5 Cara Rosulullah Memaksimalkan Ibadah di Bulan Ramadhan

BULAN Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan kemuliaan. Di bulan ini Allah limpahkan keberkahan dan kemulian kepada para hamba-Nya dengan dibukanya pintu-pintu surga serta ditutupnya pintu-pintu neraka.

Karena itu, setiap kali Ramadhan tiba, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan berita gembira untuk para sahabatnya. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang hasan, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika datang bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا، فَقَدْ حُرِمَ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Pada bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan jahat diikat. Di sana terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa terhalangi untuk mendapat kebaikannya, maka ia telah terhalangi untuk jadi baik.”

Sebagai seorang mukmin mestinya kita bergembira dan merasa senang dengan datangnya tamu istimewa ini. Selayaknya kita agendakan amalan-amalan ketaatan yang bisa menambah pundi-pundi kebaikan serta meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan. Selain menjalankan puasa, ada 5 di antara amalan utama Ramadhan yang biasa digiatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tilawatil Quran

Selain disebut sebagai bulan puasa, Ramadhan juga biasa dijuluki dengan bulan Al-Qur’an. Bahkan kemulian bulan Ramadhan sendiri tidak bisa lepas dari peristiwa diturunkannya al-Quran di bulan tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)

Baca juga: 4 Keutamaan Sahur Ramadhan, Sungguh Berkah Mengalir Didalamnya!

Adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap malamnya di bulan Ramadhan, beliau selalu didatangi Jibril. Jibril mengajari dan mengecek hafalan Al-Qur’an Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian juga dengan para salafus shaleh, mereka adalah sosok-sosok yang paling kuat interaksinya dengan al-Quran di bulan Ramadhan. Utsman bin Affan adalah salah seorang sahabat yang biasa mengkhatamkan Al-Qur’an sehari sekali. Sedangkan Imam Syafi’i pernah mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan di luar shalat sebanyak 60 kali. Berarti dalam sehari beliau mengkhatamkan dua kali. Al-Aswad mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan setiap dua hari sekali.

Sedangkan Qatadah mengkhatamkannya di luar Ramadhan setiap 7 hari sekali, namun pada bulan Ramadhan ia bisa mengkhatamkan setiap 3 hari. Serta ia mampu mengkhatamkan Al-Qur’an setiap malam pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Az-Zuhri jika memasuki bulan Ramadhan ia meninggalkan pembacaan hadits dan majlis-majlis ilmu dan berpindah untuk membaca Al-Qur’an. Begitulah para salaful ummah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an di saat bulan Ramadhan.

Qiyamullail atau Shalat Tarawih

Shalat tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Disebut shalat tarawih karena para salaf mengerjakan shalat malam tersebut dengan cara berhenti sejenak untuk beristirahat di tiap-tiap empat rakaat. Rasulullah menyebutkan fadhilah shalat tarawih dengan sabda beliau:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانَا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذنْبِه

“Barangsiapa shalat tarawih di bulan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah ta’ala, niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Loading...

Dalam riwayat lain, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Sesungguhnya apabila seorang shalat (tarawih) bersama imam hingga selesai, baginya dicatat melaksanakan shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad)

Baca juga: Awas, Puasa Ramadhan Tidak Sah Hukumnya Jika Lakukan 11 Hal Ini!

Shadaqah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan kedermawanan beliau bertambah jika masuk bulan Ramadhan. Ibnu Abbas bercerita, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat.

Sikap ini dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Shadaqah di bulan Ramadlan bisa kita aplikasikan dengan cara memberikan buka bagi orang yang shaum.

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَهُ ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Baca juga: Cara Puasa Ramadhan di Zaman Rosulullah Muhammad SAW

I’tikaf

I’tikaf secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyah tentang hikmah i’tikaf dan hajat muslim terhadapnya, ”… Allah mensyariatkan i’tikaf yang maksud dan intinya adalah agar hati ini senantiasa berhubungan dengan Allah, konsentrasi kepada-Nya, berkhalwat (menyendiri) dengan-Nya, memutuskan kesibukan dengan manusia dan menjadikannya dengan Allah semata sehingga dzikir dan kecintaan kepada-Nya serta hubungan dengan-Nya merupakan hal yang selalu menjadi tujuannya dan yang terlintas dalam pemikirannya. Maka inilah maksud yang agung dari i’tikaf.”

Dengan I’tikaf kita juga bisa melazimi sunah-sunah Rasul yang mulia yang mungkin sangat sulit kita kerjakan jika kita tidak mengerjakan I’tikaf, diantaranya berdzikir setelah shalat subuh, “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia shalat dua raka’at, maka ia akan memperoleh pahala haji dan umrah.” Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata: “Sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Memperbanyak berbuat kebaikan

Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Selain beberapa amalan di atas kita juga bisa mengerjakan shalat-shalat sunah, memperbanyak dzikir dan istighfar serta berdoa kepada Allah terutama pada saat mustajab, yaitu ketika hendak berbuka, pada sepertiga malam terakhir dan pada waktu sahur. Dengan demikian, tujuan dan harapan dari bulan Ramadhan itu sendiri dapat kita raih secara maksimal dan kita layak disebut pribadi yang bertaqwa[]

Sumber: KIBLAT

Terkait

Loading...
Berita Terkait

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More