Ibu, Air Matamu Lambang Harapan dan Doa….

Tak ada cinta yang dapat menandingi cinta ibu kepada anaknya. Dan itu pasti, tidak bisa dipungkiri sepasti harapan bahagia yang dirasakan oleh anak-anaknya, sepasti harapan kesehatan anak-anaknya, sepasti harapan keselamatan anak-anaknya.

Tanpa diketahui, air mata ibu berlinang dalam tidur lelahnya hanya memikirkan nasibmu. Saat makan, linangan air mata ibu mengalir bercampur makanan. Ibu tak lahap makan sebab hatinya sakit oleh kata-katamu.

BACA: Wanita Ini Menyesal Seumur Hidup Karena Melakukan Ini Pada Ibu Kandungnya

Dalam doa ibu, air matanya berlinang mengenang masa-masa kecilmu bercampur harap-harap cemas akan masa depanmu.

Doa ibu adalah doa yang dipandang sebagai doa makbul. Rosulullah Muhammad SAW telah bersabda:

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi (kemakbulannya), yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang didzalimi,” (HR. Abu Daud).

Dikisahkan dalam situs Islampos bahwa as-Sudais dikenal sebagai anak yang nakal. Ulahnya sering membuat jengkel ibunya. Suatu saat as-Sudais sedang asyik bermain tanah, dan sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah.

Sebelum para tamu datang untuk menyantap makanan, tiba-tiba as-Sudais masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang terjsaji. Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, beliau langsung marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaman lilharamain,” artinya “Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!

Do’a sang ibu itu ternyata dikabulkan oleh Allah SWT. Saat ini Abdurrahman as-Sudais menjadi Imam MAsjidil Haram yang dikenal oleh kaum muslimain di seluruh dunia.

Loading...

Bayangkan, ibunda Sudais geram kepada anaknya, akan tetapi ia mencoba untuk menahan diri dari perkataan buruk, ia mendoakan bukan menghujatnya dan memarahinya dengan kata-kata kasar.

Ibunda as-Sudais menjadi contoh bahwa seorang ibu hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya meskipun dalam kondisi emosi. Rosulullah Muhammad SAW bersabda:

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah SWT mengabulkan doa kalian…” (HR. Abu Daud).

Dalam kisah lain, Ummu Habibah, sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:

“Ya Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkanku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rosul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu, permudahkanlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”

BACA: Kasih Ibu Sepanjang Jalan dan Tak Akan Pernah Terlupakan!

Doa Ummu Habibah ternyata tidak sia-sia, Muhammad bin Idris nama anaknya itu, tumbuh menjadi ulama besar. Ia yang memiliki nama besar Imam Syafi’i. Sejak usia 7 tahun ia hafal Al-Qur’an dan hafal kitab Al-Muwatha’ karangan Imam Malik di usia 9 tahun.

Lain ibu lain anak, sang ibu selalu mendoakan anaknya sepanjang kondisi dan waktu. Tetapi sang anak hanya mendoakan ibunya sepanjang ia ingat dan ada mau. Ketika anak sakit separah apapun, ibu akan tetap mendoakan semoga anaknya diselamatkan dan dipanjangkan umur. Tetapi ketika ibunya sakit si anak berdoa agar segera diambil oleh Allat SWT karena dianggap sudah tidak tahan melihat penderitaan.

Sumber: Buku Lepas dari Lapas Hidup

Terkait

Loading...
Berita Terkait

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More