Sejarah Diperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW – Peristiwa 12 Rabiul Awal

Sejarah Diperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW - Peristiwa 12 Rabiul Awal

Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah (20 April 571 M) dan pada tahun ini tepat pada Sabtu, 9 November 2019. Dalam Islam, peristiwa kelahiran Nabi ini dinamakan serta dirayakan dengan nama Maulid Nabi.

Peristiwa sejarah lahirnya seorang bayi yang membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia, terutama bagi umat Islam dan seluruh dunia. Nabi Muhammad dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Muthallib dan Sayyidah Aminah al-Zuhriyyah binti Wahab.

Memperingati hari kelahiran Rosulullah SAW adalah sebuah ungkapan dari suka cita dan luapan kegembiraan atas kehadiran Rosulullah SAW di muka bumi. Berikut sejarah diperingatinya Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal / 9 November 2019 yang kami lansir dari berbagai sumber.

Sejarah Diperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW Setiap 12 Rabiul Awal

Menurut hadits riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas, Rasulullah dilahirkan pada malam yang tenang:

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ

“Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun Gajah.” (Imam Ibnu Hisyam, juz 1, halaman 183).

Kala itu, perasaan Ibu Nabi Muhammad SAW begitu tenang dan damai menjelang 12 hari sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Aminah mengalami 12 peristiwa jelang kelahiran Nabi Muhammad SAW, berikut 12 peristiwa jelang kelahiran Nabi Muhammad:

1. Malam hari pada tanggal pertama Rabi’ul Awwal, Aminah merasa sangat tenang dan damai.

Ia diberi ketenangan dan kedamaian oleh Allah jelang kelahiran sang putra.

2. Pada tanggal kedua, Aminah menerima seruan berita dari Allah bahwa ia akan mendapatkan Anugerah yang luar biasa dari Allah SWT.

3. Pada tanggal ketiga Rabi’ul Awwal, ia kembali mendapatkan seruan dari Allah bahwa ia akan segera melahirkan Nabi Muhammad SAW yang menjadi suatu anugerah mulia.

4. Pada tanggal keempat, Aminah mendengar jelas di telinganya terdengar suara dzikir yang para malaikat untuknya.

5. Pada hari kelima Aminah mendapat mimpi, ia bertemu dengan Nabi Ibrahim.

Dalam mimpinya Aminah bertemu dengan Nabi Ibrahim, ia diperintah untuk bergembira karena sebentar lagi ia akan melahirkan seorang Nabi yang memiliki sifat mulia dan agung.

“Bahagialah engkau, wahai Aminah dengan lahirnya Nabi yang agung ini, Nabi pemilik cahaya yang terang benderang, Nabi pemilik keutamaan, Nabi pemilik kemuliaan, dan Nabi pemilik segala bentuk pujian,” kata Nabi Ibrahim kepada Aminah dimimpi Aminah malam itu.

6. Pada malam keenam, Aminah alam semesta begitu terang dipenuhi dengan cahaya di sudut-sudut alam semesta, yang menjadikan tidak ada kegelapan malam itu.

7. Pada hari ketujuh, Aminah melihat para malaikat berbondong-bondong mendatangi rumahnya.

Para malaikat menyampaikan kabar bahwa waktu kelahiran Nabi Muhammad sudah semakin dekat.

8. Pada malam berikutnya, Aminah mendengar berita yang menyerukan kepada seluruh penghuni alam, untuk berbagi karena kelahiran Rasulullah semakin dekat.

9. Pada malam ke sembilan, ia benar-benar tidak merasakan sakit sedikitpun, yang ada dia mendapatkan perasaan damai dan tenang jelang kelahiran sang putra.

10. Pada malam kesepuluh, Aminah melihat tanah Mina dan Khaif bergembira menyambut kelahiran Muhammad.

11. Pada hari kesebelas, Aminah melihat seluruh masyarakat senang menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

12. Pada malam terakhir, Aminah melihat langit begitu cerah.

Awalnya ibu Nabi Muhammad SAW ini menangis karena sendirian di rumah. Abdul Muthalib, kakek dari Rasulullah SAW, sedang bermunajat di Ka’bah.

Namun saat proses persalinan tiba, Allah mengutus empat wanita utama untuk membantu, menjaga dan menemani Aminah selama proses melahirkan.

Yang membantu Aminah ketika proses persalinan adalah Hawa istri Nabi Adam, Sarah istri Nabi Ibrahim, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran ibunda Nabi Isa.

Dalam kitab Al Quran juga disebutkan bahwa bumi sampai bergetar hebat dan seluruh langit pada hari itu terang dipenuhi cahaya setelah Rasulullah dilahirkan.

Kehebatan peristiwa kelahiran Nabi Muhammad juga memunculkan mukzizat lain. Istana Kisra juga berguncang dahsyat sehingga menyebabkan 14 balkonnya roboh.

Sedangkan api abadi yang disembah oleh umat Majusi juga diriwayatkan padam. Ka’bah pun disebutkan ikut bergetar selama tiga hari karena bahagia menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad ini menjadi peristiwa penting bagi seluruh umat manusia. Para umat Islam selalu memperingati Maulid Nabi untuk merayakan hari kelahiran Nabi agung kita Muhammad SAW.

Karena begitu banyak bukti dan peristiwa yang terjadi ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka tanggal tersebut menjadi hari bersejarah yang selalu diperingati seluruh kaum muslim.

Cerita Abu Dujanah yang Membuat Rosulullah Meneteskan Air Mata

Cerita Abu Dujanah yang Membuat Rosulullah Meneteskan Air Mata

PADA masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah.

Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar.

Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai. Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa.

Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.” “Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. “Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki.

Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” “Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya.

Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya. Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan.

Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.”

Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana.

Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu.

Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.”

Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras. Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas.

Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma.

Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri.

Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo.

Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu ‘anh datang.

Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).”

Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.” Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallamkemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya.

Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku.

Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah.

Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah.

Ia keheranan tiada tara. Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keuarganya dari makanan harta haram.

Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram.

Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âlasepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad.

Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak.

Karena dunia ini adalah dâruz zar‘i (tempat bercocok tanam), bukan dârul hashâd (tempat memanen).

Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H).

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَی رُوْحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ فِی الْأَرْوَاحِ وَعَلَی جَسَدِهِ فِی الْأَجْسَادِ وَعَلَی قَبْرِهِ فِی الْقُبُوْرِ وَعَلَی اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمِ

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada ruh Nabi Muhammad saw, diantara semua ruh, kepada jasadnya diantara semua jasad, kepada kuburnya diantara semua kubur, dan limpahkanlah pula rahmat dan keselamatan kepada keluarganya dan sahabatnya…. Aamiin yaa Robbal-aalamiin[]

Rosulullah Pun Menangis Ketika Shalat

Rosulullah Pun Menangis Ketika Shalat

Rosulullah Muhammad SAW pun menangis ketika shalat

Ubaid bin Umar dan ‘Atha’ pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha (RA).

”Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah SAW.”

Kemudian, sambil terisak, Aisyah menjawab, “Kana kullu amrihi ‘ajaba.” (Sungguh semua ihwal Rasululullah SAW sangat menakjubkan.)

Baca: Jangan Tunda Shalatmu…..

Aisyah melanjutkan, “Pada suatu malam, beliau datang kepadaku sehingga kulit kami saling bersentuhan. Beliau lalu berbisik, ‘Ya Khumaira (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah, artinya, ‘wahai yang berpipi kemerah-merahan’), izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.’

Maka, beliau meninggalkanku dan mengambil bejana air untuk berwudhu. Tidak lama setelah beliau takbir, aku mendengar suara beliau terisak-isak. Terasa dadanya bagaikan terguncang.

Rasulullah terus-menerus menangis, sehingga air matanya membasahi janggut dan bertetesan ke tanah. Rasulullah larut dalam tangisan sampai berkumandangnya adzan Subuh.

