Now Reading
Bagaimana Suara Nabi Muhammad SAW?

Bagaimana Suara Nabi Muhammad SAW?

Bagaimana Suara Nabi Muhammad SAW?

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Suara Nabi Muhammad SAW sangat indah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits. Sahabat Anas RA mengatakan:

مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيّاً إِلَّا حَسَنَ الْوَجْهِ، حَسَنَ الصَّوْتِ، وَكَاَن نَبِيُّكُمْ أَحْسَنَهُمْ وَجْهاً، وَأَحْسَنَهُمْ صَوْتاً.

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali tampan parasnya bagus suaranya. Dan Nabi kalian adalah yang paling tampan parasnya dan paling indah suaranya. (HR Turmudzi dalam Syamail)

Keindahan rupa dan suara Nabi SAW menunjukkan indahnya batin beliau SAW. Sebab zahir adalah tanda batin. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi SAW lebih tampan dari Nabi Yusuf AS dan lebih indah suaranya dari Nabi Dawud AS.

Mengenai suara beliau yang indah, Sahabat Baro mengatakan:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ فِي الْعِشَاءِ وَمَا سَمِعْتُ أَحَدًا أَحْسَنَ صَوْتًا مِنْهُ أَوْ قِرَاءَةً

Aku mendengar Nabi SAW membaca Surat at Tin di dalam Shalat Isya. Dan aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih indah suaranya dari Beliau. (HR Bukhari-Muslim)

Suara Nabi SAW keras sehingga dapat menjangkau apa yang tidak dapat dijangkau suara orang lain. Sahabat Baro RA mengatakan:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَسْمَعَ الْعَوَاتِقَ فِي خُدُورِهِنّ.

Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami sampai-sampai para gadis pingitan dapat mendengarnya di dalam pingitan mereka. (HR Baihaq dalam Dalail)

Gadis pingitan adalah wanita di awal masa kedewasaannya, yang ia belum lepas dari kedua orang tuanya dan belum menikah. Dikhususkan disebutkan di sini sebab biasanya gadis ini sangat jauh di dalam rumah dalam pingitan mereka. Mendengarnya mereka atas khutbah Nabi SAW adalah tanda tingginya suara nabi sehingga dapat didengar oleh mereka.

Loading...

Sayidah Aisyah RA juga mengatakan:

أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ ، فَلَمَّا جَلَسَ قَالَ : « اجْلِسُوا » ، فَسَمِعَ عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ قَوْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « اجْلِسُوا » ، فَجَلَسَ فِي بَنِي غَنْمٍ

Pernah Nabi SAW duduk di atas mimbar pada Hari Jumat. Ketika duduk beliau mengatakan kepada yang hadir, “Duduklah kalian.” Suaranya itu terdengar oleh Abdullah bin Rowahah yang berada di Bani Ghanm, dan ia pun duduk ketika mendengarnya. (HR Thabrani)

Abdurahman bin Muadz at Taimiy RA mengatakan:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى فَفَتَحَ اللَّهُ أَسْمَاعَنَا حَتَّى إِنْ كُنَّا لَنَسْمَعُ مَا يَقُولُ وَنَحْنُ فِي مَنَازِلِنَا

See Also
Romantisnya Baginda Rosulullah SAW

Rasulllah SAW berkhutbah kepada kami di Mina. Maka Allah membuka pendengaran kami sehingga kami dapat mendengar ucapannya padahal kami berada di rumah-rumah kami. (HR an Nasai)

Ummu Hani Ra juga mengatakan:

أَنَا أَسْمَعُ قِرَاءَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَنَا عَلَى عَرِيشِي هَذَا وَهُوَ عِنْدَ الْكَعْبَةِ

Aku mendengar suara qiroah Nabi SAW di tengah malam, padahal aku berada di atas pembaringanku sedangkan beliau berada di sisi Kakbah. (HR Ahmad)

Nabi SAW juga dikenal keras dalam berkhutbah. Sahabat Jabir RA mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ

Jika Rasulullah SAW berkhutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya meninggi dan Nampak keras kemarahannya sehingga seakan beliau adalah panglima perang yang memperingatkan kepada pasukannya, “Di pagi hari musuh akan menyerang kalian” atau “di sore hari musuh akan menyerang kalian.” (HR Muslim)

Qodhi Iyadh mengatakan dalam as Syifa:

Yang dimaksud kerasnya kemarahan beliau adalah bahwa sifatnya ketika itu seperti sifat seorang yang marah. Itulah keadaan orang yang memperingatkan dan memberikan ancaman. Dimungkinkan itu adalah ketika Beliau melarang apa yang bertentangan dengan syariat, karena demkianlah sikap orang yang memberi nasihat hendaknya sikapnya sesuai dengan apa isi nasihatnya. Imam Nawawi mengatakan, atau itu ketika beliau memperingatkan suatu urusan yang besar.[]

Sumber: Group whatsapp berbagi ilmu Islam

Terkait

Loading...

© 2016 Widiynews Web Media. All Rights Reserved.

Scroll To Top