Pria Ini Keliling 193 Negara Hingga Akhirnya Jatuh Hati dan Memeluk Islam

Pria Ini Keliling 193 Negara Hingga Akhirnya Jatuh Hati dan Memeluk Islam

Pelancong itu bernama Sal Lavallo. Ia telah mengunjungi berbagai negara. Bahkan, mengutip laman Wikipedia, lelaki itu didaulat sebagai salah seorang paling muda yang pernah mengunjungi seluruh negara di dunia.

Banyak pengalaman dibagikan sosok kelahiran Indiana, Amerika Serikat (AS), itu melalui akun vlog pribadinya di media sosial YouTube. Dalam beberapa video yang diunggahnya, tampak sisi religius dirinya. Salah satu video cukup istimewa karena menampilkan kisanya sejak awal memeluk Islam.

“Aku akan menceritakan kisah bagaimana hingga akhirnya memilih Islam. Yang perlu digarisbawahi, aku menjadi Muslim bukan karena terpengaruh budaya atau seorang gadis, misalnya. Juga bukan karena alasan politis,” ujar Lavallo dalam unggahannya di Youtube, yang di akses Republika.co.id beberapa waktu lalu.

Pertama-tama, ia menuturkan latar belakang dirinya. Lavallo lahir di sebuah kota kecil di Indiana, AS. Ia tinggal di sana hingga usia 16 tahun. Keluarganya merupakan penganut Katolik yang taat.

“Setiap Ahad, kami biasanya pergi ke gereja dan itu menjadi kegiatan yang paling saya sukai. Menjadi Katolik adalah hal yang lazim di sana karena memang lingkungan mayoritas menganut agama itu,” kata Lavallo.

Lavallo tumbuh dewasa sebagai Katolik karena dia memang tinggal dalam komunitas masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Ia tidak merasa ada kesalahan apa pun dalam pendidikan yang ia peroleh sejak kecil.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan tingkat menengah di sekolah internasional. Untuk itu, ia Lavallo muda mesti tinggal di asrama. Di sanalah, ia mulai menemukan dunia baru yang berbeda daripada sebelumnya.

Dia bertemu dengan berbagai macam orang yang berasal lebih dari 90 negara. Tak sedikit dari mereka yang memeluk agama berbeda dari dirinya. Alhasil, Lavallo untuk pertama kalinya menyaksikan cara beribadah umat agama lain. Ketertarikan Lavallo untuk belajar agama-agama baru semakin tak terbendung. Pada saat itu, ia sempat tinggal di Houston, Texas. Ia bekerja untuk salah satu teman ayahnya.

Pada akhir pekan, ia menghabiskan setiap hari bersama keluarga salah satu alumni sekolah asramanya. Mereka menganut agama yang sama meskipun dengan denominasi yang berlainan.

Ketika masuk universitas, berbagai pertanyaan mulai bermunculan dalam benaknya. Sebab, ia kian banyak membaca dan mempelajari tentang agamanya sendiri. Waktu itu, ia mulai mempertanyakan peran sosok yang dianggap sebagai manusia dan tuhan sekaligus.

Sebagai mahasiswa, Lavallo memiliki pergaulan yang lebih beragam dan luas. Ia mulai tertarik dengan cara beragama yang semata-mata mengandalkan spiritualitas. Seperti seorang mistikus dengan aliran mistisme. “Anda dapat me miliki hubungan lang sung dengan Tuhan dan panteisme paham yang berkeyakinan Tuhan ada di mana-mana,” katanya mengenang masa-masa itu.

Untuk memperdalam spiritualitas nya, Lavallo mengambil banyak kursus yang berhubungan dengan kerohanian. Ia pun belajar lebih banyak tentang agama-agama lain. Sepanjang tahun perkuliahannya, ia memilih untuk berdoa dengan caranya sendiri.

Sebelum lulus, Lavallo memulai petualangannya keliling dunia seorang diri. Selama 18 bulan ia mulai melancong ke Afrika Timur pada tiga bulan pertama. Selanjutnya, ia singgah di Tel Aviv lalu merayakan Natal bersama keluarga sahabatnya.

Perjalanannya berlanjut ke Abu Dhabi. Empat bulan lamanya ia tinggal di sana, sebelum melangkahkan kaki ke India. Berbulan-bulan kemudian, ia terbang ke Venezuela, bertemu dengan komunitas tradisional setempat. Kembali ke Asia, ia melakukan perjalanan ke Yordania, Sri Lanka, dan Thailand.

