Pentingnya Selalu Berbaik Sangka Pada Allah dalam Islam

Salah satu fitrah manusia adalah kecenderungan berprasangka. Tidak ada seorang pun didunia ini yang tidak memiliki prasangka. Hanya saja, tidak setiap orang memperlakukan prasangkanya secara bijak.

Sebaik-baiknya prasangka adalah prasangka baik dan begitu pula sebaliknya.

Berprasangka Baik pada Allah SWT

Itulah rumus yang sejak dulu hingga kini terus berlaku dan akan terus berlaku hingga dimasa mendatang. Karena itu, menanam prasangka baik dan membuang prasangka buruk adalah kewajiban yang harus kita tekankan pada diri kita. Ini semua demi kebaikan kita agar tidak mudah termakan prasangka buruk.

Kalau kita sudah termakan oleh prasangka buruk, jangankan pada sesama manusia, kepada Allah SWT pun kita akan menanamkan prasangka buruk.

Prasangka buruk inilah biang keladi terbesar yang akan menggiring kita pada sikap pesimis, bahkan keputusasaan. Tidak hanya itu, prasangka buruk dapat mendorong ktia selalu berpandangan buruk pada sesama manusia.

Entah dengan cara mencari-cari kesalahan orang lain, selalu berbicara keburukan orang lain, maupun menuduh tanpa bukti.

Hal semacam itulah yang ditakutkan oleh Rosulullah SAW. Beliau sangat khawatir bahwa prasangka buruk akan menjangkiti sebagian umat muslim dan menjadi sebab runtuhnya persaudaraan sesama manusia. Karenanya, beliau melarang kita kaum muslimin menanam prasangka buruk. Beliau bersabda :

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk. Sebab, prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari keburukan-keburukan orang lain, saling intip mengintip, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demi menghindari akibat dari prasangka buruk, maka berbaik sangka adalah kuncinya. Dalam Islam, baik sangka sangat dianjurkan oleh Allah SWT dan Rosul-Nya. Cara pandang yang baik atau positif thinking banyak menentukan sikap kita.

Dan, prasangka baik itu mula-mula harus kita tujukan kepada Allah SWT. Sebab, Allah sesuai atau tergantung prasangka hamba-Nya. Allah SWT akan menemui kita berdasarkan prasangka yang kita tanamkan kepada-Nya.

Melalui Rosulullah SAW, Allah SWT sendiri pernah berfirman didalam hadits Qudsi :

“Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingatku dalam kelompok, Aku akan mengingatinya dalam kelompok yang lebih baik darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil,” (HR. Tirmidzi).

Hadits Qudsi tersebut merupakan dasar bagi kita untuk berbaik sangka kepada Allah SWT. Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT akan memberikan jalan terbaik bagi kita, maka Dia akan memberikan jalan yang lebih baik dari yang kita sangkakan kepada-Nya.

Loading...

Jika kita berprasangka bahwa Allah SWT akan menguji kita untuk mematangkan kualitas keimanan kita, maka Dia akan memberikan kita kekuatan menghadapi ujian tersebut, kekuatan yang lebih kuat dari yang kita duga.

Begitu pun, jika kita selalu mengingat Allah, Dia akan lebih mengingat kita. Jika kita senantiasa mendekati-Nya, Dia akan lebih dekat lagi pada kita dari kedekatan yang mampu kita lakukan.

Intinya, jika prasangka baik terhadap Allah SWT yang kita tanamkan, maka kita akan menemui lebih banyak dan berlipat-lipat dari yang kita tanam. Karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berprasangka baik kepada Allah SWT.

Tentu saja, prasangka baik itu tidak hanya sebatas berhenti ditingkat prasangka, lebih dari itu, prasangka baik pada Allah SWT haruslah disertai dengan tindakan nyata, yakni mengingat-Nya lewat doa dan dzikir, mendekatinya lewat sholat dan lewat perkara-perkara ibadah lainnya.

Tentang hal ini, Allah SWT telah berfirman :

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

wa iza sa’alaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib, ujibu da’watad-da’i iza da’ani falyastajibu li walyu’minu bi la’allahum yarsyudun

Artinya:

“Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Karena itu, hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah[2]:186).

Demikianlah hakikat dari prasangka baik kepada Allah SWT yang pada gilirannya akan melahirkan prasangka baik pula terhadap diri sendiri dan sesama manusia .

Loading...

Terkait hal ini, Imam Hasan Al-Basri mengatakan bahwa “Seorang mukmin berbaik sangka kepada Tuhannya sehingga ia berbuat baik. Sebaliknya orang jahat berburuk sangka kepada Tuhan sehingga berbuat doa.”

Kesimpulan

Jadi, prasangka baik tidak hanya memantapkan keimanan kepada Allah SWT tetapi juga mendorong kita untuk menebarkan kebajikan dimuka bumi melalui perbuatan memaksimalkan potensi yang telah Allah SWT berikan kepada kita.

Dengan kata lain, kita harus menggunakan semua yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita. Wujudnya dapat berupa sikap pantang menyerah atau tak mudah putus asa, yakin dan terus berupaya, dan tentunya tidak mudah memandang buruk orang lain.

Sumber: Buku Jangan Sampai Menyerah, Saat Semua Terasa Sulit. Karya Insan Nurrohiem.

Populer Pekan Ini

Loading...

Rekomendasi Widiynews

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More