Kesabaran Nabi Ayub Berhasil Membuat Iblis Kecewa

Suatu saat, iblis dan anak buahnya menghilangkan harta kekayaan Nabi Ayub dengan memusnahkan seluruh hewan ternaknya. Setelah itu, seluruh tanaman yang ada didalamnya mesti mengering. Buah-buahan mebusuk dan berjatuhan. Tidak hanya itu saja, iblis juga membakar semua rumah Nabi Ayub. Iblis dan anak buahnya membunuh anak-anak Nabi Ayub.

Nabi Ayub menganggap itu semua ujian dari Allah dan menyikapi ujian tersebut dengan sabar. Ia sama sekali tidak mengeluh. Apalagi menggugat kepada Allah. Ia menyadari bahwa semua yang ada padanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Semua usaha yang dilakukan iblis gagal. Namun, ia belum menyerah. Iblis menyuruh anak buahnya menaburkan bermacam-macam kuman penyakit ke sekujur Nabi Ayub. Tiba-tiba Nabi Ayub diserang berbagai penyakit.

Seluruh persendian tulangnya terasa remuk. Disusul dengan batuk-batuk yang mengeluarkan darah. Kemudian, semua kulitnya dipenuhi oleh bintik-bintik merah. Lama-kelamaan, berubah menjadi luka yang menyebarkan batu tak sedap.

Akhirnya, Nabi Ayub hanya dapat berbaring di tempat tidur. Semua kebutuhannya dipenuhi oleh istrinya yang setia. Dalam kondisi seperti ini, Nabi Ayub tetap sabar. Ia tetap beribadah kepada Allah SWT dengan rasa ikhlas.

Masyarakat mulai menjauh, hingga mengusir Nabi Ayub dan istrinya dari kampung halaman. Mereka khawatir tertulah oleh penyakit Nabi Ayub. Dengan penuh kesabaran, istrinya menggendong Nabi Ayub dan pergi meninggalkan kampung.

Untuk mempertahankan hidup, istrinya menjual perhiasan miliknya yang masih tersisa. Ketika perhiasan habis, ia rela bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan suaminya. Mereka senantiasa bersabar menghadapi ujian tersebut. Mereka tetap beribah kepada Allah.

Melihat hal itu, iblis mulai kecewa. Usahanya menemui jalan buntu. Ia tidak lagi bagaimana harus menggoda Nabi Ayub. Segala cara telah dikerahkannya. Namun tidak pernah menggoyahkan kesabaran dan keimanan Nabi Ayub.

Semakin hari penyakit Nabi Ayub semakin parah. Tujuh tahun Nabi Ayub menderita sakit parah. Selama itu pula, istrinya setia mendampingi dan merawat Nabi Ayub.

Suatu hari, Rahma mengusulkan kepada suaminya agar berdoa dan memohon kesembuhan kepada Allah. Ia tidak tega melihat suaminya semakin payah. Namun, Nabi Ayub menolaknya. Ia merasa malu untuk memohon kesembuhan. Ia baru sakit selama tujuh tahun. Sementara ia telah merasakan kesehatan dan kekayaan yang dianugerahkan kepada selamanya delapan puluh tahun.

Iblis kemudian menggoda istrinya, hingga istrinya sempat berfikir untuk meninggalkan suaminya pada saat keluar rumah untuk membeli makanan. Saat itu, Nabi Ayub memanggil istrinya. Tidak ada suara manyahut, karena istrinya sedang keluar rumah.

Nabi Ayub berulang kali memanggil namun tetap tidak ada jawaban. Nabi Ayub berfikir istrinya telah meninggalkannya. Ia berjanji akan mencambuk istrinya seratus kali jika kembali lagi. Nabi Ayub berdoa kepada Allah memohon kesembuhan:

“Maka aku kabulkan doanya, lalu kami lenyapkan panyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarga kepadanya, dan (kami lipatgandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah kami” (QS. Al-Anbiya (21):84).

Allah mengabulkan doa Nabi Ayub. Allah memerintahkan Nabi Ayub agar menghentakkan kakinya ke tanah. Kemudian, memancarlah air dari tanah tempat ia hentakkan kaki. Allah memerintahkan Nabi Ayub agar mandi dan minum dengan air tersebut.

Nabi Ayub pun mandi dan minum air tersebut. Seketika penyakitnya sembuh. Badannya telah sehat kembali. Wajahnya pun nampak lebih segar dan berseri.

Tidak lama kemudian, istrinya pulang. Ia sangat terkejut mendapati seorang laki-laki tidak dikenali di dalam rumahnya. Ia mencari-cari suaminya namun tidak ketemu. “Siapa kamu? Dimana suamiku? Tanya Rahma.

“Akulah Ayub, suamimu. Allah telah menyembuhkan penyakitku,” jawab Nabi Ayub.

Istrinya sangat bahagia, ia menunduk dan meminta maaf kepada suaminya. Ia merasa bersalah karena sempat berfikir untuk meninggalkannya.

Nabi Ayub memaafkan istrinya. Kemudian ia teringat dengan janjinya. Padahal ia tidak tega mencambuk istrinya. Saat itu Allah memerintahkan Nabi Ayub untuk mencabut segenggam rumput. Kemudian, Nabi Ayub mencambuk istrinya dengan rumput tersebut.

Allah memberikan anugerah yang besar kepada Nabi Ayub atas buah kesabarannya dalam menghadapi ujian. Nabi Ayub dalam kembali dianugerahi kekayaan dan keturunan lebih banyak dari sebelumnya. Nabu Ayub hidup bahagia bersama anak dan istrinya. Ia bersyukur dapat melalui ujian yang diberikan Allah dengan baik. Ia terus melanjutkan tugas dakwahnya menyebarkan agama Allah kepada kaumnya.

“Dan ingatlah akan hamba kamu Ayub ketika dia menyeru Tuhannya, ‘sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana,” (QS. Shaad (38):42).

Berita Terkait

KONTEN BERSPONSOR

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website. Thank You!