Bilal kemudian memberi tahu, waktu shalat Subuh telah masuk. Bilal menyaksikan keadaan Nabi SAW yang masih terisak.

Kemudian, dia (Bilal) berkata, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Padahal, dosa-dosamu telah diampuni Allah. Engkau adalah kekasih Allah yang paling utama?’

Baca: Jumlah Rakat dan Tata Cara Shalat Witir Rosulullah SAW

Rasul SAW menjawab, ‘Sungguh besar kasih sayang-Nya, tetapi betapa aku belum menjadi hamba yang bersyukur.'”

Abdullah bin as-Syikhir berkata, “Saya datang kepada Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang shalat. Maka terdengarlah isak tangis beliau yang bergemuruh di dalam dadanya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana” (Diriwayatkan oleh Dawud dan Turmudzi).

Dari hadis-hadis di atas, semoga kita mengambil hikmah. Betapa Nabi Muhammad SAW masih menangis dan merasakan belum menjadi hamba yang bersyukur.

Padahal, jelas beliau adalah hamba yang ma’shum, yakni terjaga dan bersih dari dosa.

Selain itu, Allah SWT juga memuliakannya melebihi siapapun makhluk ciptaan-Nya. Rasulullah adalah al-Musthafa (manusia pilihan) yang pertama kali memasuki surga sebelum yang lain memasukinya.

Lantas, bagaimana dengan kita?

Apakah kita telah dijamin masuk surga? Apakah keislaman kita diterima oleh Allah SWT?

Adakah kita masih tetap tertawa dan tidak menangis menghadapi akhirat yang setia menunggu untuk kita datangi?

Bilakah kita tetap tertawa menikmati dunia yang tidak pernah setia menemani ketika kita pergi, menghembuskan nafas terakhir? Apakah kita masih tetap tertawa dan lalai pada perjalanan akhir, sedangkan dunia itu bakal lenyap dan tenggelam ditelan waktu?

Kenikmatan di dunia ini hanya sesaat dan pasti akan sirna.

Mengapa air mata kita enggan menetes? Apakah hati kita telah beku? Ke manakah nurani kita? Apakah kita sudah bersyukur dengan yang telah kita raih atau sebaliknya kita makin kufur?

Baca: Inilah 10 Orang yang Shalatnya Tidak Diterima Allah SWT

Tangisan bagi seorang Muslim adalah ekspresi rasa harap dan cemas. Tangis demikian sebagaimana diungkapkan ketika seorang Muslim yang beriman teguh berdoa dan berzikir, memohon perlindungan dan ampunan Allah SWT. Kita saksikan, misalnya, tetesan air mata orang-orang saleh pada waktu shalat.

Inilah relevansinya saat menjelang puncak haji. Kita saksikan, air mata yang membasahi muka jamaah haji di Padang Arafah. Memang, menangis adalah bagian dari akhlak yang baik. Dalam Alquran, Allah berfirman, yang artinya, “Dan mereka tundukkan dagu dan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS [17]: 109, [19]: 58).[ra]

Sirah Kenabian: Nenek Moyang Rosulullah Muhammad SAW

Sirah Kenabian: Nenek Moyang Rosulullah Muhammad SAW

Sirah Kenabian: Nenek Moyang Rosulullah Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan Nabi Ibrahim as, dari perkawinannya dengan Hajar, istri yang kedua. Perkawinan ini mendapatkan putra, Nabi Ismail as.

Suku Quraisy adalah keturunan Fihr, yang dinamakan juga Quraisy, yang berarti saudagar. Ia hidup di abad 3 Masehi. Fihr adalah keturunan Ma’ad. Ma’ad adalah anak Adnan yang merupakan keturunan langsung dari Nabi Ismail as.

Qushay, salah seorang keturunan Fihr yang hidup di abad 5 Masehi, berhasil mempersatukan semua suku Quraisy, dan menguasai seluruh Hijaz, yaitu daerah selatan Jazirah Arab, yang di dalamnya terdapat kota Makkah, Madinah, Ta’if, dan Jeddah.

Ia memperbaiki Ka’bah, mendirikan istana, menarik pajak, dan menyediakan makan serta air peziarah Ka’bah yang datang setahun sekali. Tradisi ziarah ini sekarang, di masa Islam, menjadi ibadah haji.. Qushai meninggal tahun 480 M. Posisinya digantikan putranya, Abdud Dar.

Baca juga: Jumlah Rakaat Tahajud Rosulullah Muhammad SAW

Anak kedua Qushai, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul Manaf adalah Muthalib, serta kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus dipisah dengan pisau. Anak-anak Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari anak-anak Abdud-Dar yang kurang berwibawa di masyarakat.

Sepeninggal Abdud Dar, terjadilah sengketa antara keturunan Abdud Dar dan anak-anak Abdul Manaf. Selanjutnya diadakan pembagian tugas. Abdus Syam, anak Abdul Manaf, bertugas menyediakan air dan mengumpulkan pajak. Sedangkan cucu-cucu Abdud Daar bertugas menjaga Ka’bah, istana, dan bendera peperangan.

Setelah beberapa waktu Abdus Syam menyerahkan tugas ini kepada adiknya, Hasyim. Hasyim merupakan seorang tokoh terkenal di negeri Arab pada waktu itu karena keberanian dan kejujurannya.

Anak Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat itu. Hakim memutuskan bahwa hak tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai perjanjian, dipaksa meninggalkan Makkah. Salah seorang keturunan Umayah adalah Abu Sofyan. Putra Abu Sofyan, Muawiyah, kelak mendirikan dinasti Umayah.

Hasyim menikah dengan Salma binti Amr dari Bani Khazraj, perempuan sangat terhormat di Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah, yang dikenal juga dengan nama Abdul Muthalib. Abdul Muthalib inilah kakek Rasulullah SAW.

Hasyim meninggal tahun 510 M, dan posisinya digantikan saudaranya, Muthalib. Sepeninggal Muthalib tanggung jawab kekuasaannya dipegang oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib mula-mula tinggal di Madinah sampai Muthalib yang menggantikan Hasyim wafat.[]

Bacaan Bermanfaat Lainnya

Ribuan Malaikat Berdoa untuk Orang yang Dicaci Maki

Ribuan Malaikat Berdoa untuk Orang yang Dicaci Maki

Ribuan Malaikat Mendoakan Orang yang Dicaci Maki

Kisah – Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq. Ketika bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.

Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu. Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.

Kemudian, orang Arab Badui itu kembali memaki Abu Bakar. Kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun, dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah kembali memberikan senyum….

Semakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan. Kali ini, selaku manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab Badui tersebut dengan makian pula. Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Abu Bakar tanpa mengucapkan salam.

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!”

Rasulullah menjawab, “Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena ribuan malaikat di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT.”

Begitu pun yang kedua kali, ketika ia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum. Namun, ketika kali ketiga ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.

Hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu aku tidak ingin berdekatan dengannya, dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

Setelah itu menangislah abu bakar ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung….[]

Artikel Bermanfaat Lainnya

Ketika Kaki Nabi Muhammad Terinjak Seorang Prajurit

Ketika Kaki Nabi Muhammad Terinjak Seorang Prajurit

SETIAP perbuatan Rasulullah Muhammad SAW didasarkan pada petunjuk kebenaran. Tidak ada manusia dengan contoh atau suri teladan yang lebih baik daripada beliau.

Kisah berikut menggambarkan betapa hati-hatinya Rosulullah Muhammad SAW dalam bersikap.

Kisah Kaki Nabi Muhammad Diinjak Seorang Prajurit

Suatu hari, Rasulullah SAW memimpin seluruh prajurit Muslimin yang baru saja pulang dari Ekspedisi Tabuk. Di antara pasukan terdapat seorang laki-laki yang bernama Abu Rahal al-Ghifari. Rupanya, Abu Rahal mengantuk berat saat sedang menunggangi untanya.

