[Motivasi Islami] Ketika Dirimu Mulai Mengeluh Saat Semua Terasa Sulit, Bacalah Ini!

Perilaku mengeluh itu terjadi bersumber dari banyak sebab. Kita hidup dalam kekurangan, kita mengeluh, kita mengalami kehilangan kesempatan, kita mengeluh, kita menghadapi kesulitan belajar, kita mengeluh, dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita mudah mengeluh. Bahkan, bagi kita yang tidak mengalami hal-hal semacam itu, masih saja, kita suka mengeluh.

Dalam menghadapi masalah-masalah tertentu yang terjadi, banyak diantara kita yang menyikapinya dengan mengeluh.

Baca juga: √ 107 Kata Kata Bijak Motivasi Hidup Menyentuh Hati, Cocok untuk Caption Sosmed

Entah mengeluh kepada keluarga, saudara, kerabat, maupun kepada teman. Tidak jarang pula kita mengeluh pada benda-benda mati, seperti pada benda kesayangan.

Saat ini, tren mengeluh juga marak di media sosial. Diantara kita terkadang-kadang-mungkin juga selalu-mengeluh di media sosial.

Semua itu terjadi lebih karena sifat kita yang terbiasa mengeluh. Kita hidup berkecukupan, mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, dan tidak ada masalah-masalah berarti, masih saja kita mengeluh.

Hidup yang cukup malah membuat kita ingin menambah sehingga mengeluh disertai munculnya sifat rakus disatu sisi dan kikir sisi lain.

Kondisi kita yang demikian telah digambarkan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat, yang tetap mengerjakan sholatnya,” (QS. Al-Ma’aarij [70]:19-22).

Ayat ini merupakan gambaran dari manusia yang disandera oleh sifat keluh kesah dan kikir. Manusia acap kali berkeluh kesah ketika hidupnya lagi sempit, kekurangan, dan ditimpa musibah.

Ia mengeluh seolah-olah tidak ada kebaikan didalam hidupnya, dan berputus asa atas sesuatu yang telah terjadi padanya.

Disisi lain, ketika manusia sedang berada pada masa jaya, harta berlimpah, dan banyak kebaikan hidup yang diterima, ia menjadi kikir, ia melupakan begitu saja orang lain yang sudah sewajarnya ia bantu (dengan hartanya).

Ia tidak menyisihkan sebagian karunia Allah SWT yang telah ia terima untuk beramal sholeh, seperti menyumbangkan sebagian hartanya pada masjid.

Pendeknya, ketika berada pada posisi mujur atau kaya raya, ia tidak sudi menunaikan hak Allah SWT yang ada pada hartanya itu.

Itulah salah satu sifat manusia yang digambarkan oleh Allah SWT didalam ayat tadi. Lebih jauh lagi, kebiasaan mengeluh pada hal-hal nisbi (mengeluh pada sesama makhluk) karena suatu persoalan, tentu bukan jalan yang baik untuk mengatasi masalah-masalah yang ada.

Mengeluh tidak menyelesaikan persoalan.

Sebab persoalan atau masalah bukan untuk dikeluhkan tetapi untuk diselesaikan. Meskipun mungkin ditengah jalan menuai kegagalan, hal itu bukan alasan bagi kita untuk membiasakan diri mengeluhkan keadaan, juga bukan alasan untuk mengeluh kepada banyak orang.

Hal demikian tidaklah berlaku bagi orang-orang yang dihatinya selalu ada iman. Dalam gambaran lebih sederhana, kita yang mungkin kesusahan akan tetap berusaha menghadap Allah SWT (dengan mengerjakan sholat) dan kita yang sedang lapang akan tetap berupaya agar kelapangan itu tidak menenggelamkan kita (dengan tidak melupakan Allah SWT tetapi semakin giat dalam perkara amal ibadah).

Dengan kata lain, jika pun kita ingin mengeluh, maka keluh-kesahkan persoalan kita kepada Allah SWT melalui munajat kepadanya (sholat dan doa).

Suatu keadaan yang memungkinkan kita untuk mengeluh, pada hakikatnya adalah kesempatan bagi kita untuk menghadap Allah SWT dan menyampaikan keluh kesah kepada-Nya. Berharap kepada-Nya dan meminta jalan kemudahan dalam hidup kita.

Dengan demikian, mengeluh kepada Allah SWT bukan perkara hina dan bukan larangan. Sebaliknya, mengeluh kepada Allah SWT adalah dianjurkan oleh-Nya.

Diantara perbuatan mengeluh kepada Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub yang dikisahkan oleh Allah SWT didalam Al-Qur’an.

“Ya’qub menjawab, “Sesungguhnya, hanyalah kepada Allah aku mengadukan ksusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui Allah dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya,” (QS. Yusuf [12]:86).

Ayat ini adalah contoh kisah dari salah satu utusan Allah SWT yang mulia, Nabi Ya’qub.

Beliau dengan tegas mengatakan bahwa kesusahan dan kesedihan yang menimpa hanya diadukan atau dikeluhkan kepada Allah SWT ini patut kita contoh agar kita tidak mudah berkeluh kesah pada sesama makhluk.

Baca Juga: Mengeluh Pun Tak Ada Gunanya, Lebih Baik Sibuk Berbaik Sangka Pada Allah dan Melatih Sabar

Menyampaikan keluh kesah kepada Allah SWT lewat munajat akan melahirkan keteguhan didalam diri sehingga kita tidak mudah mengeluhkan keadaan kepada sesama manusia. Mengeluh kepada Allah SWT akan melahirkan sikap sabar dan pantang menyerah dalam menjalani hidup.

Karena, Allah SWT Maha Penolong. Dia sebaik-baiknya tempat kita berkeluh-kesah, dan hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan atas masalah-masalah yang tengah menimpa kita.

Sumber: Buku “Jangan Sampai Menyerah Saat Semua Terasa Sulit” Karya Insan Nurrohiem. Halaman 39-44.

Dapatkan artikel terbaru seputar Mengeluh dan motivasi lain dari Widiynews.com atau artikel terbaru dari Widiyanti.

Artikel Terbaru

Bagikan jika suka:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

From our editorial team

Widiynews.com adalah tempat menulis untuk semua orang. Anda juga bisa menjadi bagian kami untuk menginspirasi banyak orang melalui karya tulisan. Yuk kirim juga tulisanmu sekarang!

Rekomendasi Lainnya

Artikel Terkait

Kebijakan Berkomentar:

Mohon untuk berkomentar relevan sesuai topik bahasan! Komentar tidak relevan, SPAM atau memiliki link aktif akan kami hapus.

Leave a Comment

Follow Fanspage Widiynews