Dari semua perjalanan ini, yang selalu aku lakukan adalah terus belajar tentang spiritualitas. Bagaimana orang-orang yang aku temui memaknai kehidupan ini, tutur dia. Waktu 18 bulan terasa lekas berlalu. Lavallo akhirnya dapat menyelesaikan jenjang sarjana dengan baik. Ia lantas memutuskan untuk berlibur ke Afrika. Tawaran pekerjaan pertamanya membawa Lavallo tinggal di Abu Dhabi.

Menjadi Muslim

Pria Ini Keliling 193 Negara Hingga Akhirnya Jatuh Hati dan Memeluk Islam

Bisa dikatakan, Lavallo pertama kali mengalami suasana komunitas Muslim bukan di Abu Dhabi, melain kan Afrika. Bahkan, ia pun secara resmi menjadi Muslim sejak sebelum menjadi karyawan di salah satu perusahaan negeri Arab itu. Suatu kali, ia melancong ke Tanzania, sebuah negara di pesisir Afrika Timur. Di sana, terdapat sebuah desa kecil dengan penduduk yang majemuk.

Tiap Jumat, Lavallo menyaksikan orang-orang berbondong-bondong ke masjid. Kemduian, setiap Ahad sebagian orang pergi ke gereja. Ia merasa, masyarakat setempat sangat harmonis. Suatu malam, ia mengobrol dengan seorang kakek yang belakangan ia ketahui sebagai Muslim. Diskusi saat itu membicarakan tentang makna kehidupan dan kebenaran.

“Aku mulai menjelaskan kebenaran dari perspektifku, yakni manusia hendaknya percaya, harus terus berdoa agar energi ilahi yang tak terlukiskan dapat menyatukan kita semua, ucap dia.

Kakek itu menjelaskan sesuatu yang saat itu terasa tak asing tetapi sekaligus baru bagi Lavallo. Kepada tamunya itu, ia memaparkan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa kehidupan ini dijalani dengan melakukan lima tahapan. Belakangan, Lavallo mengetahui, yang dibicarakan sang kakek ialah rukun Islam.

“Mempercayai satu Tuhan, berdoa lima kali dalam sehari, membantu orang lain, beribadah selama bulan Ramadhan, dan berziarah yakni haji. Ia terus menjelaskan itu semua, sehingga aku menjadi tertarik. Itu terdengar seperti untuk pertama kalinya aku menerima kebenaran,” kenang Lavallo.

Setelah mendalami Islam, ia merasa justru sedang memahami dirinya sendiri. Dan, itu menjadi pengalaman yang luar biasa dan indah baginya. Dalam usia 22 tahun, ia pun memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.

“Jadi aku mengucapkan syahadat pada malam hari itu juga di depan sang kakek. Hari berikutnya, kami pergi ke masjid setempat dan menjumpai seorang imam di sana, Sempat berdiskusi lebih lama. Lantas, ia membimbingku untuk mengucapkan syahadat kembali, dalam bahasa Arab, Inggris, dan Swahili,” papar dia.

Sesudah itu, Lavallo mengikuti shalat isya berjamaah. Sang imam kemudian memperkenalkannya kepada seluruh jamaah, yang agaknya terheran-heran ada seorang bule ikut dalam shaf. Setelah disampaikan bahwa pria muda ini baru saja bersyahadat, mereka sontak mengatakan alhamdulillah! Mereka semua bersalaman, memeluknya dengan perasaan bahagia.

Suka cita tak berhenti di sana. Keesokan harinya, Lavallo menceritakan, beberapa warga setempat mengadakan perayaan untuknya. Seekor kambing disembelih dan dimasak untuk sajian. Pada hari terakhir liburannya, ia merasa sangat tersanjung dengan kemurahan hati mereka.

Sebagai seorang Muslim, ia merasa amat bersyukur. Pengala mannya melanglang buana akhirnya mempertemukannya dengan hidayah dari Allah SWT. Perjumpaannya dengan seorang tua di Tanzania, hingga pekerjaannya kini di Abu Dhabi, membuatnya semakin merasa sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar: umat Islam.

Akan tetapi, Lavallo merasa kini cukup disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Waktu untuk mempelajari Islam terasa semakin sempit. Ia berharap, tak kian tenggelam dalam ketidaktahuan tentang agamanya. “Bagaimanapun, aku senang selama bertahun-tahun aku terus berupaya menjadi Muslim yang baik, kata dia.

