Mengapa Rosulullah Menggambarkan Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu?

Sungguh ibu wanita sejati yang menjadikan setiap hidup dan kehidupan anak manusia terasa berarti meskipun berujung pada sikap anak yang tak mau balas budi. Pengorbanan ibu tak sebanding bila materi menjadi permbanding.

BACA: Ibu, Air Matamu Lambang Harapan dan Doa…..

Loading...

Ibulah yang gigih bertarung membentung kebahagiaannya hanya sekedar memberikan kebahagiaan buah hatinya. Ibu menjual apa saja yang dimiliki dari perhiasan, sawah bahkan mas kawin agar anaknya bisa sekolah.

Ibu tak malu berutang sekadar membeli motor, ponsel, uang jajan demi anaknya bisa bersenang-senang. Ibu rela menahan rasa lapar dengan berpuasa, menabung bahkan mempersiapkan untuk biaya nikah anaknya beranjak dewasa namun saat tiba hari pernikahan ibu sudah tiada.

Ibu tetaplah sosok yang didamba menghias gelora juang anak-anaknya dalam meraih cita dan cinta teriring doa darinya, wanita keramat di dunia. Rosulullah SAW bersabda:

“Surga dibawah telapak kaki ibu”, (HR. Muslim)

Mengapa baginda Rosulullah SAW menggambarkan surga dibawah telapak kaki ibu?

Sebagaimana kita ketahui bahwa fungsi dari telapak kaki adalah alat tumpu seseorang sehingga mampu melangkah, berjalan, melompat bahkan berlari. Telapak kaki menjadi simbol tunjangan untuk meretas jalan kesuksesan. Selain itu telapak kaki seorang ibu adalah simbol pengorbanan dalam merawat, mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Dengan telapak kaki ibu hampir setiap hari ia menata dan mengurus rumah tangga.

Menghargai ibu dengan menjaga lisan, sikap dan patuh terhadap titahnya berarti telah meraih ridhanya. Keridhaan Allah SWT, sangat tergantung pada keridhaan orang tua, terutama ibu.

Loading...

Sedangkan murka Allah tergantung pada murka ibu wanita keramat di dunia. Ridha itu merupakah rahmat dan amarahnya adalah laknat.

Kesedihan dan kekecewaan ibu tidak bisa dipahami dengan bahasa verbal, akan tetapi hanya dapat dipahami oleh kejernihan pikiran dan kalbu. Terkadang sulit menerka ibu kita sedang kecewa, karena ia pandai menutupi dengan kelakar atau sedikit mengelak.

Ketika kita melihat ibu kita terbaring sakit ia hanya bisa berujar, “Ibu hanya sedikit lelah nak!,” dan ketika diajak untuk menyantap makanan ibu kita akan berkata “Makan saja olehmu nak, ibu sudah kenyang, ibu kurang suka dengan ayam goreng…!”

Sebagai anak sholeh dan sholehah, kita akan selalu tanggap, kita tidak akan membiarkan ibu kita larut dalam kesedihan. Gembirakanlah ia, selagi ia masih bersama kita. Mohon maaflah atas segala khilaf.

Ingatlah…! kalau sudah Allah SWT ridha, sehebat apapun manusia tak akan mampu menjegal cita-cita anak yang sholeh dan sholehah. Sekaya apapun manusia dan sekuasa apapun ia tak akan mampu membeli ridha orang tua.

Ridha orang tua tidak bisa dibeli dengan sesuap nasi, intan permata ataupun mewahnya kekayaan materi. Mendatangkan ridha orang tua tak cukup dengan basa-basi tetapi harus dengan bahasa hati. Ridha orang tua dapat memutar roda kehidupan anak sehingga berarti.

Balas budi anak berbaktilah yang dapat menyembuhkan goresan luka kecewa di hatinya. Hanya balas budi anak berbaktilah yang bisa membasuh peluh keringat dan air mata harapan dan perjuangan ibunya. Hanya balas budi anak berbaktilah yang bisa memadamkan lahar amarah ibunya.

Hanya balas budi anak berbaktilah yang dapat mengubah sesuatu yang tabu menjadi tak ragu, sesuatu yang nihil atau mustahil dicapai menjadi ril. Sekali lagi ibu, ibu dan ibu muara kasih menggebu seorang anak dapat menyibak benalu kehidupan yang penuh batu kerikil.

Sumber: Buku Lepas dari Lapas Hidup (Terapi Islami Agar Hidup Lebih Bermakna)

Artikel Terkait

Loading...

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More