Kisah Seorang Pembunuh yang Bertobat, dari Sampah Masyarakat hingga Masuk Surga

0
Kisah Seorang Pembunuh yang Bertobat, dari Sampah Masyarakat hingga Masuk Surga

Seorang pembunuh yang kejam telah menghabisi nyawa sembilan puluh orang. Ia merasa sangat menyesal. Ia mendatangi seorang alim dan bercerita tentang masa lalunya yang kelabu itu. Ia mengutarakan maksudnya untuk bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik.

Dalam kisah teladan disebutkan tentang sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikisahkan bahwa dahulu ada seorang lelaki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Lelaki ini telah berlumuran daraj, jari jemarinya, pakaiannya, tangan dan pedangnya semuanya basah oleh darah.

Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah jiwa yang diharamkan oleh Allah SWT. Membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari kesalahannya.

Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari jemarinya belepotan darah juga. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, gelisah, ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, “Apakah aku masi bisa diampuni?”

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Orang-orang berkata, “Kami akan menujukkanmu seorang rahib yang tinggal di kuilnya, maka sebaikya kamu pergi ke sana dan tanyakanlah kepadanya apakah kamu masih bisa diampuni,”.

Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memberi fatwa dalam masalah ini, kecuali hanya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah SWT. Ia ppun pergi ke sana, ke tempat rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israil.

Dia pergi melangkah dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Lalu ia mengetuk pintu kuil tersebut. Lelaki pembunuh itu masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran darah segar, membuat si rahib kaget bukan kepalang.

Si rahib itu berkata, “Aku berlindung kepada Allah SWT dari kejahatanmu,” si penjahat itu bertanya, “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertobat?” Rahib spontan menjawab, “Tiada tobat bagimu,”.

Akhirnya si pembunuh ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya, dunia ini terasa gelap, kehendak dan tekadnya melemah, dan keindahan yang terlihat di matanya menjadi buruk. Si pembunuh ini akhirnya mengangkat pedangnya dan membunuh rahib itu sebagai balasan yang setimpal untuknya guna menggenapkan 100 orang yang telah dibunuhnya.

Selanjutnya ia keluar menemui orang-orang guna menanyakan lagi kepada mereka. Bukan karena alasan apa, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya serta menghadap kepada-Nya.

Ia bertanya kepada mereka, “Masih adakah halan untuk bertobat bagiku?” mereka menjawab “Kami kan menunjukkanmu kepada Fulan bin Fulan, seorang ulama, bukan seorang rahib, yang ahli tentang hukum Tuhan,”

Pembunuh itu ditunjukkan ke tempat seorang alim, akhirnya ia pergi menemui orang itu yang pada saat itu berada di majelisnya sedang mengajar. Begitu meliatnya ia langsung menyambutnya dengan hangat dan mempersilahkan duduk di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya.

Loading...

Ia bertanya, “Ada keperluan apa Anda datang kesini?” ia menjawab, “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, apakah ada jalan bagiku untuk bertobat?”

Orang alim itu bertanya “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan tobat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan tobat? Pintu Allah SWT terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, bergembiralah dengan perkenan dari-Nya, dan bergembiralah dengan tobat yang mulus,”

Singkat cerita, sang alim tersebut memberikan saran agar si pembunuh meninggalkan kampung tempat tinggalnya karena ia tinggal di kampung yang penuh orang jahat. Sang pembunuh itu kemudian pergi meninggalkan kampung itu dan pergi ke tempat yang ditunjuk oleh orang alim terakhir sambil menangis dan menangis menyesali semua perbuatannya.

Dari satu kampung ke kampung lain telah dilewatinya dan semakin dekat dengan tempat yang dituju. Belum sampai pada tempat yang dituju, sang pembunuh meninggal dunia di tengah perjalanan.

Malaikat penjaga neraka dan malaikat penjaga surga, sama-sama datang untuk menjemput ruhnya. Malik berkata bahwa orang itu adalah pendosa besar dan tempatnya di neraka jahannam. Tetapi Ridwan juga mengklaim bahwa orang itu layak masuk surga.

Kedua malaikat inipun berdebat. Jibril datang untuk menyelesaikan masalah ini. Setelah mendengar pernyataan dari kedua malaikat, Jibril memutuskan “Ukur jaraknya. Jika tanah tempat mayatnya berada lebih dekat kepada orang-orang yang saleh, maka ia masuk surga. Namun jika letaknya lebih dekat kepada orang-orang jahat, ia harus masuk neraka,”

Karena bekas pembunuh itu baru saja meninggalkan tempat orang jahat, ia masih terletak dekat sekali dengan mereka. Tetapi karena ia bertobat dengan amat tulus, Tuhan memindahkan tubuhnya dari tempat ia meninggal ke dekat perkampungan orang saleh. Dan hamba yang bertobat itu pun diserahkan ke dekapan malaikat penjaga surga.

Hikmah Cerita

Tak perlu berkecil hati jikalau di cap sebagai sampah masyarakat, sesuatu yang menjijikkan dan tidak bernilai guna, selama mau belajar lepad dari kondisi tak menentu untuk mengenali diri bahwa diri ini adalah anugerah ilahi yang hadur sidselamatkan dari perilaku-perilaku yang tak terpuji dengan banyak belajar kepada pengalaman diri, pengalaman orang lain, pahit getirnya hidup masa lalu, agar jangan terus menerus dijadikan benalu atau parasit, bersegeralah keluar dari jeratan tersebut.

Kembali kepada yang diatas Allah SWT untuk bertobat jangan berkecil hati dengan kesalahan yang telah diperbuat. Allah SWT Sang Maha Pengampun, bila kita bertobat tidak ada dosa yang besar sekalipun yang tidak diampuni-Nya dengan ampunan yang Mahaluas.

Jangan selalu meninggi, merendahlah kepada-Nya. Bahwa kita diciptakan bukan untuk membuat onar, tapi menjadikan orang-orang dekat tercinta kita itu matanya berbinar bangga. Hatinya bersinar bahagia.[]

Sumber: Buku Lepas dari Lapas Hidup

Dapatkan konten-konten Islami yang mencerahkan baru dari Widiynews. Jangan lupa BAGIKAN artikel ini di media sosial dan kunjungi situs kami setiap hari.

Terkait

Loading...