Bertahun setelah ikrar syahadatnya yang pertama, Lavallo kembali ke desa kecil di Tanzania itu. Ia berjumpa dengan orang-orang yang telah menyambutnya dalam iman dan Islam. Tentunya, sang kakek yang menjadi perantara hidayah tak akan pernah dilupakannya.

Betapapun demikian, ia tak lantas memutuskan untuk tinggal di sana. Lavallo lebih memilih Uni Emirat Arab (UEA). Sebab, di sanalah ia bekerja sebagai seorang konsultan manajemen. Ia merasa, UEA merupakan negara yang paling nyaman untuk mengamalkan Islam sekaligus mengejar karier.

“Bahkan sebelum aku mengenal Islam, iman kepada Tuhan selalu menjadi yang paling penting dalam hidup ini menurutku. Dan, sejak menjadi Muslim aku merasa semakin dekat dengan kasih- sayang-Nya. Ini benar-benar menakjubkan. Tentu, sebagai manusia aku mungkin berubah dari waktu ke waktu, tetapi aku merasa iman akan selalu membimbingku tetap di jalan yang lurus,” kata dia, seperti dikutip Islamic Finder.[]

Sumber: Republika.co.id

Apa Itu Rezeki? Apakah Hanya Sebatas Uang dan Materi?

Apa Itu Rezeki? Apakah Hanya Sebatas Uang dan Materi?

Berupa apa sih rezeki dan nikmat pemberian Allah SWT?

Apa rezeki itu cuma sebatas uang, gaji, punya rumah, mobil dan lain-lainnya saja.

Tentu saja bukan.

Rezeki Adalah….

Rezeki menurut arti katanya adalah penghidupan. Atau hal-hal bermanfaat untuk semua makhluq. Rezeki dari Allah artinya semua hal yang memiliki fungsi dan bermanfaat untuk makhluq yang semuanya datang dari Allah SWT.

Makna lain, rezeki juga bisa disebut sebagai anugerah. Yakni anugerah dari Allah untuk seluruh makhluk-Nya. Dan tahukah, bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk manusia itu sudah dijamin oleh Allah rejekinya.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum Ayat 40:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

allāhullażī khalaqakum ṡumma razaqakum ṡumma yumītukum ṡumma yuḥyīkum, hal min syurakāaikum may yaf’alu min dzalikum min syai’, sub-ḥānahụ wa ta’ālā ‘ammā yusyrikụn.

“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.”. (QS. Ar-Rum ayat 40).

Tapi banyak kita yang tak luput dan hanya menafsirkan nikmat dan rezeki itu dari sisi materil saja.

Padahal rezeki itu begitu luas sampai-sampai begitu banyak diantara kita yang lalai dan tidak pernah bersyukur atas nikmat Allah SWT.

Senangnya mengeluh dan mengeluh di media sosial, tapi tidak pernah bersujud di hadapan Allah.

Sholat 5 waktu bahkan digadaikan demi mengejar dunia karena ngakunya kekurangan rezeki.

Status juga galau. Isinya doa dan keluhan-keluhan seputar urusan duniawi saja. Tapi sholat, sedekah, dan ibadah lainnya terabaikan. Doanya pun cuma lewat media sosial aja.

Apa aja sih rezeki itu?

Apa Itu Rezeki? Apakah Hanya Sebatas Uang dan Materi?

Allah telah memberikan banyak hal yang semuanya memiliki manfaatnya bagi seluruh kehidupan, termasuk manusia dan makhluq-Nya. Semua anugerah tersebut merupakan rejeki dari Allah SWT. Simak ulasan Widiynews tentang apa itu rezeki dibawah ini.

Langkah kaki yang dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rezeki.

Langkah kaki yang dimudahkan untuk  sholat berjemaah di masjid, adalah  rezeki.

Hati yang Alloh Ta’ala jaga jauh dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan kebencian, adalah  rezeki.

Baca juga: 5 Penyakit Hati dalam Islam Disertai Penjelasan dan Dalilnya

Memiliki kawan-kawan & sahabat yang  sholeh & sholehah yang saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rezeki.

Saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga  rezeki. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, angkuh bahkan lupa diri & mudah terdorong melakukan maksiat.

Punya orang tua yang sakit-sakit, ternyata itu adalah  rezeki, karena merupakan ladang amal pembuka pintu surga bila kita tulus ikhlas menjaga & mengurus kedua orang tua kita.

Tubuh yang sehat, adalah  rezeki. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk rezeki, karena sakit adalah penghapus/penggugur dosa jika kita ridho dan sabar.