Tanpa dia sadari, untanya berjalan terlalu dekat dengan Nabi SAW, yang juga sedang berada di atas unta.

Salah satu kaki Abu Rahal kemudian bersenggolan dengan sisi unta Rasulullah SAW. Tidak hanya itu, kaki salah seorang sahabat yang mulia ini lantas tidak sengaja menginjak kaki beliau.

Seketika, Nabi SAW mengaduh. Dengan tongkatnya, beliau kemudian mencolek kaki Abu Rahal agar sahabatnya itu bangun dari tidur dan tidak lagi menginjaknya.

Betapa terkejutnya Abu Rahal ketika mengetahui kaki Rasulullah SAW terinjak olehnya. Dia pun segera meminta maaf dan menjauhkan untanya dari beliau.

Dia kemudian bergerak ke pinggir dan diam sejenak, sehingga posisinya kini berada di bagian akhir arak-arakan pasukan Muslimin.

Hati Abu Rahal dirundung ketakutan. Dia cemas, jangan-jangan nanti nasib buruk menimpanya. Bagaimana mungkin dia menyakiti Rasulullah SAW?

Bagaimana jika Nabi SAW dan Allah tidak ridha padanya?

Bagaimana kalau nanti turun ayat Alquran yang mengecam perbuatannya tadi?

Betapa malunya Abu Rahal bila sampai semua kekhawatiran itu terjadi. Dia pun amat menyesali dirinya yang tadi mengantuk sehingga lalai.

Abu Rahal termasuk yang ikut dalam jihad ke Tabuk sembari membawa sejumlah hewan ternak. Adanya hewan itu berguna sebagai bekal para prajurit, baik untuk dimakan dagingnya maupun diperah susunya.

Ketika rombongan pasukan beristirahat sejenak, Abu Rahal memutuskan untuk menggembala kambing-kambingnya di hamparan gurun yang cukup jauh dari tempat mereka singgah.

Dengan begitu, dia sengaja menghindar bila Rasulullah SAW mencari-carinya. Ketika dilihatnya dari kejauhan rombongan Muslimin kembali bergerak, maka Abu Rahal pun mengikuti dari belakang. Dia lantas menjumpai salah seorang kawannya dan bertanya, “Apakah tadi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menanyakan keberadaan saya?”

“Iya, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah mencari Anda,” jawabnya.

Abu Rahal semakin khawatir, perkara dirinya menginjak kaki Nabi SAW tidaklah ringan. Dia pun menemui Rasulullah SAW ketika pasukan Muslimin kembali beristirahat.

Saat berada di hadapan Nabi SAW, Abu Rahal ditanya oleh beliau. “Wahai Abu Rahal, dari mana saja? Aku tadi mencari-cari engkau,” kata Rasulullah SAW.

“Ya, wahai Rasulullah. Tadi aku tidak sengaja menginjak kaki engkau lantaran aku mengantuk, sehingga tidak sadar untaku bersenggolan dengan engkau. Aku mohon maafkanlah aku,” pinta Abu Rahal.

“Aku sudah memaafkanmu,” kata Nabi SAW. Abu Rahal pun merasa lega.

“Tapi tadi sewaktu aku membangunkanmu, aku menyentuhmu dengan tongkatku ini. Karena itu, wahai Abu Rahal, ambil tongkatku dan lakukanlah kepadaku sekarang seperti apa yang telah kulakukan saat itu kepadamu,” jelas Nabi SAW.

Maksud Rasulullah SAW adalah hendak melaksanakan balasan (qisas). Beliau menghendaki keadilan karena itu mempersilakan sahabatnya ini untuk membalasnya setimpal.

“Aku tidak akan melalukannya, wahai Rasulullah. Sungguh aku sudah memaafkannya,” kata Abu Rahal.

Rasulullah SAW tersenyum. Beliau kemudian bertanya tentang keadaan kabilah tempat Abu Rahal berasal. Kabilah ini terkenal setia, selalu mendampingi Nabi SAW dalam setiap jihad.

Rupanya, dalam ekspedisi Tabuk ini ada beberapa orang dari kabilah tersebut yang tidak datang. Mereka berperawakan badan tinggi besar dan kekar. Rasulullah SAW mengklarifikasi keadaan mereka, dan Abu Rahal membenarkan bahwa mereka tidak turut dalam jihad kali ini.

“Mana di antara kabilah engkau yang bertubuh pendek dan berkulit sawo matang?” tanya Rasulullah SAW lagi. Ternyata, beliau amat jeli dalam memerhatikan ciri-ciri pasukannya.

“Kami tidak punya yang demikian, wahai Rasulullah,” jawab Abu Rahal.

“Tapi, aku pernah melihat mereka dari (kabilah) engkau,” ujar beliau lagi.

Maka Abu Rahal kemudian berusaha mengingat-ingat lagi. “Mungkin yang engkau maksud adalah sekutu kami dari Aslam. Setelah Perang Hunain, mereka tidak ikut bersama kami lagi,” tutur dia.

“Sungguh, keadaan yang berat bagiku adalah bila suku-suku Muhajirin, Anshar, Ghifar, dan Aslam tidak ikut (dalam jihad),” sebut beliau.[]

Sumber: REPUBLIKA

Meneladani Kisah Perjuangan Hijrah Nabi Muhammad SAW

Meneladani Kisah Perjuangan Hijrah Nabi Muhammad SAW

TAHUN Baru Islam kerap dimaknai sebagai ajang refleksi diri untuk berhijrah. Hijrah dari yang buruk ke arah yang lebih baik.

Momentum ini sekaligus menjadi hari bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam sejarahnya, tahun baru Islam digunakan untuk memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah pada 622 Masehi.

Saat itu, bangsa Arab tidak menggunakan tahun untuk menandai suatu peristiwa.

Namun atas usulan sahabat Ali bin Abi Thalib, peristiwa hijrahnya Nabi SAW dari Makkah ke Madinah lantas diabadikan sebagai patokan kalender Hijriyah Islam untuk pertama kalinya.

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW

Hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW
Hikmah Hijrah Nabi Muhammad SAW. Sumber gambar: dewandakwah.or.id

Bicara soal Hijrah, fenomena ini di masa Nabi ditandai dengan pindahnya umat Islam dari satu tempat ke tempat lainnya.

Saat itu, putra kesayangan Abdullah dan Aminah itu melihat pesatnya dakwah Islam di Yatsrib (sebutan lama kota Madinah) dan masuk Islamnya suku Aus dan Khazraj.

Diam-diam Nabi pun memerintahkan sahabatnya untuk pindah ke Yasrib, baik perorangan maupun berkelompok kecil.

Rupanya hijrah sahabat Nabi tercium oleh segelintir suku Quraisy. Mereka khawatir jika umat Islam akan balas boikot jalur perdagangan suku di Arab.

Satu-satunya cara agar umat Islam tidak memperluas sayap di Yasrib, yakni menghabisi Nabi Muhammad.

Hingga pada suatu malam, segolongan pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah agar mereka dapat membunuhnya bila beliau keluar. Malam itu, Rasulullah diperintahkan Allah untuk hijrah.

Untuk mengelabuhi pemuda Quraisy, maka diaturlah siasat, Ali bin Abi Thalib diperintahkan tidur ditempat tidurnya dengan memakai mantel Nabi yang hijrah dari Hadramaut.

Ketika mengetahui Nabi berhasil kabur, pemuda Quraisy kecewa bukan kepalang. Mereka pun mencari jejak-jejak pelarian Nabi.

Sementara Nabi Muhammad bersama Abu Bakar sahabatnya, menuju Gua Tsur di Selatan Makkah.

Tiga hari tanpa banyak diketahui orang, kecuali Abdullah ibn Abi Bakar, Aisyah, dan Asma’ serta pembantu mereka ‘Amir ibn Fuhairah.

