Muhasabah

Kisah Inspirasi: Aku Hidup dengan Ginjal Ibuku

Kisah Inspirasi : Aku Hidup dengan Ginjal Ibuku. Dalam kisah inspirasi kali ini diceritakan seorang anak yang durhaka kepada ibu nya sendiri....

Written by Widiyanti · 5 min read >
Kisah Inspirasi: Aku Hidup dengan Ginjal Ibuku

Kisah Inspirasi : Aku Hidup dengan Ginjal Ibuku.

Dalam kisah inspirasi kali ini diceritakan seorang anak yang durhaka kepada ibu nya sendiri. Ia bahkan tega mengusir ibunya sendiri karena sang pacar yang marah padanya. Hingga akhirnya dia menyesal saat tahu bahwa ginjal yang didalam tubuhnya adalah milik ibunya. Namun semuanya sudah terlambat, karena ia baru mengetahui itu semua ketika ibunya telah tiada. Simak selengkapnya kisah inspirasi ini dibawah.

Aku Hidup dengan Ginjal Ibuku

Suatu hari seorang anak dan ibunya terlibat dalam percakapan. Hingga sang anak membentak ibunya, “Aku berikan waktu dua hari, temukan antingku yang terjatuh di antara perjalananku pulang kerumah dari sekolah kalau tidak jangan pulang kerumah. Jika tidak maka ibu akan aku usir dari rumah ini!” pinta sang anak.

“Baik nak, esok ibu akan coba mencarinya, sekarang mari tidur bersama ibu,” jawab ibunya.

“Tidak mau,” ketus sang anak.

Keesokan harinya sang ibu berupaya mencari anting sang anak yang terjauh, lama ia mencari hampir-hampir ia putus asa, didalam hatinya ia tidak ingin mengecewakan sang anak. Akhirnya ia menemukan anting tersebut dekat tong sampah, dengan cepat sang ibu mengambil anting itu dengan tidak lupa untuk membersihkannya dulu.

“Nak, ini antingnya ibu temukan,” ujar sang ibu.

“Lama amat sih, cuma cari anting doang,” kata sang anak dengan nada membentak.

Walaupun tak mengucapkan terima kasih, baginya melihat kebahagiaan tampak dari raut wajah sang anak sudah cukup.

Sampai suatu saat, sang anak sudah dewasa dan telah memiliki seorang kekaih yang selalu ingin bertemu dengan ibunya. Akhirnya, sang kekasih diizinkan untuk datang ke rumahnya.

“Ibu masakin makanan yang enak!” perintah sang anak.

“Memang ada apa nak, makanan yang kita makan ini juga sudah enak,” jawab ibunya.

“Jangan membantah ya Bu! Pokoknya makanan yang mahal dan enak! Soalnya kekasih saya mau datang,” seru sang anak.

Akhirnya demi sang anak ibunya rela meminjang uang kepada tetanggnya, untunglah tetangganya mengerti dengan keadaan ibu. Sang tetangga malah memberikan sejumlah uang bukan meminjamkannya. Setelah itu, ibunya membeli berbagai macam bahan makanan, selanjutnya dimasaklah semua, aroma masakan tercium hidung sang anak.

“Gitu dong bu! Aku jadi sayang sama ibu” ungkap sang anak manja. Ibunya hanya tersenyum mendengar ucapan anak gadisnya, sebab kata-kata itulah yang selalu ingin ia dengar.

Setelah masakan siap, datanglah sang kekasih, tanpa malu-malu ia kenalkan kekasihnya itu kepada ibunya.

“Ibu kenalkan ini kekasih saya,” Ucap sang gadis.

“Oh ini toh orang yang selalu diceritakan anak saya,” ujar ibunya.

“Ayo langsung makan saja,” lanjut ibu.

Ketika menyuguhkan minuman, minuman tersebut tumpah membasahi baju kekasihnya. Sang anak murka kemudian berkata, “Ibu buta apa? Makanya kalau jalan lihat-lihat dong”.

Mendengar hal demikian sang kekasih berujar, “Sayang jangan berkata demikian kepada ibu, ibu sudah tua, memegang nampan saja sudah gemetaran, mari sini bu saya bantu,” lanjut sang kekasih sembari membantu sang ibu membersihkan lantai dari pecahan gelas yang tumpah.

“Maafkanlah ibu nak!,” ujar sang ibu kepada kekasih anaknya.