Dan…dan…dan mungkin ada lagi jutaan list lainnya bentuk-bentuk rezeki yang kita tidak sadari dan tak terfikirkan…..

Suami Istri dan anak-anak  sehat itu  rezeki, anak-anak pelajarannya  lancar itu  rezeki, hidup rukun  antas sesama dan tetangga itu juga rezeki…

Baca juga: Doa Memohon Dibukakan Pintu Rezeki Lengkap Disertai Artinya

Bahkan bila anda mendapat kiriman/pesanan tausiah keagamaan yang mengajak kebajikan dari Group WhatsApp atau medsos lainnya itu juga rezeki, karena anda mendapatkan Ilmu darinya…

Justru apa yang harus kita  berwaspada adalah ketika hidup kita berkecukupan, lebih-lebih lagi jika mewah, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, sedangkan masih terlalu banyak hak Allah Ta’ala yang belum mampu atau tidak kita tunaikan sama sekali.

“Mari sebarkan kebaikan dan nikmati rezeki yang Alloh Ta’ala berikan dan amanahkan kepada kita”

“.. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid – 57:20)

Alhamdulillah hari ini Kamis menjelang malam Jum’at, mari membaca Al-Qur’an surah Al-Kahfi, memperbanyak istighfar, sholawat, doa dan sedekah.

Dari penjelasan singkat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa rejeki itu terbagi menjadi 8 jenis, yaitu:

  1. Rezeki Karena Sudah Dijamin oleh Allah
  2. Rezeki Karena Berusaha
  3. Rezeki Karena Bersyukur
  4. Rezeki Karena Bertakwa
  5. Rezeki Karena Istighfar
  6. Rezeki Karena Menikah
  7. Rezeki Karena Anak
  8. Rezeki Karena Sedekah

Semoga kita senantiasa bisa memperbaiki ibadah kita kepada Alloh Ta’ala, dan terus istiqomah bertutur kata, berfikir dan berbuat baik dan benar.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna

Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin….

Sumber: Group WAImage credit : NU

Larangan Taat Kepada Orang Tua dalam Perkara Maksiat

Berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada mereka adalah wajib hukumnya, tapi tidak dalam perkara berbuat dosa, maksiat, syirik, dan bid’ah.

Ketaatan kepada orang tua tidak secara mutlak dalam seluruh perkara. Selama itu dalam ketaatan pada Allah atau masih dalam kebaikan, maka perintah mereka harus ditaati. Adapun jika mereka memerintahkan untuk berbuat syirik, maksiat dan bid’ah, maka tidak ada ketaatan kepada keduanya.

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.“ (Luqman : 15)

Jika Orangtua Menyuruh Berbuat Syirik

Larangan Taat Kepada Orang Tua dalam Perkara Maksiat

Apabila orang tua menyuruh untuk berbuat syrik, maka Allah melarang untuk mentaatinya. Allah berfirman :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

“ Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya !“

Dalam firman Allah (فَلَا تُطِعْهُمَا) “janganlah kamu mentaati keduanya” terdapat dua faedah :

1. Tidak boleh mantaati keduanya dalam melakukan perbuatan syirik karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam perbuatan maksiat kepada Allah Al Khaliq. Hak  Allah lebih wajib ditunaikan daripada hak kedua orang tua.

2. Allah menggunakan ungkapan (فَلَا تُطِعْهُمَا) “jangan mentaati keduanya” dan tidak menggunakan ungkapan (فاعصهما) “selisihlah keduanya” karena ungkapan yang pertama lebih lembut dan mudah diterima jiwa. Begitu pula tidak digunakan ungkapan (لا تبرهما) “janganlah berbuat baik kepada keduanya” atau (لا تقم بحقهما) “janganlah tunaikan hak keduanya” karena berbuat baik dan menunaikan hak keduanya adalah kewajiban meskipun mereka menyuruh untuk berbuat syirik.

Jika kedua orang tua masih punya hak meskipun memerintahkan kesyirikan, maka bagaimana lagi jika mereka memerintahkan yang selain syirik ? Hal ini menunjukkan bahwa menunaikan hak kedua orangtua merupakan perkara yang agung dan bukanlah perkara yang remeh dalam Islam. 

Bagaimanapun keadaan orang tua, kita diwajibkan oleh Allah untuk berbakti kepada mereka, selama bukan merupakan perkara maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika orang tua memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajiban untuk mentaati perintah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“ Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.” (HR. Ahmad, shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya bahwasanya jangan disangka mentaati keduanya dalam perbuatan syirik adalah termasuk bentuk ihsan (berbuat baik) kepada keduanya.