Setelah turun Ayat, tibalah Nabi di Yasrib. Beliau diterima baik oleh penduduk Yatsrib. Nabi resmi menjadi pemimpin penduduk kota ini. Bukan saja sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara.

Untuk memperkokoh fondasi masyarakat dan negara kala itu, Nabi pun meletakan dasar-dasar kehidupan masyarakat.

Dasar pertama, pembangunan masjid, selain untuk tempat shalat juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum muslimin dan mempertalikan jiwa mereka.

Masjid juga dijadikan sebagai tempat bermusyawarah, untuk merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Bahkan, kedudukan masjid dijadikan sebagai pusat pemerintahan.

Dasar kedua, ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi mempersaudarakan antara kaum Muhajirin, orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah dan kaum Ansor, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut membantu kaum Muhajirin.

Dasar ketiga, hubungan persaudaraan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam. Di madinah di samping orang arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat Yahudi dan oran-orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang mereka. Agar stablitas masyarakat dapat di wujudkan nabi Muhammad mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka.

Jumlah Rakaat Tahajud Rosulullah Muhammad SAW

Jumlah Rakaat Tahajud Rosulullah Muhammad SAW

TAHAJUD merupakan salah satu shalat sunnah yang mulia. Dalam hadist dijelaskan jika sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat Tahajud atau sering disebut Qiyamul Lail. Waktu utama pelaksanaan shalat ini adalah sepertiga malam terakhir.

Tata cara pelaksanaan shalat Tahajud sama dengan shalat fardu dan sunnah lainnya. Shalat ini terdiri dari dua rakaat yang kemudian diakhiri dengan salam. Namun ada pula yang mengerjakan empat, delapan, bahkan sebelas rakaat.

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, tentu kita akan mengikuti sesuai tuntunan Beliau dalam tata cara pelaksanaannya. Lantas, seperti apa shalat malam yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW? Berikut ulasannya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bagaimana keutamaan shalat Tahajud. Rasulullah mengatakan siapa saja yang memohon kepada Allah SWT, maka Allah SWT akan mengabulkannya.

“Rabb kami -Tabaroka wa Ta’ala- akan turun setiap malamnya ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Allah berfirman, “Siapa yang memanjatkan do’a pada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang meminta ampun pada-Ku, Aku akan memberikan ampunan untuknya”. HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758.

Sahabat pun kemudian bertanya tentang jumlah rakaat Shalat Tahajud. Dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, sesungguhnya seseorang bertanya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana cara shalat malam? Beliau menjawab:

“Shalat malam itu tunaikan Dua (rakaat) dua (rakaat), kalau anda khawatir (datang waktu) subuh, maka witirlah dengan satu rakaat.” (HR. Bukhari. Silakan lihat Fathul Bari, 3/20)

Ulama sepakat memahami hadist ini, bahwa kalimat nabi terkait dua rakaat ini adalah tanpa batasan ditunaikan. Semaksimal sebanyak mungkin yang bisa anda lakukan. Hanya kemudian, jika anda menunaikan shalat itu dekat dengan fajar, maka segera tutup dengan witir.

Nabi Muhammad SAW pun tidak sekalipun memberikan batasan pada umatnya. Tapi dari pernyataan ini dikisahkan oleh Aisyah radhiallahu’anha dapat diketahui bagaimana shalat tahajud yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Aisyah Ra mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari 11 raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at. HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738.

Namun ada pula hadist riwayat Ibnu ‘Abbas mengatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat malam 13 raka’at. “HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764.

Zaid bin Kholid Al Juhani menjelaskan tentang formasi dari jumlah tersebut,

“Aku pernah memperhatikan shalat malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun melaksanakan 2 raka’at ringan. Kemudian setelah itu beliau laksanakan 2 raka’at yang panjang-panjang. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Beliau pun lakukan shalat 2 raka’at yang lebih ringan dari sebelumnya. Kemudian beliau lakukan shalat 2 raka’at lagi yang lebih ringan dari sebelumnya. Lalu terakhir beliau berwitir sehingga jadilah beliau laksanakan shalat malam ketika itu 13 raka’at.” HR. Muslim no. 765.

Ini berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan witir dengan 1 raka’at.

Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum shalat malam, dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu. ‘Aisyah mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan shalat dua rak’at yang ringan.” HR. Muslim no. 767.

Seperti dijelaskan di atas bahwa Nabi Muhammad SAW tidak sekalipun memberikan batasan pada umatnya terkait jumlah rakaat shalat tahajud. Sehingga jika kita ingin melakukannya sebanyak mungkin, tentu bukan sebuah tindakan yang menyalahi Sang Nabi.[]

Sumber: INFOYUNIK

Gelar Fatimah Az-Zahra, Putri Keempat Rosulullah SAW dari Siti Khadijah

Gelar Fatimah Az-Zahra, Putri Keempat Rosulullah SAW dari Siti Khadijah

FATIMAH Az-Zahra, lahir kurang dari lima tahun sebelum Nabi diutus. Berdekatan dengan peristiwa yang agung pada saat itu, yakni saat orang-orang Quraisy rela menyerahkan hukum kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka untuk meletakkan Hajar Aswad setelah diadakan pembaharuan Ka’bah.

Fatimah Az-Zahra merupakan putri keempat Rasulullah dari ibunya Ummul Mikminin Khadijah binti Khuwailid. Ia adalah yang paling mirip dengan ayahnya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah begitu senang dan gembira ketika mendapat kabar kelahiran putrinya itu, nampaklah barakah dan keberuntungan dari lahirnya ia, Fatimah Az-Zahra.

Baca juga: Jadilah Muslimah Seperti Siti Khadijah

Fatimah tumbuh di atas kehormatan yang sempurna, jiwa yang berwibawa, cinta akan kebaikan dan akhlak yang mulia karena mengambil teladan dari ayahnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Pantas dalam segala hal, tindak-tanduknya tak lepas dari kesamaan dengan beliau.

Ketika usia Fatimah akan beranjak lima tahun, mulailah suatu perubahan besar dalam kehidupan ayahnya dengan turunnya wahyu kepada beliau. Sehingga saat itu, Fatimah turut merasakan awal mulanya ujian dakwah beliau.

Fatimah pun tak lepas dari menyaksikan serentetan tipu daya orang-orang musyrik terhadap ayahnya. Hal itu membuat Fatimah berangan-angan andai saja dia mampu, maka akan ditebus dengan nyawanya untuk menjaga beliau dari gangguan orang-orang musyrik.

Salah satu penderitaan yang juga ia rasakan bersama ayahnya dan seluruh kaum muslimin kala itu, yakni pemboikotan yang kejam yang dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin bersama Bani Hasyim pada Suku Abu Thalib.

Sehingga pemboikotan dan kelaparan tersebut berpengaruh pada kesehatannya, dan juga seluruh kaum muslimin.

Tak lama setelah ujian pemboikotan itu, ia kembali diuji dengan wafanya sang ibu, yakni Khadijah. Itu membuat dirinya semakin sedih.

Setelah wafatnya sang ibu, Fatimah merasakan ada tanggung jawab dan pengorbanan lebih yang harus ia kerahkan untuk membantu ayahnya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Ditambah dengan wafatnya paman beliau, Abu Thalib, yang mana selama ini ialah yang membantu meniti jalan dakwah yang dialami rasulullah, walau akhirnya Abu Thalib sendiri tidak mengakui kebenaran yang dibawa oleh keponakannya itu.

Berlipat gandalah kesungguhan dan tanggung jawab yang harus dipikul Fatimah untuk mendampingi ayahnya, dimana ia harus maju sebagai pengganti tugas-tugas ibunya. Dengan sebab itulah Fatimah diberi gelar dengan “Ibu dari ayahnya”. []

Sumber: Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Ramadhan 1433 H. Nisaa’ Hauldar Rasul, Shuwaru min Hayati ash-Shahabiyat. Edisi Indonesia, Mereka Adalah Para Shahabiyat. At-Tibyan.