“Ah tak apa bu,” jawab sang kekasih.

Sang gadis hanya duduk membisu dengan wajah yang cemberut tak senang. Sadar dengan apa yang diucapkan, bukannya ikut membantu, akan tetapi semakin bertambah rasa benci kepada ibunya, karena merasa sang kekasih bukan membelanya melainkan membela ibunya.

Setelah kekasihnya pulang, sang gasi serta merta memarahi ibunya, “Jangan cari muka dihadapan kekasihku ya bu, gara-gara ibu kekasih saya jadi pulang, mulai saat ini, ibu tidak boleh di rumah ini lagi! Bentak sang gadis.

Mendengar ungkapan marah sang gadis, ibunya memohon maaf sembari memegang kaki sang anak, namun sang anak tetapi tidak bergeming dari pendiriannya, sembari menyeret tangan sang ibu untuk keluar rumah.

Ibunya melangkah sedih meninggalkan rumahnya, ia masih ingin merawat anaknya. Untunglah para tetangga tahu dan mempersilahkan sang ibu untuk tinggal dirumahnya.

Sang ibu merasa beruntung dan segera bersyukur kepada Allah SWT. Karena telah dikaruniai tetangga yang baik hati.

Suatu ketika sang gadis jatuh sakit, ia merintih kesakitan yang luar biasa sampai-sampai ia pingsan tak sadarkan diri. Dengan uang secukupnya ibunya membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa dokter ternyata si gadis mengalami gagal gijal dan harus dioperasi agar sang gadis dapat bertahan hidup. Dokter menyarankan kepada ibunya untuk mencari pendonor ginjal. Kemana akan mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya.

Ketika sang ibu melamun datanglah seorang laki-laki menawarkan ginjalnya dengan harga lima ratus juta. Ibunya kaget bukan kepalang, dimana ia harus mencari uang sebanyak itu, sedangkan untuk makan saja susah. Ia sempat berpikir untuk menjual rumahnya, namun ia urungkan sebab ia berfikir kalau rumah dijual, maka dimana anaknya akan tinggal nanti.

Tanpa berpikir panjang sang ibu menemui dokter untuk melakukan oeprasi ginjalnya agar dapat diberikan kepada sang anak. Dokter mengatakan bahwa ginjalnya cocok untuk sang gadis, akan tetapi akan sangat berbahaya bagi sang ibu, sebab dengan pengangkatan ginjalnya akan berdampak pada kesehatannya,

Operasi pun dilakukan, kedua bed-nya berdampingan. Sebelum operasi dilakukan sang ibu memandang sang gadis dengan harapan bahwa ginjalnya akan dapat menyembuhkannya, ia khawatir kalau seandainya setelah operasi dilakukan ibunya masih bisa melihatnya.

Setelah beberapa hari dirawat keduanya berangsur-angsur kesehatannya pulih, dan diizinkan untuk kembali ke rumah, sang anak tidak mengetahui adalah ginjal ibunya. Sikap sang anak setelah sembuh tidak pernah berubah, masih membencinya ibunya.

Kondisi kesehatan sang ibu mulai menurun drastis, sampai-sampai sang ibu sudah tidak bisa lagi makan, sang gadis tetap tidak perduli dengan keadaan ibunya, ia sibuk dengan aktivitas tak bermanfaatnya, bahkan sang anak lebih sering berjalan-jalan dengan kawannya.

Sampai suatu ketika sang gadis menemukan ibunya dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi, melihat keadaan seperti itu sang gadis tidak terlihat ada rasa sedih, ia mengabarkan kondisi ibunya kepada pak RT.

Semua masyarakat berdatangan ada yang memberikan uang, ada yang membawa beras, dan ada yang mengurus jenazahnya.

Melihat banyak uang, sang gadis senang, ia berpikir dengan uang tersebut ia akan menggunakannya untuk membeli HP terbaru atau beli baju yang bagus, agar ketika bertemu dengan kekasihnya ia tidak mengenakan baju yang jelek.

Para tetangga masih disibukkan dengan mengurus jenazah dan menerima tamu, bukannya ikut sibuk, sang gadis malah berdandan rapih, setelah itu sang gadis pamit kepada pak RT karena hari itu ia diharuskan menjalani pemeriksaan pasca operasi. Dengan berat hati pak RT mengizinkannya. Semua tamu dan para tetangga bingung melihat kelakukan sang gadis tersebut.