Hak Allah tentu lebih diutamakan dan didahulukan daripada hak siapapun. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat pada Al Khaliq (Sang Pencipta). Allah Ta’ala tidaklah mengatakan, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka (فعقهما) “durhakailah keduanya .

Namun Allah Ta’ala katakan (فَلَا تُطِعْهُمَا)  “janganlah mentaati keduanya”, yaitu dalam berbuat syirik. Adapun dalam berbuat baik pada orang tua maka tetap harus dilakukan. ” (Taisir Al Karimir Rahman)

Sumber: Muslim.or.id

11 Makna dan Keutamaan Bulan Rajab dalam Islam

11 Makna dan Keutamaan Bulan Rajab dalam Islam

Keutamaan Bulan Rajab dalam Islam – Termasuk bulan dalam penanggalan Hijriyah (Kalender Islam), Rajab menjadi salah satu bulan yang selalu dinanti-nanti karena banyak keistimewaan. Bahkan, namanya tercatat didalam Al-Qur’an sebagai bukti bahwa bulan ini begitu dihormati.

Bulan Rajab memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Islam, karenanya bulan mustajab ini memiliki banyak keutamaan yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah dan doa.

Salah satu amal ibadah yang paling dianjurkan pada bulan ini adalah berpuasa. Walau demikian, Islam menganjurkan untuk mengerjakan ibadah-ibadah lainnya karena pada bulan ini Allah SWT melipatgandakan pahala ibadah sampai 70 kali lipat.

Firman Allah SWT didalam Surat At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ – ٣٦

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. (At-Taubah:36)

11 Keutamaan Bulan Rajab dalam Islam yang Patut Diketahui

11 Makna dan Keutamaan Bulan Rajab dalam Islam

Berikut beberapa makna dan keutamaan bulan Rajab berdasarkan Surat At-Taubah Ayat 36. Semoga dapat menambah wawasan dan pengetahuan keislaman kita semua.

1. Bulan Haram

Rajab atau bulan Rojab merupakan salah satu dari empat bulan haram dimana ketiganya yaitu Dzulhijjah, Dzulqa’dah dan Muharram.

Dinamakan bulan haram karena Allah mengharamkan kita menyakiti diri kita sendiri dan orang lain, apapun alasannya. Kita juga dianjurkan untuk menghindari segala bentuk perbuatan dosa karena perhitungan pada bulan ini akan dilipatgandakan.

Baca juga: Amalan Doa dan Tata Cara Niat Puasa Sunnah Bulan Rajab

2. Bulan Penuh Berkah

Bulan Rajab termasuk dalam salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam, bahkan namanya tercatat didalam Al-Qur’an.

Dalam bulan Rajab terdapat banyak keberkahan. Hal ini berkaitan dnegan perintah untuk melaksanakan kebajikan dan ibadah sebanyak-banyaknya karena pahala tersebut akan dilipatgandakan.

Disebutkan jika seseorang yang melakukan amal kebaikan pada bulan ini akan dilipatgandakan pahalanya menjadi 70 kali lipat. Sedangkankan selain pada bulan haram (mulia), pahala dari amal yang dilakukan hanya 10 kali lipat.

3. Bulan yang Mulia

Nabi Muhammad SAW menegaskan terkait kemuliaan bulan Rajab, hal ini dipertegas dengan salah satu hadits berikut :

“Bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan. Di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

4. Termasuk Bulan yang Suci

Hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW berikut :

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Pada bulan Rajab, umat Islam dianjurkan menghindari perbuatan dosa, dzalim baik untuk diri sendiri atau kepada orang lain. Inilah salah satu bukti mengapa Rajab menjadi salah satu dari empat bulan haram.

5. Bulan Mustajab untuk Berdoa

Inilah mengapa pada bulan haram ini umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, hal ini dijelaskan dalam hadits Rosulullah SAW :

“5 malam tidak ditolak di dalamnya doa-doa; awal malam Bulan Rajab, malam separuh Bulan Sya’ban, malam Jumat, malam idul fitri, dan malam idul adha.” (Hadits ini dikeluarkan Imam as Suyuthi RA dalam Kitab al Jami)

Bulan Rajab adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa karena termasuk waktu mustajab. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

يَتَنَزَّلُ رَبَّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلُّ لَيْلَةٍ إلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ اْلآخِرِ فَيَقُوْلُ مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلْنِيْ فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُ نِيْ فَأَغْفِرَلَهُ

“Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”. [Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150]

6. Bulan untuk Bertaubat dan Memperbanyak Ibadah

Bulan Rajab menandakan bahwa Ramadhan sudah semakin dekat. Untuk menyambut bulan suci penuh ampunan itulah umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak taubat, dan amal ibadah.

