[Motivasi Islami] Bahaya Hati yang Mati (Sakit) dalam Islam

Hati adalah sumber amal perbuatan manusia selama hidup didunia, entah yang berkaitan dengan sifat, sikap maupun tingkah laku.

Bahkan, disaat tubuh manusia sedang istirahat dalam baluran tidur malam, hati tetap terjaga. Bukankah dalam tidur kita dapat merasa bahagia atau merasa takut sesuai mimpi yang datang?

Itulah hati, ia mencakup keseluruhan dimensi hidup kita. Mulai dari pantulan anggota badan yang terlihat hingga suara batin yang hanya kita sendiri yang merasakannya.

Karena itulah, didalam salah satu haditnya, Rosulullah SAW menggambarkan hati sebagai bagian integral manusia yang menyeluruh.

“Sesungguhnya, dalam tubuh ini ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia (segumpal daging itu) adalah hati,” (HR. Bukhari).

Hati Jadi Penentu Amal Perbuatan

Hadits diatas menunjukkan posisi hati bagi manusia. Ia menentukan baik tidaknya jasad.

Bila hati sehat atau baik, maka tingkah laku yang muncul pada jasad berupa kebaikan dan perilaku-perilaku mulia.

Bila hati sakit, tingkah laku yang muncul pada jasad akan cenderung menuruti hawa nafsu dan dekat dengan perilaku-perilaku tercela. Lebih parah lagi bila hati telah mengalami kematian.

Hati yang mati membuat manusia sepenuhnya dikendalikan oleh hawa nafsu dan tidak ada pertimbangan sama sekali untuk berperilaku mulia. Yang ad ahanya keburukan demi keburukan.

Seseorang yang hatinya telah mati akan menghamba pada selain Allah SWT. Dari hati yang sakit, apalagi hati yang mati, muncul hal-hal yang mendatangkan masalah.

Bahaya Hati yang Sakit dan Mati dalam Islam

Dalam Islam, kedudukan hati bagi manusia termanifestasi dari setiap perilakunya: niat. NIat atau tujan yang kita dengungkan di hati sebagai pengungkapan dari seseuatu yang hendak kita lakukan lewat jasad.

Jadi, tergantung suara hatilah segala hal yang kita perbuat (dan yang kita dapatkan setelah berbuat).

Ketergantungan pada hati (niat) itu disampaikan oleh Rosulullah SAW didalam sebuah sabda beliau :

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya pula. Barang siapa hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya sesuai ke mana ia hijrah,” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadits tersebut secara tersirat mengungkapkan pentingnya niat dalam setiap amal.

Yaitu, sesuatu yang membangkitkan sebuah tindakan (amal) dan yang menjadi motivasinya.

Untuk apa kita beramal? Apa yang kita harapkan darinya? Apakah semata ibadah kepada Allah SWT, atau hanya untuk pamer atau mendapatkan pujian dari manusia?

Hadist tersebut juga menyerukan agar jagnan sampai kita mencampuradukkan niat dengan segala sesuatu diluar tujuan keberadaan kita didunia, yakni menghamba dengan hati yang tulus kepada Allah SWT.

Diluar tujuan itu, amal ibadah kita hanyalah sia-sia belaka dan tidak ada gunanya.

Loading...

Seperti kita sholat dengan tujuan mendapatkan pujian manusia, sedekah dengan harapan mendapatkan sanjungan, haji karena pamer kekayaan atau semata demi gelar.

Tujuan-tujuan duniawi semacam itu, mengotori kemurnian niat hati kita. Hati menjadi terkotori dan hakikat dari menghamba kepada Allah SWT sudah tak murni lagi.

Jika hal demikian terjadi, maka hati kita sebenarnya sedang mengalami masalah. Sementara itu, sifat mulia dari hati berupa sifat ketuhanan (rabbaniyah) yang menyebabkan menusia berperilaku mulia akan memudar karena dikalahkan oleh sifat :

  1. Sabu’iyah : Hati menjadi buas
  2. Bahimiyah : Menyerupai binatang
  3. Syaithaniyah : Menyerupai setan
Loading...

Sifat dan perilaku demikian yang berusmber dari hati yang sakit dan mati adalah akar dari masalah-masalah yang menyandera hidup manusia.

Oleh mereka yang hatinya sakit dan mati, cobaan yang menimpa dihadapi dengan putus asa disertai perbuatan tercela, dan berpaling dari agama Allah.

Kegagalan yang terajdi dan bisa jadi karena disebabkan oleh tingkah lakunya sendiri dipandang sebagai ketidakadilan Tuhan terhadap dirinya. kekayaan membuatnya terlena dan kemiskinan membuatnya tenggelam dan putus harapan.

Kondisi seperti ini telah Allah sindir melalui firman-Nya didalam Al-Qur’an :

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka,” (QS. Al-Muthaffifin [83]:14).

Perilaku Orang yang Hatinya Sudah Mati

Orang yang hatinya sakit dan mati selalu mengira bahwa sesuatu yang mereka lakukan adalah baik (menurut dirinya sendiri) tanpa mempertimbangkan dosa, dampak buruk dari perbuatannya terhadap orang lain, dan hanya berdasar pada syahwat dan duniawi.

Padahal, perbuatan tersebut (semakin) menutupi hatinya dari perkara-perkara baik, dari cahaya illahi. Ibarat air, hati tersebut telah sedemikian keruh sehingga hanya menghadirkan kegelapan.

Dengan kata lain, perilaku mulia yang berorientasi pada kepentingan akhirat telah lenyap dari jiwa orang yang hatinya sudah mati.

Alhasil, keduniawian dan gelimang godaannya menjadi tujuan utama dalam hidup. Harta benda diburu habis-habisan tanpa peduli aturan dan akan setengah mati bila hal itu tidak didapatkan.

“Bahkan, kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal,” (QS. Al-A’la [87]:16-17).

Demikianlah keadaan hati orang yang sakit dan mati. Kehidupan duniawi menjadi segala-galanya bagi mereka dan lalai dalam menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Kecintaan pada dunia secara berlebihan itu, sebagaimana menurut Ibnu Qayyim, pada akhirnya tidak akan lepas dari tiga penderitaan dan kerusakan, yakni kekalutan pikiran yang tidak pernah hilang, keletihan yang berkepanjangan, dan penyesalan yang tiada akhir.

Kesimpulan

Itulah kondisi dan perilaku orang-orang yang diperbudak oleh cinta buta pada dunia. Masalah-masalah yang menimpa diri mereka sesungguhnya datang dari perbuatan mereka sendiri.

Dari kondisi hati yang sakit dan mati, hati yang mati dapat disebabkan oleh cinta buta pada dunia dan gelimang godaannya. Dan semua itu menjauhkannya dari perilaku berserah diri kepada Allah SWT, Tuhan yang pencinta hati dan yang mampu membolak-balikkan isi hati.

Sumber: Jangan Sampai Menyerah, Saat Semua Terasa Sulit. Buku karya Insan Nurrohiem (Halaman:61-68)

Populer Pekan Ini

Loading...

Rekomendasi Widiynews

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More