Ini Pesan Rosulullah SAW untuk Sahabat Ali Jika Fatimah Az-Zahra Wafat

Ini Pesan Rosulullah SAW untuk Sahabat Ali Jika Fatimah Az-Zahra Wafat

FATIMAH Az-Zahra adalah putri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Posisi Fatimah sangat istimewa, karena darinya cucu-cucu Rasulullah dilahirkan. Kesalehan Fatimah juga diakui semua ulama’, apalagi terkait kedermawanan dan keta’atannya dalam ibadah.

Baca juga: Fathimah Az-Zahra Putri Tercinta Rosulullah dan Penghulu Wanita di Surga

Rasulullah begitu sayang sama Fatimah, sehingga doa Rasulullah selalu mengalir buat putri tercintanya itu.

“Kelak jika putriku Fatimah telah tiada wahai Ali, maka akulah yang akan pertama kali menerima jasadnya di liang lahat,” demikian pesan Rasulullah SAW yang selalu diingat dengan sangat oleh menantunya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Makanya, di saat Sayyidina Ali bin Abi Thalib memasukkan jenazah istri tercintanya, Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra ke liang lahat, beliau menangis terisak-isak sehingga putranya Sayyidina Hasan berkata :

“Wahai ayahku, gerangan apakah yang membuat dirimu menangis sedemikian rupa?”

“Wahai putraku Hasan, aku teringat pesan kakekmu Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Kelak jika putriku Fatimah telah tiada wahai Ali, maka akulah yang akan pertama kali menerima jasadnya di liang lahat,” demikian jawab Sayyidina Ali.

“Dan demi Allah, wahai Hasan putraku, aku melihat tangan kakekmu Rasulullah SAW menerima jasad ibumu Fatimah. Aku melihat kakekmu Rasulullah SAW menciumi wajah ibumu Fatimah.”

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian berkata:

“Wahai Rasulullah SAW, kini aku kembalikan amanah yang telah engkau berikan kepadaku. Aku kembalikan belahan jiwamu, yang dimana setiap engkau rindu akan surga, engkau cium wajah suci putrimu Fatimah Az-Zahra.”

Baca juga: 4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!

Itulah keistimewaan seorang Sayyidah Fatimah Az-Zahra, penghulu kaum muslimah di dunia. Dari rahimnya, lahir Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Inilah dua cucu Rasulullah yang kemudian melahirkan para ulama’ yang menjadi panutan umat. Para habaib yang ada di Indonesia tak lain adalah anak cucu Sayyidah Fatimah yang sungguh-sungguh dalam mendakwah Islam kepada masyarakat Nusantara.

Semoga kita semua dikumpulkan bersama keluarga suci Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad SAW kelak di akhirat. Amiiin.[]

Sumber: BANGKITMEDIA

Fathimah Az-Zahra Putri Tercinta Rosulullah dan Penghulu Wanita di Surga

Fathimah Az-Zahra, Penghulu Wanita di Surga

TANGGAL 3 Ramadhan 11 H, bertepatan dengan 21 November 632 M, adalah hari meninggalnya Fatimah Az-Zahra, penghulu kaum perempuan di Jannah sekaligus putri Rasulullah Muhammad SAW, istri dari sahabat Ali bin Abi Thalib dan ibunda dari dua cucu Rasulullah, Hasan dan Husain.

Baca juga: Sejarah Sayyidina Ali dan Muawiyah bin Abu Sufyan

Ibnu Katsir berkata, “Setelah Rasulullah wafat, berselang enam bulan menurut pendapat yang paling masyhur, putri beliau Fatimah meninggal dunia, dia yang mendapat julukan Ummu Muhammad. Sebelumnya Rasulullah telah menjanjikan bahwa dialah anggota keluarga pertama yang menyusul beliau. Meski begitu, Rasulullah bersabda pada Fatimah

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

“Tidakkah kamu rida bila kamu menjadi penghulu kaum perempuan penghuni surga?”

Fatimah adalah putri Rasulullah yang paling kecil menurut riwayat yang masyhur, dan sesudah beliau meninggal tidak ada selain Fatimah. Karenanya sangat besar pahala yang diperoleh Fatimah, sebab dialah yang menanggung musibah wafatnya Rasulullah.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Peristiwa Kematian Abu Thalib dan Siti Khadijah

Dan Nabi sangat mencintai Fatimah, memuliakannya dan berusaha menyenangkan hatinya. Fatimah seorang perempuan penyabar, taat beragama, berbudi, menjaga diri, ahli ibadah dan pandai mensyukuri nikmat Allah. Dan Rasulullah tidak memiliki keturunan kecuali dari Fatimah.

Az-Zubair bin Bakkar berkata, “Diriwayatkan vahwa pada malam pengantin Ali dan Fatimah, Rasulullah berwudhu dan menuangkan air ke Ali dan Fatimah, seraya mendoakan keberkahan bagi anak keturunan keduanya.”

Sepupunya, Ali bin Abi Thalib, menikahinya setelah hijrah, tepatnya 4,5 bulan setelah pertempuran Badar, dan mendatanginya 7,5 bulan berikutnya. Ali memberi mahar berupa baju besinya yang telah retak, seharga 400 dirham. Ketika itu ia berumur 15 tahun lebih 5 bulan. Ia melahirkan Hasan, Husain, Muhsin dan Ummu Kultsum yang dinikahi Umar bin Khattab.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Atha’ bin As-Saib, dari ayahnya dari Ali bahwasannya ketika Rasulullah menikahkan dirinya dengan Fatimah bersama dengan kedatangan Fatimah, beliau mengirim beludru, bantal dari kulit berisi serat, gerinda, kantong air dari kulit dan dua bejana besar.

Ketika Rasulullah wafat, Fatimah Az-Zahra mendapati di dalam dirinya perasaan tidak enak kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah Rasulullah disebabkan harta warisannya. Ibnu Katsir mengisahkan,“Ketika Fatimah jatuh sakit, Abu Bakar As-Siddiq datang dan masuk menemuinya untuk meminta ridanya, Abu Bakar berkata,

“Demi Allah, aku tidak meninggalkan rumah, harta, keluarga dan kaum kerabat kecuali karena mengharap Rida Allah dan Rida Rasul-Nya, juga rida kalian wahai Ahli Bait.” Akhirnya Fatimah menjadi rida. (HR. Baihaqi).

Baca juga: Jadilah Muslimah Seperti Siti Khadijah

Ada yang mengatakan, Fatimah tidak tertawa dalam masa hidupnya setelah meninggalnya Rasulullah. Ia terpuruk karena sedih atas kepergian Rasulullah dan rasa rindu kepada beliau. Fatimah-lah yang mengatakan kepada Anas kata-kata masyhur berikut,

“Wahai Anas, tega sekali kalian mengebumikan Rasulullah.” (HR Bukhari:4202 dan Ad-Darimi:92)

Menjelang kematiannya, Fatimah berwasiat kepada Asma binti Umais, istri Abu Bakar As-Siddiq, agar dia yang memandikan dirinya bersama Ali bin Abi Thalib dan Salma Ummu Rafi’. Ada yang mengatakan : juga Al-Abbas bin Abdul Muthalib.

Ada perbedaan pendapat tentang usia Fatimah ketika meninggal. Ada yang berpendapat 27 tahun dan ada yang berpendapat 28 tahun. Ada juga yang mengatakan 29 tahun. Fatimah-lah orang pertama yang keranda jenazahnya ditutup dengan kain setelah jenazahnya diangkat. Yang menshalatinya adalah suaminya, Ali. Ada yang berpendapat Al-Abbas. Ada juga yang beranggapan Abu Bakar As-Siddiq.

Fatimah dimakamkan di kuburan Baqi’ pada malam hari, yaitu malam selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 H.

Diambil dari buku Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadan oleh DR Abdurrahman Al-Baghdady.[]

Sumber: KIBLAT

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!

SEBAGAI umat Islam, pasti sering mendengar dari kisah atau cerita tentang perjuangan dari Rasullulah dan sahabatnya semasa hidup. Unik dan nyatanya, benda-benda pusaka peninggalan Rasulullah masih tersimpan rapi di sebuah museum di Istanbul.

Dilansir dari Topkapisarayi, Selasa (20/11/2018), Beberapa peninggalan Nabi Muhammad itu berupa jubah hingga pedang Nabi Muhammad SAW untuk berperang.

Baca juga: Dilempar Batu Hingga Kotoran, Perjuangan Dakwah Nabi di Madinah Membuat Hati Menangis

Benda pusaka tersebut bisa dijumpai di Museum Kopkapi, dan tersimpan apik di ruangan khusus bernama Pavilion of Holy Mantle dan Holy Relics. Berikut benda pusaka peninggalan Nabi yang pasti bikin hati bergetar jika melihatnya.

Jubah

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Barang utama di dalam ruangan ini adalah jubah atau mantel peninggalan Nabi Muhammad SAW. Awalnya jubah ini belum ada di ruangan tersebut. Sempat dijaga oleh kaum Abbasiyah di Mesir, lalu karena adanya serangan oleh Usmaniyah pada 1517, jubah milik beliau ini dipindahkan ke Istanbul.

Pedang

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!Benda ini adalah senjata yang sering digunakan oleh Nabi Muhammad SAW ketika melawan para musuhnya di beberapa tempat. Yang paling populer yaitu pedang Al Ma’thur, pedang yang dimiliki beliau sebelum menerima wahyu pertama di Mekah. Pedang ini merupakan pedang peninggalan dari ayah beliau. Dengan panjang sekitar 100 cm, pegangannya terbuat dari emas dan berbentuk dua kepala ular. Keberadaan pedang ini ada di Museum Topkapi, Istanbul.

Helai janggut dan patahan gigi

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!Helai rambut Nabi Muhammad SAW dapat ditemui di dalam Museum Topkapi juga. Helaian ini merupakan helai janggut milik Nabi Muhammad SAW yang sudah tersimpan rapi. Kemudian patahan gigi tersebut merupakan gigi Nabi Muhammad SAW.

Patahan gigi ini merupakan patahan yang didapat ketika Perang Ubud pada 19 Maret 625. Patahan ini dapat dijumpai di museum yang sudah disebutkan sebelumnya.

Baca juga: Menghina Nabi Muhammad SAW? Bagaimana Hukum Syariat Islam?

Masih banyak benda pusaka yang dimiliki oleh sahabat Nabi

4 Benda Peninggalan Nabi Muhammad SAW Ini Bikin Hati Bergetar!Semasa hidupnya, mulai dari pedang milik kawanan beliau, penampang atau baki, tongkat, baju dan mantel, sajadah, jejak kaki, serta peti harta karun milik anak perempuan dari Nabi Muhammad SAW, Fatimah. Semua benda tersebut bisa Anda temui di Museum Topkapi, Istanbul.[]

Sumber: OKEZONE

Dilempar Batu Hingga Kotoran, Perjuangan Dakwah Nabi di Madinah Membuat Hati Menangis

Dilempar Batu Hingga Kotoran, Perjuangan Dakwah Nabi di Madinah Membuat Hati Menangis

SETELAH banyak orang-orang Madinah berbondong-bondong masuk Islam, Nabi dan para sahabat berhijrah ke sana. Di Madinah Nabi hidup bersama orang-orang Yahudi yang sangat membenci dan dengki terhadap Islam.

Tantangan dakwah Nabi di Madinah adalah melawan orang-orang Kafir di Mekah dengan cara peperangan, lalu orang-orang Yahudi dan Nasrani, serta orang-orang Munafik. Nabi tetap mendakwahi orang-orang Yahudi meskipun mereka terus melakukan makar untuk menghancurkan Islam.

Baca juga: Tantangan Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah

Setelah turun firman Allah: “Kepada mereka yang diperangi, telah diizinkan (berperang), sebab mereka teraniaya, dan sungguh Allah Mahakuasa menolong mereka.” (QS. Al-Hajj: 39).

Umat Islam diizinkan untuk membela diri dan berperang melawan orang-orang Kafir.

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Perang pertama umat Islam melawan orang Kafir Mekah adalah Perang Badar. Dalam perang ini umat Islam meraih kemenangan. Banyak pemuka Quraisy terbunuh termasuk di antaranya Abu jahal. Kemenangan di Perang Badar semakin mengokohkan kekuatan Islam dan mulai diperhitungkan di Jazirah Arab.

Selain tantangan dari orang-orang musyrik, Nabi juga mendapat tantangan dari orang-orang Yahudi. Nabi pernah mengadakan perjanjian dengan mereka akan tetapi mereka melanggar perjanjian tersebut.

Yahudi Bani Qainuqa adalah Yahudi pertama yang mengingkari janji dengan Rasulullah. Pemicunya adalah seorang Muslimah yang berbelanja ke pasar mereka. Orang-orang yahudi merayunya agar membuka cadar yang dipakainya, namun Muslimah itu menolak.

Lalu seorang Yahudi mengambil ujung baju muslimah itu dan mengikatnya ke punggunya. Ketika berdiri, terbukalah auratnya dan mereka menertawakannya. Sang Muslimah pun berteriak meminta tolong.

Mendengar teriakan ini, seorang lelaki Muslim menerjang dan membunuh Yahudi tadi. Melihat itu, orang-orang Yahudi membunuh laki-laki Muslim itu. Maka, Rasulullah datang dan mengepung mereka selama lima belas malam. Atas perintah Nabi, merek turun dan diberi hukuman meninggalkan Madinah.[14]

Yahudi juga melakukan makar untuk membunuh Nabi saw. Seorang Yahudi bernama Amr bin Jahsy bin Ka’ab naik ke atas sebuah rumah dan hendak melemparkan batu besar kepada Rasululah.

Akan tetapi Allah melindungi Rasul-Nya. Karena ini, Rasulullah dan para sahabat mengepung mereka selam enam hari dan hendak memerangi mereka. Hingga mereka meminta Nabi agar mengizinkan mereka keluar dari Madinah dan mengapuni mereka dan meminta izin untuk membawa harta mereka seberat yang dapat dipikul oleh unta-unta yang dimiliki, kecuali senjata.

Nabi mengizinkannya. Lalu mereka keluar menuju Khaibar.[15] Nabi juga pernah diracuni oleh seorang wanita Yahudi bernama Zainab binti al-Harits bin Sallam.[16]

Selain melawan orang-orang Kafir Mekah dan Yahudi, Nabi juga mendapat perlawanan dari orang Romawi yang beragama Nasrani. Peperangan melawan orang-orang Nasrani yaitu pada Perang Mu’tah dan Perang Tabuk.

Di Madinah Nabi membangun Masjid Nabawi sebagai pusat pemerintahan. Dia juga mendirikan Negara di sana. Ketika Islam telah kuat, dan ajarannya telah tersebar di sekitar Jazirah Arab, Nabi mulia mengirimi surat kepada Raja-raja di sekitar Jazirah Arab, yaitu kepada Raja Heraklius, Kisra Persia, Raja Najasyi di Habasyah, dan Raja Muqauqis di Mesir.[17]

Kesimpulan

1. Dua fase dakwah Nabi di Mekah, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Orang-orang yang awal menerima dakwah Nabi adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haris, dan Abu Bakar. Lalu, melalui Abu Bakar, banyak orang-orang yang masuk Islam di antaranya adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abd al-Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Bilal, Sa’id bin Zaid dan Fatimah binti Khattab. Mereka inilah yang dinamakan al-Sabiqun al-Awwalun atau orang-orang yang pertama-tama masuk Islam.