Sampai di rumah sakit, ia langsung bertemu dengan dokter yang merawatnya dulu dan langsung memeriksa kondisinya, setelah diperiksa dokter menyatakan bahwa sang gadis sudah dalam kondisi prima, akan tetapi belum diizinkan untuk melakukan pekerjaan berat.

Setelah ia keluar dari ruangan dokter dan bertemu dengan suster yang merawatnya dulu ketika ia terbaring sakit. “Apa kabar mbak cantik,” kata suster.

“Baik sus, suster sendiri bagaimana keadannya?” jawab sang gadis sembari balik bertanya.

“Alhamdulillah sehat, loh ngomong-ngomong ibunya mana, kok beliau tidak ikut?” tanya suster.

“Tidak sus, ibu sudah tidak ada,” jawab sang gadis.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya, saya turut berduka cita ya mbak!” ungkap suster sembari mengangkat kedua tangannya.

“Terima kasih sus,” jawab sang gadis.

“Padahal, ibu orang yang baik, tipe orang yang bertanggung jawab, orang tak kenal lelah dalam mengurus sang anak. Ia rela memberikan ginjalnya bagi mbak, belum tentu semua orang bisa melakukan itu,” terang suster.

“Maaf sus, ginjal yang ada ditubuhku ini adalah ginjal ibu?” tanya sang gadis kaget.

“Iya mbak, memang ibu tidak pernah cerita?” tanya sang suster lagi.

Mendengar ungkapan suster seakan semua tubuhnya bergetar hebat, hampir-hampir ia jatuh pingsan, ia tak menyangka bahwa kebencian dirinya terhadap ibu dibalas dengan kebaikan yang luar biasa, bahkan sampai ibunya meninggal.

Tanpa banyak bicara lagi sang gadis berlari menuju pintu keluar untuk cepat-cepat pulang. Dia memanggil ojek agar dapat mengejar waktu. Dalam waktu yang beberapa menit ia tiba dirumahnya, rumah yang masih ramai dengan para tetangga yang sedang mengurusi jenazah sang ibu. Ia perhatikan wajah yang teduh tersenyum manis dengan jasad yang sudah terbujur kaku, dengan cepat ia peluk jenazah ibunya yang akan dimandikan.

Orang-orang yang melihatnya merasa aneh sebab dua jam yang lalu ia terlihat cuek dengan kondisi ibunya akan tetapi saat ini berbeda dengan sebelumnya. Sampai ada yang mengatakan bahwa ia kerasukan setan mana, atau ia mendapatkan hidayah dari mana?

“Ibu bangun, aku minta maaf bu…..bangun!” ucapnya.

“Bangunlah nak, relakan dan ikhlaskan ibumu, biarkan ia mengarungi alam selanjutnya, doakanlah sebab dengan mendoakannya ia akan memaafkanmu” ujar pak RT yang sedari tadi di sisi jenazah.

Mulai saat itu, sang gadis berubah menjadi orang yang sangat dicintai tetangganya, sikap dan sifatnya yang dulu merasuki jiwanya kini dibuang entah kemana. Rasa penyesalan akan sikap memaksa dan kebenciannya kepada sang ibu, ia ubah dengan doa yang sellau terucap dari bibirnya khusus untuk sang ibu tercinta.

Hikmah dari kisah inspirasi diatas :

  1. Kasih sayang orang tua, terutama ibu sangat tulus kepada anak.
  2. Ibu dengan tulus mencintai anak-anaknya bahwa merelakan nyawanya sendiri demi kebahagian anak-anaknya.
  3. Meski sering kali dikecewakan dan disakit oleh anaknya, ibu tetap membalas semua dengan kasih sayang.
  4. Sebagai seorang anak, wajib hukumnya untuk taat kepada kedua orang tua.
  5. Surga ditelapak kaki ibu, hidup akan menjadi lebih mudah dan berkah dengan berbakti kepada orang tua, terutama ibu.

Demikian kisah inspirasi kali ini. Semoga kita dapat memetik hikmah dan pelajaran dari kisah diatas. Jangan lupa share jika artikel ini bermanfaat untuk Anda. Mari tebarkan kebaikan di media sosial.

Written by Widiyanti
Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang kerana mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau. (Umar bin Khattab) Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *