ke masjid dulu dan warga untuk tetap di dalam rumah.

BACA JUGA: Ini Dua WNI yang Jadi Korban Aksi Brutal Terorisme di Masjid Christchurch, Selandia Baru

Penembakan massal jarang terjadi di Selandia Baru. Negara ini memperketat kepemilikan senjata api jenis semi-otomatis pada 1992. Peraturan itu dibuat setelah seorang pria gila menembak mati 13 orang di kota Aramoana.

Namun semua warga berusia di atas 16 tahun bisa mengajukan kepemilikan senjata api setelah mengambil kursus keamanan.[]

Sumber: KUMPARAN

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!