[Motivasi] Bahaya Pesimis dalam Islam, Sumber Keputusasaan!

Masih sering bersikap pesimis? Apa penyebab seseorang sering berfikir pesimistis? Bagaimana bahayanya dalam Islam? Banyak hal mengapa kita sering memandang kehidupan ini seolah tak adil.

Seperti sudah disinggung, Allah SWT melarang kita untuk terus menerus tenggelam dalam duka cita oleh masalah-masalah yang menimpa kita, baik dengan cara mengeluh, putus asa, galau, dan memandang kehidupan ini tidak adil.

Baca juga: Berhentilah Mengeluh dengan Keadaanmu Saat Ini, Terimalah Yang Terjadi dengan Lapang Dada!

Semua itu terangkum dalam satu kata, pesimis.

Pesimis dan segala bentuk pengejawantahannya dalam sikap adalah perkara tak terpuji karena pandangan orang pesimis selalu memandang sesuatu dengan buruk, penuh kebimbangan, ragu-ragu untuk berbuat demi mencapai harapan, dan sering goyah dalam hampir segala urusan.

Akibatnya, orang pesimis selalu takut untuk bertindak, takut gagal, takut menemui kesulitan yang pada akhirnya berkubang dalam keadaan pesimis berkepanjangan.

Disisi lain, sikap optimis menghilang dari dirinya, berganti dengan sikap diam dan harapan utopis berupa datangnya keberuntungan dan kesuksesan, disaat yang sama, ia tak menjalankan tugas sebagai manusia, berupaya meraih kebentungan dan kesuksesan dengan pandangan optimis.

Sikap pesimis biasanya diiringi oleh perilaku selalu menyalahkan keadaan dan menyalahkan orang lain sebagai pembenaran atas sikap pesimisnya.

Padahal, tidaklah selalu demikian keadaannya. Boleh jadi kesalahan yang sesungguhnya terletak pada dirinya sendiri, itulah yang disebut sikap pesimis.

Ciri-Ciri Orang Pesimis

Ciri orang yang pesimis pada dasarnya adalah orang yang mudah putus asa terhadap rahmat Allah SWT. Ia membunuh harapannya sendiri, menyelimuti hidupnya dengan kekelaman, dan menutup pilihan maupun peluang yang sebenarnya sudah terbentang didepan mata.

Seseorang yang bersikap demikian sama artinya dengan meragukan kekuasaan Allah SWT.

Sikap pesimis, mudah putus asa, suka meragukan kekuasaan Allah SWT merupakan sikap-sikap yang bertentangan dengan keadaan manusia sebagai wakil Allah SWT (khalifah) yang bertanggung jawab untuk menebarkan kebajikan didunia ini.

Dengan tugas itu, sudah sewajarnya manusia memandag jauh ke depan dan tidak menenggelamkan diri ke dalam lembah keputusasaan yang sebenarnya menyengsarakan diri sendiri.

Harapan itu Selalu Ada Selama Kita Optimis

Manusia yang lahir ke dunia dengan seperangkat tanggung jawab pada agama, sosial, dan pada diri sendiri, sebenarnya sudah dibekali kemampuan oleh Allah SWT untuk mengembang tanggung jawab tersebut.

Orang-orang yang hidup secara pesimis, sama saja dengan tidak mempercayai pemberian Allah SWT berupa bekal untuk bertanggung jawab atas hidup yang membentang dihadapannya.

Bagi kita kaum muslimin, sikap demikian dilarang oleh Allah SWT dan jelas-jelas kesalahan yang tidak boleh dilakukan oleh siapapun.

Betapapun sulit kondisi yang kita hadapi, betapapun ruwetnya masalah yang menimpa, kita tetap tidak boleh membunuh harapan., tidak boleh putus asa.

Selama nyawa masih melekat dibadan dan selama kita hidup dibawah matahari yang sama, maka harapan itu selalu ada.

Loading...

Sikap Pesimis dan Putus Asa Bertentangan dengan Fitrah Manusia

Karena itu, bangunlah optimisme dalam kehidupan ini, Allah SWT telah berfirman :

“Dan janganlah kamu berputus asa dalam rahmat Allah. Sesungguhnya, tiada putus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf [12]:87).

Melalui ayat tersebut, Allah SWT melarang sikap pesimis dan berputus asa. Sebab, putus asa dari rahmat Allah SWT merupakan sifat orang-orang sesat dan pesimis terhadap karunia-Nya merupakan sikap orang-orang kafir.

Mereka orang-orang pesimis, tidak mengetahui keluasan rahmat Allah SWT. Siapa saja yang jatuh dalam perbuatan terlarang ini berarti ia telah memiliki sifat yang sama dengan mereka.

Loading...

Sebagai kaum muslimin, sudah sewajarnya bila hari-hari yang terbentang kita hadapi dengan sikap optimis dan penuh harapan.

Dengan cara itu, kita tidak akan mudah lemah diri dihadapan masalah, kita pun akan terhindar dari mental pander.

Apapun masalah yang kita hadapi, kita tidak lantas memandang kehidupan ini tidak adil pada kita. Sebaliknya, kita akan memandang jauh ke depan disertai usaha-usaha nyata untuk meraih rahmat Allah SWT dengan terus meningkatkan ketakwaan kepada-Nya.

Pentingnya Selalu Optimis dalam Islam

Selain itu, sikap pesimis dan putus ada bertentangan dengan fitrah manusia yang telah dibekali berbagai kelengkapan oleh Allah, baik kelengkapan pada tubuh dan jiwa, maupun berupa fasilitas.

Kelengkapan-kelengkapan itu yang merupakan rahmat Allah SWT untuk umat manusia sudah lebih dari cukup bagi kita untuk menjauhi sikap pesimis.

Allah SWT telah berfirman :

“Dan, Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur,” (QS. An-Nahl [16]:78).

Dengan hati kita bisa merasa, dengan kepala kita bisa berfikir, dengan tangan kita bisa berbuat, dengan mata dan bibir kita bisa melihat dan berbicara, dengan kaki kita bisa melangkah, dan banyak lagi yang melekat pada tubuh kita yang semuanya dapat kita fungsikan dengan baik.

Baca juga: Berhentilah Mengeluh! Jadikanlah Ujian Hidup Sebagai Pelebur Dosamu

Pemberian Allah SWT yang melekat pada tubuh tersebut tentunya sangat luar biasa.

Dengan itu semua, kita dapat berusaha menggapai nikmat Allah SWT dijagat raya ini.

Lantas masih pantaskah kita mengeluh dan menyalahkan keadaan hidup kita saat ini?

Sumber: Buku Jangan Sampai Menyerah Saat Semua Terasa Sulit karya Insan Nurrohiem, halaman : 55-60.

Semoga bermanfaat dan mohon bagikan artikel ini di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya untuk membantu website ini terus berkembang. Terima kasih ya.

Populer Pekan Ini

Loading...

Rekomendasi Widiynews

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More