[Kisah Inspirasi Ramadhan] Buah Simalakama….

Sebuah kisah seorang ibu telah divonis menderita kanker tenggorokan akut dan hanya kemoterapi yang dapat membantu bertahan hidup. Namun, imbasnya perawatan kemoterapi mengakibatkan ia tak dianjurkan memiliki keturunan. Padahal ia sedang mengandung.

Ia terdengar sangat bahagia, meski telah memulai pengorbanan seorang ibu sejak awal kehamilan, karena telah berpisah dengan ayah dari bayi yang dikandungnya. Ia diharuskan menempuh jalan pengorbanan dengan memilih antara mempertahankan nyawanya sendiri atau bayinya.

Dan baginya, itu bukanlah buah simalakama. Pengorbanan seorang ibu untuk anaknya tidaklah sulit untuk dilakukan.

[better-ads type=”banner” banner=”14468″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Akhirnya ia dengan sengaja tidak menjalani kemoterapi dan berharap dapat melahirkan seorang bayi yang sehat.

Suatu hari ia mendadak pingsan di rumahnya, dan segera dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Para dokter mengatakan bahwa sel tumor telah menyerang dan menggerogoti bagian batang otak stacie.

Dua hari kemudian detak jantung janin melemah, sehingga para medis memutuskan untuk melakukan operasi caesar (Baca: Luka Operasi Caesar Dijamin Cepat Sembut dengan Hal Sederhana Ini) sebagai satu-satunya pilihan untuk menyelematkan nyawanya.

Pengorbanan ibu tidak sia-sia, karena sang bayi akhirnya berhasil dikeluarkan dari rahim dengan selamat meski hanya memiliki berat sepertiga dari berat bayi baru lahir pada umumnya.

Apalah daya, sel kanker telah menyerang salah satu mata stacie dan menghancurkan otot bagian belakang bola matanya. Sel kanker juga telah melumpuhkan kerongkongannya, sehingga ketika ia berbicara tak ada yang memahami apa yang ia katakan.

Ia terlalu lemah untuk dapat melihat bayinya, demikian juga sebaliknya. Beberapa hari kemudian, nafasnya mendadak berhenti meski kemudian ia masih menarik nafas lagi, namun kondisinya kian melemah.

Para dokterpun memperingatkan keluarga bahawa sang ibu mungkin tak akan hidup lebih lama lagi. Hal ini membuat beberapa perawat memutuskan untuk membawa sang bayi pada ibunya. Dengan bantuan mereka sang ibu menyentuh bayi perempuan yang dicintainya untuk pertama kalinya sekaligus terakhir kalinya.

Tak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman indah di bibirnya.

Kisah pengorbanan ibu ini menginspirasi bahwa ibu akan selalu tetap tabah dalam berupaya memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun harus mengorbankan semua hal yang paling berharga, termasuk nyawa sekaligus seperti dalam kisah inspirasi ini.

Semoga kita semua senantiasa dijadikan anak-anak yang berbakti dan bisa membahagiakan orang tua serta menjadi anak yang mampu mengharumkan dan membuat bangga kedua orang tua, terutama ibu.[]

0 Shares:
You May Also Like