Kisah Senyuman Mukena Usang, Semoga Banyak yang Sadar

PINTU LEMARI tempatku berdiam terbuka lebar. Maya sang pemilik tersenyum begitu manis. Dia meletakkan mukena pink berbunga cantik tepat di atasku. Kukira dia akan memakaiku, ternyata aku salah.

Dulu, beberapa tahun yang lalu. Aku adalah mukena favoritnya. Bagaimana tidak, aku merupakan mahar pernikahan dari laki-laki yang sangat dicintainya.

Aku mukena putih, tubuhku penuh bordiran cantik menerawang. Bahanku halus. Aku merupakan hasil kreasi dari seorang wanita Sumatera Barat. Aku tampil sederhana, tapi begitu elegan dan nyaman dikenakan.

Masih tergambar jelas saat Maya menerimaku. Dia begitu senang dan haru. Aku menjadi saksi saat dia mengucapkan janji akan selalu mengenakanku dalam sholat lima waktu. Betapa bahagia aku saat itu.

Satu tahun berlalu. Aku selalu menemaninya dalam do’a-do’a. Sering kainku basah oleh air mata. Aku menemaninya saat bahagia dan terluka dalam menjalani hidupnya berumah tangga.

Maya sangat terampil merawatku. Meskipun aku mukena satu-satunya, namun aku selalu bersih dan wangi. Apa lagi yang membuat bahagia sebuah benda mati seperti aku, selain bermanfaat untuk si empunya.

Hari ini, Maya kembali menangis.

“Alhamdulillah, Mas. Do’a dan kesabaran kita diijabah oleh Allah. Mas berhasil naik jabatan. Kita tidak akan kesulitan lagi. ”

Mereka terlihat saling berdekapan. Akupun turut merasa bangga. Bukankah, ini anugerah sang pencipta buat hambanya yang sering berdo’a? Aku menjadi saksi ketaatannya pada sang pencipta.

Hari berganti hari. Aku kini bukan lagi satu-satunya mukena di rumah ini. Maya sangat suka berbelanja. Bukan hanya baju, hijab, tapi mukena juga memenuhi lemarinya.

Dia mulai berubah. Sekarang dia mulai jarang memakaiku. Mungkin dia memakai mukena yang lain, pikirku. Aku hanya mukena usang yang sudah ketinggalan zaman.

Betapa aku rindu masa-masa di mana dia sering mengenakanku menghadap Ilahi. Sungguh, aku rindu.

Hari ini dia mengambilku. Aku sangat girang. Aku menyunggingkan senyum dengan para mukena yang ada di dalam lemari. Akhirnya aku kembali menghirup uap kebebasan setelah sekian lama berada di barisan paling dasar lemari itu.

Loading...

Maya mencium tubuhku. Kulihat dia mengendus dan kemudian memancungkan bibirnya. Dia membentangkanku. Kepalanya terlihat mengeleng-geleng.

“Oh, tidaaak … Aku tidak lagi seputih dulu. Warnaku kini berubah kekuningan.

“Bik Asih, kemari sebentar, ” teriak Maya.

Bik Asih datang tergopoh-gopoh.

“Bik, mukena ini buat Bibik saja. Sudah terlalu lama di lemari. Bibik, mau? ” ucap Maya lembut.

Bik Asih tersenyum ceria.

“Tentu saja, Non. Bibik mau sekali. Kebetulan mukena Bibik yang lama sudah robek.”

“Terima kasih banyak, Non, terima kasih,”ucap Bik Asih haru. Matanya terlihat basah menerimaku. Dia mendekapku erat sekali. Aku bisa merasakan kalau dia sangat bahagia memilikiku.

Aku sangat sedih. Aku kini mukena usang. Mukena yang terbuang. Aku dimasukkan ke dalam sebuah kantongan plastik milik Bik Asih. Digantung di setang sepeda miliknya. Sepertinya aku dibawanya pergi. Akan kutinggalkan rumah mewah ini. Kemana dia membawaku?

Sepanjang jalan, sambil mengayuh sepeda Bik Asih terdengar mendendangkan solawatan. Dia terlihat sangat ceria. Aku mulai menyukainya.

Setelah menempuh perjalanan panjang. Akhirnya kami sampai di sebuah gubuk kecil. Mungkin ini rumahnya. Bik Asih membawaku masuk ke dalam. Rumah berlantai tanah ini begitu sejuk dan lapang. Tidak ada barang dan benda mewah di sini.

Kalian tahu, sejak hari itu, aku bukan lagi sang mukena usang. Aku diperlakukan bak ratu. Tampilanku selalu bersih dan wangi. Tempatku teratas dan tinggi.

Mudah-mudahan banyak manusia yang sadar bahwa barang usang milik mereka adalah barang baru bagi mereka yang membutuhkan.[MBH]

Terkait

Loading...
Berita Terkait

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More