Hal ini karena pada bulan ini setiap amal kebaikan dan ibadah akan dilipatgandakan pahalanya sampai 70 kali lipat.

Selain itu, menjelang persiapan menyambut datangnya bulan penuh ampunan, Ramadhan maka bulan Rajab merupakan waktu yang tepat untuk menggodok diri kita dengan ibadah, taubat, doa, istigfar dan memperbanyak dzikir.

وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤْمِنُوٓا۟ إِذْ جَآءَهُمُ ٱلْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا۟ رَبَّهُمْ إِلَّآ أَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ ٱلْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ ٱلْعَذَابُ قُبُلًا

Artinya:

“Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.” (Q. S. Al Kahfi: 55)

7. Bulan Penuh Kemurahan Allah SWT

Pada bulan haram ini, Allah SWT semakin menambah berkahnya, baik dalam kesehatan, rizqi, ataupun hubungan. Inilah alasan mengapa Islam menganjurkan untuk memperbanyak doa agar kita senantiasa mendapatkan kemurahan-kemurahan dari Allah SWT.

8. Bulan untuk Berpuasa

Dianjurkan untuk melaksanakan berbagai macam puasa sunnah pada bulan Rajab. Imam Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya meriwayatkan, suatu ketika datang seseorang dari suku Al-Bahili menemui Nabi Muhammad SAW. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan:

“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan”. Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya).

Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Diantaranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.

9. Bulan yang baik untuk umrah

Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari A’isyah dan beliau diam saja. (HR. Al Bukhari & Muslim)

Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. A’isyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umrah bulan Rajab.

10. Dihapus Dosanya oleh Allah

Bulan Rajab membawa kabar gembira, tentunya bagi orang-orang yang dekat dengan Allah dan gemar memperbanyak amal ibadah. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan ini adalah berpuasa.

Allah akan menghapus dosa bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah puasa sunnah Rajab. Bahkan untuk hitungan tahun dalam satu kali berpuasa.

  • Puasa hari pertama, mendapat ampunan selama tiga tahun.
  • Puasa hari kedua, diampuni dosa kita selama dua tahun
  • Puasa pada hari ketiga, diampuni dosa kita selama satu tahun
  • Sedangkan pada hari-hari berikut dihapuskan dosa-dosa kita dalam satu bulan.

11. Sama dengan berpuasa di bulan yang mulia

Satu lagi yang menjadi keutamaan bulan Rajab, yaitu ketika kita melakukan hal mulia (puasa) maka pahala yang kita dapatkan sama seperti berpuasa pada bulan mulia.

Insya Allah ini menjadi keutamaan dan kemuliaan besar yang bisa kita dapatkan selama bulan Rajab ketika kita melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya.

[Hikmah] Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Pencabut Nyawa

[Hikmah] Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Pencabut Nyawa

Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut – Di antara watak yang dimiliki Nabi Musa ‘alaihissalam adalah memperlakukan orang lain secara spontan sesuai dengan kepribadiannya. Tak mengherankan ketika malaikat maut datang kepadanya dalam wujud seorang pria yang akan mencabut nyawanya, Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menampar muka sang malaikat hingga bola matanya pecah.

Kemudian, Allah SWT pun memberikan dua pilihan kepadanya: apakah akan beralih ke hadirat-Nya atau tetap berada di dunia beberapa lama lagi hingga malaikat maut kembali datang menjemput nyawanya.

Namun, Nabi Musa ‘alaihissalam memilih untuk segera bersanding di sisi Tuhannya dan meninggalkan kepenatan dan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Maka Allah mengabulkan doanya untuk didekatkan dengan Tanah Suci (Baitul Maqdis) sejauh lemparan batu. Konon, kuburannya pun berada di sana.

