Siti Hajar, Sang Pejuang Wanita Tangguh nan Penuh Keikhlasan

Kisah singkat Siti Hajar ini memberikan tiga pelajaran berharga untuk kita, diantaranya:

  1. Taat kepada Allah SWT
  2. Sabar dalam berjuang
  3. Tawakal dan bersyukur setelah berusaha

Al-Mu’thi menuliskan kisah perjuangan Siti Hajar. Saat pertama kali dibawa oleh Nabi Ibrahim dari Kana’an menuju lembah yang gersang.

BACA: [Kisah Inspirasi Ramadhan] Buah Simalakama….

Sungguh, Siti Hajar penuh dengan ketakutan. Pasalnya suku Amaliqah yang suka berkemah saja, setelah beberapa hari bermukim disana, tak lagi ingin mengunjungi lembah tersebut lantaran susah mendapatkan air dan makanan ternak.

Saat tiba di lembah tersebut tampak sekali kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan Siti Hajar, dan Nabi Ibrahim as. sangat memahaminya. Dengan suara yang lembut Nabi Ibrahim as berkata, “Janganlah engkau takut Bunda Ismail. Saat ini kau berdiri di tanah Tuhan yang diberkati. Yakinlah kepada Allah SWT.”

Setelah sehari semalam Nabi Ibrahim menemani Siti Hajar dan Ismail as, Ibrahim as pun pamit pulang ke negerinya, Kana’an. Usai bersiap, ia memandangi wajah Siti Hajar lalu berkata, “Aku akan meninggalkan kamu beserta putramu dalam pengawasan Allah SWT…Aku berharap bisa kembali lagi secepatnya ke sini, Insya Allah”.

Loading...

Setelah terjadi dialog, dan akhirnya Siti Hajar memahami apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim adalah perintah Allah SWT, maka ia menerimanya dengan keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah SWT tidak akan menelantarkannya.

Dengan nada tegas ia mengatakan saat Nabi Ibrahim ingin menaiki kendaraannya, “Jika memang begitu petintah-Nya, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami,”.

Setelah kepergian Nabi Ibrahim, Siti Hajar mulai memasuki kehidupan yang berbeda, yang hanya ditemani oleh putranya Ismail as. Keesokan paginya, Siti Hajar terbangun karena tangis keras bayinya.

Siti Hajar pun mulai panik dan bingung karena bayinya sangat lapar dan dahaga. Ia mengambil kantong air, namun ternyata isinya sudah habis. Ia pun mulai mencari sekeliling tempat bermukim. Dia pergi menuju bukit Shafa berharap ada sekelompok kalifah disana, namun ternyata tak ada.

Tiba-tiba kilauan air di lereng bukit Marwa, dikejarnya namun ternyata tidak ada. Ia melihat pula di bukit Shafa ada air, didatangi lembat bukit tersebut ternyata tidak ada juga air disana. ia berbolak balik antara Shafa dan Marwa hingga tujuh kali, meski sengatan matahari membakar wajahnya dan hamparan pasir membuat telapak kakinya berdarah-darah.

Ditengah harapan dan putus asa, ia kembali menemui bayinya. Ketika dekat dengan anaknya, ia terkejut. Tadi Ismail as menangis kenapa sekarang tenang? Ia tersentak kaget bercampur bahagia melihat air yang mengalir dibawah kaki putranya.

Air itu muncul bekas hentakan kaki bayinya saat menangis. Ia pun mencidukkan air tersebut dengan tangannya dan memberi minum putranya. Ia pun tak henti-hentinya memuji Allah SWT atas rahmat yang dianugerahkan kepadanya. Sampai sekarang air tersebut masih dapat dimanfaatkan semua manusia, mata air tersebut bernama “Zamzam”.

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!