2. Dakwah Nabi Muhammad selalu mendapat tantangan dan cobaan yang berat. Di Mekah, Nabi mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Quraisy. Bahkan pengikutnya ada yang syahid dalam mempertahankan keimanannya. Demikian juga di Madinah, dakwah Nabi mendapatkan tantangan yang lebih kompleks. Di madinah bukan hanya orang-orang Kafir Mekah yang dihadapi, tapi juga orang-orang ahl al-Kitab dari Yahudi dan Nasrani, juga oleh orang-orang Munafik.[]

Sumber: TONGKRONGANISLAMI

Tantangan Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah

Tantangan Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah

DALAM menjalankan dakwahnya di Mekah, ada dua fase yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan.

1. Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Nabi Muhammad saw. memulai dakwahnya setelah menerima perintah Allah swt. “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa tinggalkanlah dan janganlah kamu member (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al-Mudatsir: 1-7)

Pada mulanya Nabi saw. berdakwah kepada orang-orang terdekatnya, kemudian kepada sahabat-sahabat karibnya. Dia menyeru kepada agama Islam. Beberapa anggota keluarga dan sahabatnya memenuhi seruan Nabi. Mereka antara lain Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar al-Shidiq.[2]

Kemudian Abu Bakar juga mengajak beberapa orang masuk Islam di antaranya adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abd al-Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Lalu disusul Bilal bin Rabah, Abu Ubaidah bin al-jarrah, Arqam bin Abi al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, Sa’id bin Zaid dan istrinya, Fathimah binti al-Khattab, Khabbab, Abd Allah bin Mas’ud, dan lain-lain.

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Ibnu Hisyam mengatakan jumlah mereka lebih dari 40 orang.[3] Mereka inilah yang disebut al-Sabiqun al-Awwalun atau yang terdahulu dan pertama-tama masuk Islam. Saat itu dakwah atau kegiatan keislaman dilakukan di rumah Arqam bin Abi al-Arqam.

2. Dakwah Ssecara Terang-Terangan

Ketika turun ayat surah al-Syu’ara 214 yang berbunyi: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”Langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi saw. setelah turun ayat ini adalah mengundang Bani Hasyim. Nabi dilindungi oleh Abu Thalib. Suatu hari Nabi berdiri di atas bukit Shafa lalu berseru, “Wahai semua orang, apa pendapat kalian jika aku kabarkan bahwa di belakang ini ada sepasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya padaku?” Mereka menjawab, “Benar, kami tidak pernah melihat engkau kecuali kejujuran.” Kemudian Nabi berkata, “Sesungguhnya aku memberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang pedih.” Abu Lahab berkata, “Cekalah engkau selama-lamanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami!? Kemudian turunlah ayat, “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.”[4]Kemudian Allah menurunkan ayat-Nya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Rasulullah langsung bangkit dan menyerang berbagai khurafat dan kesyirikan. Nabi terlebih dahulu menyeru penduduk Mekah, lalu penduduk negeri-negeri lain. Ia juga menyeru orang-orang yang datang berhaji ke Mekah dari berbagai negeri untuk memeluk Islam.[5]

Dakwah Nabi tidak berjalan mulus, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang beragama Nasrani bahwa suatu saat Muhammad akan dibenci oleh kaumnya, dinamakannya pembohong, dikucilkan, bahkan diperangi.[6]

Para pemuka Quraisy seperti Abu Lahab, Abu Sufyan, Abu Jahal, dan bangsawan Quraisy terkemuka lainnya mulai merasakan bahwa ajaran Muhammad itu merupakan bahaya besar bagi kedudukan mereka. Yang mula-mula mereka lakukan adalah menyerangnya dengan cara mendiskreditkan, dan mendustakan kenabiannya.

Kaum Quraisy mengutus Utbah bin Rabi’ah, seorang ahli retorika untuk membujuk Nabi. Mereka menawarkan harta, tahta, dan wanita agar Nabi bersedia menghentikan dakwahnya. Semua tawaran itu ditolak. Nabi berkata kepada pamannya, Abu Thalib, “Paman, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti melakukan ini, hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya.”[7]

Banyak di kalangan orang-orang lemah dan budak yang mengikuti dakwah Nabi mendapat tantangan dan penganiayaan dari tuan-tuan mereka, diantaranya adalah keluarga Yasir. Istri Yasir, Sumayyah harus menemui ajal setelah dibunuh oleh majikannya karena tidak mau melepaskan keislamannya. Begitu juga siksaan yang dialami oleh bilal. Ia diseret di atas padang pasir di bawah terik matahari dan dadanya ditindih dengan batu besar.

Kaum Muslimin yang lain juga tak lepas dari penganiayaan. Tidak terkecuali Nabi Muhammad, ia mengalami gangguan-gangguan meskipun sudah dilindungi oleh Bani Hasyim dan Bani al-Muttalib. Ummu Jamil, isteri Abu Jahal, melemparkan najis ke depan rumahnya.

Dan pada waktu beribadah, Abu Jahal melemparinya dengan isi perut kambing yang sudah disembelih untuk sesajen kepada berhala-berhala. Umat Islam harus menerima kata-kata keji kemana saja mereka pergi. Cukup lama hal serupa berjalan tetapi mereka tetap teguh dengan keimanan mereka.

Orang-orang kafir Quraisy juga melakukan pemboikotan, memutuskan segala bentuk hubungan dengan orang-orang yang menerima dakwah Nabi saw. tidak seorang pun penduduk Mekah diperkenankan melakukan hubungan jual beli dengan Bani Hasyim. Persetujuan dibuat dalam bentuk piagam dan ditandatangani sepihak dan disimpan di dinding Ka’bah. Akibatnya, Bani Hasyim menderita kelaparan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Tindakan pemboikotan ini dimulai pada tahun ketujuh kenabian dan berlangsung selama tiga tahun.[8]

Penderitaan makin menjadi-jadi ketika Abu Thalib dan Khadijah yang selalu melindungi dan membantu Nabi Muhammad meninggal dunia. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian. Tahun ini dinamakan Am al-Huzn atau tahun kesedihan.[9]

Nabi akhirnya memutuskan untuk berdakwah dan meminta perlindungan di luar Mekah. Ia ke Thaif. Namun, di Thaif dakwahnya ditolak. Ia dicaci dan dilempari batu sampai terluka.

Nabi Muhammad juga berusaha mencari dukungan kalangan badui, namun sekali lagi usahanya tidak membawa hasil. Pada masa ini tidak ada seorangpun yang menjadi pelindungnya.[10] Akhirnya Nabi kembali ke Mekah. Ia bisa diterima kembali masuk Mekah karena diberi perlindungan oleh Muth’im bin Adi.[11]

Menurut Ahmad Syalabi, 5 faktor yang mendorong orang Quraisy menentang dakwah Islam[12]:

1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Muhammad berarti tunduk kepada kepemimpinan Bani Abd al-Muttalib.

2. Nabi Muhammad saw. menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Hal ini tidak disetujui oleh kelas bangsawan Quraisy.

3. Para pemimpin Quraisy tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan di akhirat.

4. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan berakar pada bangsa Arab.

5. Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.

Meskipun demikian, Nabi tidak berhenti berdakwah dan menyerukan Islam. Di antara yang didakwahi oleh Rasulullah adalah penduduk Yatsrib, suku Aus dan Khazraj. Mereka datang ke Mekah untuk memeluk agama Islam dan menerapkan ajarannya sebagai upaya untuk mendamaikan permusuhan antara kedua suku.

Pada tahun keduabelas kenabian mereka datang kembali menemui Nabi dan mengadakan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Aqabah pertama, yang berisi ikrar kesetiaan.

