KH Ma’ruf Amin, Bukan Sekedar Berburu Jabatan

JAKARTA-KH. Ma’ruf Amin menjadi cawapres bukan sekedar memburu jabatan. Ada obsesi dan perjuangan yang lebih besar untuk kemaslahatan publik. Buat KMA yang sudah berusia 75 tahun dan menduduki berbagai posisi dan peran di kenegaraan dan kemasyarakatan, obsesi jabatan terlalu sederhana.

Semua amanat yang diterima, dijalankan sepenuh jiwa. Saat menjadi Ketua Dewan Syuro PKB, ia hanya mendapat posisi Ketua Komisi VI di DPR, padahal banyak pihak memandangnya layak masuk kabinet, pimpinan DPR, atau MPR. Tapi, Kiai Ma’aruf menerima keadaan itu dengan terus bekerja secara profesional, sesuai porsi yang dipercayakan.

Rekam jejak KMA memperlihatkan, dirinya bukanlah sosok yang haus jabatan. Perjalanan karirnya di banyak bidang, KMA menjalankan melalui proses berjenjang dari bawah ke atas, secara sabar. Ia tak punya rekam jejak merebut jabatan dari atasan atau mengkhianati kesepakatan.

Saat menjadi Waketum MUI, dan atasannya lebih muda, Prof. Din Syamsuddin, KMA menjalaninya secara profesional dengan menghormati Ketum yang sah, meski selama bertahun-tahun KMA bekerja seolah sebagai Ketum de facto.

Begitupun gaya berorganisasai KMA di PBNU; berproses dari bawah dan tahu diri. Sampai akhirnya, ia mendapat kepercayaan sebagai pemimpin tertinggi di MUI dan NU.

Loading...

Berpasangan dengan Jokowi

Berpasangan dengan sang petahana, Joko Widodo (Jokowi), Kiai Ma’ruf juga tahu diri. Dalam debat pertama pilpres, KMA memberi porsi lebih leluasa pada capres Jokowi untuk berekspresi dan improvisasi.

Kiai Ma’ruf mau bicara pada bidang yang dipercayakan. Meskipun Jokowi lebih muda dan beberapa kali mencium tangan KMA saat salaman.

Menjadi wapres, bisa jadi, inilah momentum KMA untuk mewujudkan obsesi kebangkitan ulama ketiga. Bukan sekedar buat gagah-gagahan ulama menjadi pemimpin politik nasional, tapi memberi ruh keagamaan dalam pengambilan keputusan politik strategis. Termasuk mewujudkan konsep arus baru ekonomi Indonesia. Muaranya, demi kemaslahatan umat.

Penulis: Asrori S Karni (Penulis Biografi KH. Ma’ruf Amin. Jurnalis Senior. Mengajar di UNUSIA Jakarta dan UIN Jakarta/Koran Cahaya Indonesia)

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!