Now Reading
Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam

Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam

Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam

Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam – Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain meskipun dirinya sa ngat memerlukan. Perbuatan ini tentu sangat sulit dilakukan, mengingat kebanyakan orang lebih sibuk memikirkan dirinya dibanding orang sekitarnya. Salah satu kisah tentang kebiasaan itsar berasal seorang sahabat dari kaum Anshar yang bersedia menjamu tamu.

Alkisah, tamu tersebut saat itu mengadukan kelaparan dan penderitaannya kepada Rasulullah SAW. Sahabat Anshar itu membawa tamu ke rumahnya dan berkata pada istrinya, “Ini adalah tamu baginda Rasulullah SAW, jangan sampai kita mengecewakannya, dan untuk menjamunya jangan sampai ada kita menyembunyikan apa pun!” Lalu istrinya menjawab, “Demi Allah, aku hanya menyimpan sedikit makanan. Itu pun hanya cukup untuk anak-anak kita.”

Lalu suaminya berkata, “Hiburlah dulu anak-anak kita sampai mereka tertidur. Jika sudah tidur, hidangkanlah makanan itu untuk tamu kita. Lalu duduklah, kemudian berdirilah dan padamkanlah lampu dengan berpura-pura akan membetulkannya (agar tamu dapat makan dengan leluasa dan dia tidak tahu kalau tuan rumah tidak ikut makan).”

Istrinya melaksanakan rencana tersebut dengan baik dan pada malam itu suami, istri serta anak-anak mereka terpaksa menahan lapar demi memuliakan dan mendahulukan kepentingan tamu mereka.

Dari pengorbanan yang dilakukan sahabat tersebut, dalam surah al-Hasyr: 9, Allah berfirman, “Dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Loading...

Malam itu, sahabat yang diketahui bernama Sayyidina Tsabit Al-Anshari beserta istrinya hanya duduk bersama dengan tamunya dan seolah-olah sedang makan pula. Nyatanya sebelum itu Tsabit berkata pada istrinya, “Aku akan membawa seorang tamu malam ini, jika dia mulai makan maka padamkanlah lampu dan pura-puralah memperbaikinya. Selama tamu itu belum kenyang, maka kita jangan makan sedikit pun.”

Berdasarkan kisah dari kitab Durrul Mantsur, keesokan harinya, saat Tsabit hadir dalam majelis, Baginda Rasulullah bersabda, “Wahai Tsabit, Allah SWT sangat menyukai penghormatanmu kepada tamunya tadi malam.”[]

Dari kisah singkat diatas dapat kita ambil hikmah bahwa memuliakan tamu adalah kebiasaan orang-orang sholeh dan Allah sangat menyukai seseorang yang memuliakan tamu. Selain itu, dari dengan memuliakan tamu (orang yang berkunjung) ke rumah dapat memperpanjang tali silaturahmi, memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki.

Cara memuliakan tamu sendiri banyak dicontohkan oleh para ulama Indonesia. Salah satunya dengan mempraktikkannya dalam kemasan-kemasan estetika-estetika lisan lokal. Misalnya tradisi penyuguhan kopi atau teh tubruk untuk para tamu.

See Also
Kisah, Negeri yang Pernah Hilang dari Lantunan Adzan

Bila ditelisik, dalam kopi atau teh tubruk ternyata tersisip ajaran Islam yang telah dieja dengan lidah setempat. Kata “tubruk” merupakan pengalih-bahasaan istilah Islam yang diambil dari Bahasa Arab; “tabarruk”.

Tabarruk artinya upaya mendapatkan banyak berkah. Dalam Islam, sebagaimana tercermin dalam berbagai sabda Nabi Muhammad saw, tamu diimani sebagai pembawa berkah. Karena itu, bagi para muslim Jawa, keinginan untuk mengalap berkah sang tamu, oleh sang tuan rumah disimbolkan dalam bentuk suguhan teh atau kopi tabarruk, yang pengucapannya telah dialih-ubah menjadi teh atau kopi tubruk.

Sumber: republika.co.id

Terkait

Loading...

© 2016 Widiynews Web Media. All Rights Reserved.

Scroll To Top