Selengkapnya, kisah itu dapat disimak dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Artinya:

“Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan berkata, “Penuhilah panggilan Tuhanmu!” Namun spontan Musa menampar mata malaikat hingga bola matanya terpecah. Akhirnya, malaikat maut kembali kepada Allah dan menyampaikan, “Sesungguhnya Engkau telah mengutusku menemui hamba yang tidak menginginkan kematian. Akibatnya, mataku terpecah.” Kemudian, Allah segera mengembalikan penglihatannya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan sampaikan padanya, apakah engkau terus menginginkan kehidupan? Jika engkau masih menginginkannya, letakkanlah tanganmu pada punggung sapi jantan. Satu bulu yang tertutupi tanganmu, maka engkau akan hidup satu tahun.” Musa bertanya, “Lalu apa setelah itu?” Allah menjawab, “Tetaplah engkau akan meninggal.” Musa berkata lagi, “Wahai Tuhanku, sekarang kupilih kematian itu dalam waktu dekat.” Kemudian Nabi Musa menyampaikan keinginannya, “Matikanlah aku dekat Tanah Suci (Baitul Maqdis) sedekat lemparan batu.” Terakhir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan, “Demi Allah, andai aku berada di sisinya, niscaya akan aku perlihatkan kepada kalian kuburannya berada di pinggir jalan, tepatnya pada gundukan pasir.”

Dalam hadits di atas disampaikan bahwa Allah mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dalam wujud seorang pria. Dia meminta Nabi untuk memenuhi panggilan-Nya.

Melalui malaikat, Allah juga menyampaikan bahwa ajalnya sudah dekat dan saat kematiannya akan segera tiba. Namun, sebagai sosok yang tegas, tidaklah mengerankan jika begitu didatangi malaikat, Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menampar wajah malaikat tersebut hingga matanya terpecah. Maksudnya mata di sini adalah mata malaikat yang kala itu datang dalam wujud seorang pria. Sebab, jika bukan dalam wujud manusia, pasti Nabi ‘alaihissalam tidak akan bisa menamparnya.

Akhirnya, malaikat maut kembali kepada Allah dan mengadukan tamparan Nabi Musa ‘alaihissalam yang dialaminya. Maka, Allah segera mengembalikan penglihatannya dan memerintah untuk kembali menemui Nabi Musa ‘alaihissalam guna meminta meletakkan tangannya di atas punggung sapi jantan.

Kemudian, ia menghitung bulu-bulu sapi yang tertutup tangannya. Setiap bulu yang tertutup dihitungnya sebagai tambahan usia satu tahun. Walhasil, tambahan usianya sebanyak bulu sapi yang tertutup tersebut. Namun, Nabi ‘alaihissalam tidak mengambil tambahan usia itu. Andai ia melakukannya, niscaya ia masih hidup hingga sekarang ini.

Namun, begitu dikabarkan bahwa setelah tambahan usianya itu tetaplah kematian, Nabi Musa ‘alaihissalam memilih kematian dalam waktu dekat. Sebab, tidaklah para nabi, rasul, dan orang-orang saleh berada di sisi Allah kecuali lebih baik dan lebih kekal.

Jika arwah para syuhada diserupakan dengan burung-burung yang terbang di taman surga, memakan buah-buahnya dan meminum air sungai yang ada di dalamnya, berlindung di bawah lampu-lampu yang bergantung di bawah langit ‘Arasy al-Rahmân, maka kehidupan para nabi dan rasul di sana tentu lebih dari itu.

Tidak bisa dibayangkan, bagaimana keadaan Nabi Musa ‘alaihissalam jika masih hidup hingga hari ini? Ia akan terus mendapat ujian dan beban hidup. Artinya, keberadaannya di dunia sebagai negeri ujuan dan kehancuran tidak akan lebih baik ketimbang keberadaaannya di surga dan rahmat Allah bersama para nabi dan rasul yang lain.

Namun, sebelum kematian, Nabi Musa ‘alaihissalam memohon kepada Allah agar nyawanya dicabut dekat Tanah Suci (Baitul Maqdis) hingga sedekat lemparan batu.

Permohonan itu menunjukkan betapa cintanya Sang Nabi kepada Tanah Suci. Bahkan, dikubur pun ingin di dekatnya. Tetapi, Nabi ‘alaihissalam tidak meminta Allah agar mencabut nyawanya tepat di dalam tanah suci itu, sebab dirinya tahu bahwa Allah mengharamkan tanah tersebut pada generasi yang dijatuhi balasan atas ketidaktaatan mereka kepada Allah saat diperintah untuk memasukinya.

Malahan mereka berkata, Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja, (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 24).

Akibatnya, Allah menetapkan, mereka tersesat di padang Sinai selama empat puluh tahun.

Allah pun mengabulkan permohonan Nabi Musa ‘alaihissalam. Nabi Muhammad SAW mengabarkan bahwa kuburannya berada di Tanah Suci Baitul Maqdis, tepat di serambinya yang ada pada gundukan pasir. Ditambahkan dalam riwayat itu, andai berada di sana, beliau pasti telah memperlihatkannya kepada para sahabat.