[better-ads type=”banner” banner=”14468″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Rombongan ini kemudian kembali ke Yasrib sebagai juru dakwah disertai sahabat Rasulullah, Mush’ab bin Umair yang diutus oleh Nabi untuk berdakwah di sana. Gelombang ketiga, pada tahun ketiga belas kenabian, mereka datang kembali kepada Nabi untuk hijrah ke Yasrib. Mereka membai’at Nabi sebagai pemimpin. Nabi pun akhirnya menyetujui usulan mereka untuk berhijrah. Perjanjian ini disebut perjanjian Aqabah Kedua.[13]

Kesimpulan

Dua fase dakwah Nabi di Mekah, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Orang-orang yang awal menerima dakwah Nabi adalah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haris, dan Abu Bakar.

Lalu, melalui Abu Bakar, banyak orang-orang yang masuk Islam di antaranya adalah Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abd al-Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Bilal, Sa’id bin Zaid dan Fatimah binti Khattab. Mereka inilah yang dinamakan al-Sabiqun al-Awwalun atau orang-orang yang pertama-tama masuk Islam.

Sumber: TONGKRONGANISLAMI

3 Akhlaq Nabi Muhammad SAW yang Sering Terlupakan

3 Akhlaq Nabi Muhammad SAW yang Sering Terlupakan

MENELADANI Nabi Muhammad SAW merupakan kewajiban setiap muslim. Dan, itulah wujud sederhana kita mencintai Rosulullah. Sayangnya, sejumlah keteladan tersebut kerap terlupakan banyak orang.

Nabi Muhammad adalah tauladan kehidupan bagi umat manusia. Bahkan, hal-hal sederhana dan sekecil apapun, beliau adalah sosok yang paling pantas dijadikan idola.

Berikut ini akhlak dan teladan Nabi Muhammad SAW yang mungkin sering terlupakan diantara kita umat Islam :

1. Romantisme Nabi saw. terhadap isteri

Sebagian orang menganggap bahwa Nabi saw. sebagai sosok lelaki yang beristeri banyak. Sibuk dengan dunia sendiri dan seperti tak perduli dengan orang paling dekatnya: isteri.

Perhatikanlah. Sejarah mencatat, Nabi saw. tidak berpoligami selama Khadijah masih hidup. Dan kebersamaan dengan Khadijah itu kurang lebih berlangsung selama 28 tahun.

[better-ads type=”banner” banner=”14293″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Selama itu, Nabi saw. hanya beristeri Khadijah. Dari Khadijahlah lahir 6 anak beliau saw., yaitu Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kulsum, dan Fathimah Az-Zahra.

Saat awal menerima wahyu, Nabi saw. minta diselimuti oleh Khadijah. Beliau saw. menceritakan apa yang ia alami dan rasakan. Dan Khadijah pun memberikan jawaban dan sikap yang menenteramkan beliau saw.

Baca juga: Siti Hajar, Sang Pejuang Wanita Tangguh nan Penuh Keikhlasan

Sepanjang perjalanan dakwah Nabi saw. semasa bersama Khadijah, banyak mengalami cobaan. Selama itu pula, Khadijah mendukung Nabi saw. sepenuhnya, dengan tenaga, harta, dan jiwa.

Harta Khadijah yang begitu banyak habis untuk membiayai perjalanan dakwah beliau saw.

Aisyah r.a. pernah mengungkapkan rasa cemburunya terhadap Khadijah r.a.. Menurut Aisyah, aku pernah cemburu terhadapnya walaupun aku belum pernah melihatnya.

“Dulu Rasulullah saw. setiap keluar rumah hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya hingga aku merasa cemburu.

“Aku berkata, ‘Apakah tak ada wanita lain selain wanita itu. Bukankah Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik?”

Rasulullah saw. marah hingga bergetar rambut depannya dan berkata, “Tidak, demi Allah. Dia mempercayaiku di saat semua orang ingkar. Ia membenarkanku di kala orang mendustakanku. Ia menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta mereka untukku.

“Dan dari rahimnya, Allah mengaruniakanku beberapa anak di saat isteri-isteriku tidak membuahkan keturunan.”

Aisyah pun menceritakan, “Setelah kejadian itu, aku tidak lagi menjelek-jelekkan Khadijah selamanya.”

Ketika hidup bersama Aisyah, romantisme Nabi saw. terus berlanjut. Dan Aisyahlah satu-satunya isteri Nabi saw. yang berstatus gadis saat dinikahi. Selebihnya janda.

Aisyah menceritakan, suatu kali aku bersama Rasul minum dalam satu gelas yang sama. Rasul menandai di mana bekas mulutku yang melekat pada gelas itu. Dan beliau saw. meletakkan mulutnya pada bekas mulutku.

Baca juga: Belajar dari Siti Khadijah, Srikandi Kesayangan Nabi Muhammad SAW

Bukan hanya minum, beliau saw. pun kerap makan bersama Aisyah dalam satu wadah makanan yang sama. Aisyah pernah berlomba lari bersama nabi saw., dan bercanda bersama nabi saw.

[better-ads type=”banner” banner=”16841″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Nabi saw. pernah menasihat, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

2. Selalu memudahkan proses jual beli

Sebagian orang merasa puas ketika bisa menawar harga dengan serendah-rendahnya. Walaupun hal itu butuh waktu lama dan melalui proses yang alot.

Begitu pun dengan yang menjual. Sebagian mereka merasa puas ketika mampu dengan menjual dengan harga yang tinggi, meskipun melalui proses yang lama dan alot.

Nabi saw. mengajarkan kita hal sebaliknya. “Allah swt. merahmati seseorang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli dan juga orang yang meminta haknya.” (HR. Bukhari)

3. Nabi menjaga akhlak terhadap anak-anak

Anas bin Malik menceritakan. Nabi saw. mencium Al-Hasan bin Ali, dan di sisi beliau ada Al-Aqra’ bin Haabis yang sedang duduk. Al-Aqra’ berkata, ‘Aku punya anak 10 orang, belum pernah satu pun yang kucium.

[better-ads type=”banner” banner=”14175″ campaign=”none” count=”2″ columns=”1″ orderby=”rand” order=”ASC” align=”center” show-caption=”1″][/better-ads]

Nabi saw. menatap Al-Aqra’ dan berkata, “Siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari Muslim)

Abu Qatadah pernah menceritakan. Suatu kali Rasulullah saw. tidak tega mendapati cucunya bernama Umamah binti Zainab binti Rasulullah saw. yang menangis.

Rasul pun menggendong Umamah. Padahal beliau sedang shalat. Ketika hendak sujud, beliau meletakkan Umamah, ketika akan berdiri beliau mengambilnya lagi. (HR. Bukhari)

Ibnu Abbas r.a. pernah begitu serius berbicara dengan Nabi saw. Dan kata-kata nabi saw. inilah yang terus ia ingat sepanjang masa hidupnya. Nabi saw. mengatakan kepadanya, “Jagalah Allah swt., maka Ia akan menjagamu. Bertawakallah kepadanya. Jika hendak meminta pertolongan, mintalah kepadaNya.”

Berapakah usia Ibnu Abbas saat bersama Nabi mendengarkan kalimat itu. Ia baru berusia 7 tahun.

Ada seorang sahabat Nabi saw. datang menemui Nabi bersama dengan puterinya yang berusia 6 tahun. Nama anak itu Ummu Khalid. Kulitnya hitam legam sementara bajunya berwarna kuning.

Ayahnya memohon kepada Nabi saw. untuk mendoakan puterinya. Namun, sang puteri yang lucu itu pun ternyata sudah berada di atas punggu Rasulullah saw.

Sang ayah memarahi puterinya. Tapi, Nabi saw. mencegahnya, dengan mengatakan, biarkan, dia masih anak-anak.[]

Sumber: CHANELMUSLIM

Dapatkan konten-konten Islami yang mencerahkan dari Widiynews. Jangan lupa SHARE artikel ini dan kunjungi situs kami setiap hari.