Widiynews

Mengingat Allah Bukan Hanya Kewajiban, Tapi Kebutuhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Sejatinya, mengingat Allah SWT bukan hanya kewajiban, tapi juga kebutuhan. Kita butuh Allah SWT di segala kondisi, baik ketika sedih ataupun bahagia, ketika lapang atau sempit, terpuruk atau beruntung, dan saat-saat lainnya.

Hanya dengan mengingat Allah SWT hati dan hidup kita menjadi tenteram. Dengan mengingat Allah SWT pula, kita akan senantiasa berupaya menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan akhlak tercela.

Allah SWT telah berfirman didalam Al-Qur’an:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d[13]:28).

Mengingat Allah SWT akan menjadikan hati kita tenteram. Semakin kita mengingat-Nya, semakin tentram hati kita dan semakin baiklah perbuatan kita.

Sebaliknya, lalai dari mengingat-Nya akan menjadikan hati kita gelisah dan rentan berbuat dosa.

Mengingat Allah SWT yang lazim kita lakukan dengan doa dan dzikir, adalah bukti bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Baca juga: Inilah 4 Dzikir yang Paling Disukai Allah

Melalui doa, kita meminta dan memohon petunjuk kepada Allah SWT, kita mengadu dan berkeluh kesah tentang berbagai persoalan dan masalah kepada-Nya. Melalui dzikir kita menyebut nama dan keagungan-Nya.

Mengingat Allah SWT juga menjadi pertanda hidup atau matinya hati kita. Hati yang senantiasa terhubung dengan Allah SWT pertanda bahwa hati itu masih hidup. Dengan hati yang hidup itu, kita dapat menjaga diri dari hal-hal yang dapat mematikan iman dan takwa kepada-Nya.

Sedangkan, hati yang tidak terhubung dengan Allah SWT merupakan pertanda hati yang mati dan hati yang telah mati dapat menghilangkan potensi baik didalam diri kita.

Sebagaimana kita tahu, segala keburukan yang terjadi didunia ini bersumber dari hati yang sakit atau mati.

Perilaku mengingat Allah SWT baik dalam bentuk doa maupun dzikir, merupakan penerang hati. Rosulullah SAW telah bersabda:

“Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dan yang tidak pernah berdzikir kepada-Nya bagai orang yang hidup dan mati,” (HR. Baihaqi).

Demikianlah perumpamaan orang yang mengingat Allah SWT (dzikir). Keutamaan dzikir tentu akan kembali kepada kita yang melakukannya. Munajat yang kita panjatkan dan keagungan Allah SWT yang kita lantunkan dalam dzikir akan menguatkan keimanan kita kepada-Nya.

Dalam Bahasa Imam Ghazali, dzikir menimbulkan uns (kedekatan hubungan) dan hub (kecintaan) kepada Allah SWT.

Kedekatan hubungan tersebut melahirkan upaya dalam diri kita untuk menjaga dan terus melestarikan hubungan dengan Allah SWT. Tanpa dzikir, hati kita akan mati dan pastinya akan mencelakakan diri  kita sendiri.

Itulah kenapa kita harus senantiasa mengingat Allah SWT baik melalui dzikir ataupun doa. Dengan mengingat-Nya, maka kita akan terselamatkan dari yang namanya putus asa, terutama dari rahmat Allah apalagi menyerah terhadap masalah yang menimpa.

Mengingat Allah SWT harus benar-benar kita jadikan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari kita, baik saat sedang berdiri, duduk, ataupun berbaring.

Terkait mengagungkan Allah SWT didalam mengingat-Nya, Rosulullah Muhammad SAW telah bersabda :

“Ucapan yang paling Allah sukai ada empat, subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, allahu akbar. Tidak ada bahaya dari manapun kamu mulai,” (HR. Muslim).

Dengan demikian, dzikir yang berupa ucapan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (allahu akbar), istighfar (astagfirullah), dan tahlil (laa ilaaha illallah) menjadi sebab Allah menyelamatkan kita dari deraan putus asa, musibah, maupun dari godaan hawa nafsu.

Terkait doa, Rosulullah SAW telah bersabda:

“Tidaklah seorang muslim berdoa, yang didalam doa tersebut tidak terdapat unsur dosa dan memutuskan silaturahmi, maka Allah akan memberi salah satu dari tiga (kebaikan) kepadanya, baik Allah mengabulkan langsung doa tersebut, atau menangguhkannya untuk nanti di akhirat, maupun Allah memlaingkan keburukan semisal doa tersebut darinya,” (HR. Ahmad).

Melalui hadits diatas, Nabi Muhammad SAW menegaskan keutamaan dan kekuatan yang terkandung didalam doa. Selama doa yang kita panjatkan tidak diiringi dengan perbuatan dosa dan tidak memutus silaturahmi, Allah SWT pasti akan mengabulkan doa kita. Tentu saja, adalah hal prerogatif Allah kapan doa kita akan dikabulkan.

Terlebih lagi, sebagaimana ditegaskan oleh Rosulullah, doa menjadi perisai bagi kita dari keburukan.

Dengan doa yang disertai dengan upaya-upaya nyata, kita dapat terhindarkan hal-hal buruk didunia. Hal-hal buruk tersebut mencakup banyak hal, baik terkait dengan rezeki, tingkah laku, dan lain sebagainya.

Karenanya, mengingat Allah SWT melalui doa dan dzikir mutlak harus kita lakukan, kapan dan dimana saja.

Lagi pula, doa dan dzikir dapat kita lakukan tidak hanya setelah sholat, tetapi juga kita lakukan ditempat kerja, ditempat belajar, saat hendak tidur atau bangun tidur, ketika bepergian, maupun di waktu atau tempat-tempat lainnya. Intinya, ingatlah Allah SWT selalu.

Sumber: Buku Jangan Sampai Menyerah, Saat Semua Terasa Sulit. Karya: Insan Nurrohiem. Halaman:192-197

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

From our editorial team

Widiynews.com adalah tempat menulis untuk semua orang. Yuk kirim juga tulisanmu sekarang

Artikel Terkait

Baca Juga

Kebijakan Berkomentar:

Komentar Anda adalah tanggapan dari konten yang diatas yang sudah Anda baca bukan “SPAM”. Maaf, SPAM dan komentar disertai LINK AKTIF terpaksa kami hapus!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *