Ketika Langit Terbuka, Ketika Doa Diijabah

9 Dzulhijah adalah momen yang paling penting bagi jamaah haji, di hari itu semua harus melaksanakan wuquf di Arafah. Tidak syah haji seseorang kalau ritual itu terlewat. Bahkan mereka yang sakit keras pun akan dibawa dengan ambulans untuk disafari wuqufkan.

Umumnya jamaah haji dari Indonesia tidak melaksanakan Tarwiyah, yakni perjalanan ke Mina terlebih dahulu sebelum ke Arafah. Begitu juga dengan rombongan saya, semua langsung menuju Arafah.

Sejak sore 8 Dzulhijah saya sudah berada di Arafah. Jauh-jauh hari sebelum berangkat haji ada keinginan kuat untuk mengkhatamkan Al-qur’an di tiga tempat yaitu di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan saat wuquf di Arafah.

Karenanya begitu sampai saya langsung konsentrasi untuk meneruskan bacaan yang baru sampai juz 15. Sempat terbersit pikiran, apa bisa selesai 15 juz dalam semalam? Ah, Bismillah saja. Surat Al Isra yang mengawali juz 15 sangat berarti buat saya karena setahun sebelumnya, saat sholat Tarawih di Masjid Agung Al-azhar, sang imam membaca surat ini dengan suara yang sangat syahdu.

Saya sampai menitikkan air mata, dan tiba-tiba saja muncul pinta untuk dimudahkan menjalankan ibadah haji. Mungkin karena arti ayat pertama surat itu: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjid Al-aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya… dan Alhamdulillah, Allah kabulkan pinta saya.

Perlahan saya mulai hanyut dalam bacaan dan tidak lagi ingat sedang berada di mana, yang terasa hanya kesejukan luar biasa dalam hati.

Belum pernah saya membaca Al-qur’an senikmat malam itu. Hari semakin gelap, malam mulai larut, jamaah mulai tertidur. Tiba-tiba saya mendengar suara, “Ojo turu sik, iki isih akeh!” -jangan tidur dulu, ini masih banyak- Sekilas saya melirik, ternyata ada seorang jamaah yang sedang menegur orangtuanya yang sudah sepuh karena mengantuk saat dibimbing mengaji.

Beberapa kali saya mendengar teguran itu. Wah, konsentrasi saya mulai terganggu, apalagi kepala si nenek itu terayun ke kanan-kiri menahan kantuk. Saya tersenyum melihatnya.

Rupanya si nenek melihat, lalu bertanya dalam Bahasa jawa halus, “Menopo mboten sayah, Mbak?” -Apa tidak mengantuk, Mbak?– Saya hanya tersenyum. Kenapa saya tidak mengantuk ya? tanya saya dalam hati. Ah, mungkin sebentar lagi juga mengantuk, batin saya. Kembali saya melanjutkan menderas Al-qur’an.

Tidak terasa mulai terdengar suara gaduh, rupanya orang-orang terbangun untuk sholat Tahajud. Wah, sudah hampir pagi. Alhamdulillah, saya lihat bagian Al-qur’an sebelah kiri yang terbuka semakin tipis, berarti sedikit lagi.

Saya tutup Qur’an untuk sholat Tahajud. Saat sholat Witir kembali saya memohon, mudahkanlah untuk mengkhatamkannya ya Allah. Sekali lagi Allah kabulkan pinta saya, selesai mendengarkan khutbah wuquf, saya bisa menkhatamkannya. Saya teringat semalam tidak tidur, namun tidak merasa ngantuk. Sungguh, Allah terasa sangat dekat di Arafah.

Saya berkesempatan melaksanakan haji akbar, yakni jatuhnya wuquf di hari Jum’at, seperti halnya haji Wada’ yang dilaksanakan Rasulullah SAW. Usai sholat Dzuhur dijama’ qasar dengan Ashar, pembimbing haji mulai menyampaikan khutbah wuqufnya.

Tempat saya duduk agak jauh sehingga suara khutbah tidak terdengar jelas. Wuquf secara bahasa artinya berdiam, dan itu pula yang saya lakukan.

Saya hanya diam terpekur, namun tiba-tiba entah apa sebabnya satu persatu air mata saya menetes. Makin lama makin banyak. Sampai akhirnya saya menangis sesenggukan. Hari itu, sungguh, Allah bukakan langit untuk mereka yang sedang berwuquf.

Semua pertobatan diterima, segala pinta diijabah. Saya berada dalam penyesalan yang sangat mendalam atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan. Semua seperti video yang tiba-tiba saja muncul di depan mata. Astaghfirullah…

Dalam pikiran tiba-tiba saya melihat kelebatan Papi, secara khusus saya memohonkan ampun atas dosa-dosanya, semoga dimudahkan baginya untuk sampai ke surga. Lalu saya berdoa untuk Mama dan adik-adik saya.

Doa untuk diri saya sendiri sepertinya tercekat di tenggorokan karena rasa malu yang luar biasa atas dosa-dosa yang pernah saya lakukan. Saya hanya bisa beristighfar berulang-ulang. Akhirnya saya hanya mengucapkan,

“Ya Allah berikan yang terbaik untuk saya menurutMu dan mudahkalnlah saya untuk menjalaninya.”

Sebelum menutup doa, saya teringat sesuatu, lalu buru-buru menambahkan, “Ya Allah, izinkan saya untuk kembali dan kembali lagi ke rumahMu.” Alhamdullah, Allah kabulkan semuanya. Saya merasa bersyukur waktu itu tidak menyebut satu-dua pinta melainkan meminta yang terbaik menurutNya. Benar saja, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk saya, melebihi yang saya pinta.

Laailaaha illallah wahdahuu laa syariikalah lahulmulk wa lahulhamd wa huwa ‘ala kulli syaiin qadiir…

Uttiek Herlambang

Tulisan ini telah dipublikasikan uttiek.blogspot.com

Terkait

Lainnya:

Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More