Hikmah Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut

Hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa sebelum dicabut nyawa, para nabi selalu diberikan pilihan: apakah memilih tambahan hidup, ataukah memilih segera berpulang ke rahmat Allah, sebagaimana halnya Nabi Musa ‘alaihissalam.

Bahkan, berkenaan dengan hal ini, ‘Aisyah pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berucap saat sakit terakhirnya, “Ya Allah, kupilih al-Rafîq al-Alâ (surga).” Dari ucapan itu, ‘Aisyah tahu bahwa al-Rafîq al-‘Alâ itu lebih baik, makanya beliau memilih itu.

Para malaikat mampu menunjukkan diri dalam wujud manusia. Tak terkecuali saat menemui Nabi Musa ‘alaihissalam.

Kematian itu sesuatu yang pasti dan tak bisa ditolak. Andai di antara kita ada yang selamat darinya, tentu para nabi dan rasul juga sudah selamat.

Tingginya kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam sampai-sampai mampu menampar malaikat maut hingga bola matanya terpecah. Andai bukan karena kedudukan Nabi Musa ‘alaihissalam di sisi Allah, niscaya malaikat maut akan melakukan pembalasan berat kepadanya.

Kuburan Nabi Musa ‘alaihissalam berada di Tanah Suci Baitul Maqdis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberi tahu keberadaan kuburannya. Bahkan, beliau menyebutkan beberapa tanda keberadaan tersebut, yaitu di samping jalan, tepat pada gundukan pasir.

Nabi Musa ‘alaihissalam menginginkan kuburannya berada dekat dengan tanah yang penuh berkah. Karena itu, tidak ada salahnya jika ada seseorang yang juga ingin meninggal di tanah yang penuh berkah itu.

Tanah Suci dimaksud memiliki batasan-batasan yang telah diketahui. Nabi Musa ‘alaihissalam pun meminta kepada Allah untuk mendekatkan dirinya pada tanah itu sedekat lemparan batu. Tetapi demikian, jenazahnya dikuburkan di luar tanah tersebut. (Lihat: Umar Sulaiman al-Asyqar, Shahih al-Qashash al-Nabawi, [Oman: Darun Nafais], 1997, Cetakan Pertama, hal. 97). Wallahu a’lam.

Sumber:

https://islam.nu.or.id/post/read/116679/ketika-nabi-musa-menampar-malaikat-maut#top

Siapakah Luqman Al-Hakim yang Namanya Allah Abadikan dalam Al Qur’an?

Siapakah Luqman Al-Hakim yang Namanya Allah Abadikan dalam Al Qur’an?

Sebenarnya siapakah Luqman AL-Hakim itu? Nama Luqman adalah di antara nama yang Allah Ta’ala sebutkan di dalam Al Qur’an. Bahkan namanya diabadikan menjadi salah satu surat dalam Al Qur’an.

Apa saja nasihat Luqman yang ada dalam Al Qur’an?

InsyaAllah secara berseri kita akan membahas beberapa wasiat dan nasihat Luqman yang terdapat dalam Al Qur’an. Pembahasan diawali dengan mengenal siapa itu Luqman Al Hakiim.

Siapakah Luqman Al-Hakim?

Allah Ta’ala sebutkan nama Luqman dalam Al Qur’an :

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, dan Kami perintahkan kepadanya, “Bersyukurlah kepada Allah”. Dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.“ (QS. Luqman : 12)

Luqman adalah nama seorang lelaki. Mayoritas ulama menyebutkan bahwa Luqman bukan Nabi, tetapi seorang lelaki shalih yang Allah Ta’ala karuniakan hikmah kepadanya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama beselisih pendapat apakah Luqman adalah nabi atau orang shalih yang bukan nabi. Mayoritas mengatakan bahwa Luqman bukanlah nabi.

Diriwayatkan dari ‘Ikrimah -jika memang benar shahih dari beliau- bahwasanya Luqman adalah Nabi. Namun yang lebih tepat bahwa Luqman bukanlah Nabi, akan tetapi beliau seorang lelaki yang bijaksana yang memiliki petunjuk yang lurus. Allah Ta’ala karuniakan kepadanya banyak hikmah, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً

“Allah menganugerahkan Al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS. Al Baqarah : 269)

Imam Qatadah rahimahullah berkata:

“Dia bukanlah nabi dan dia tidak diberi wahyu.” Imam Mujahid rahimahullah berkata, “Luqman adalah seorang lelaki yang shalih namun bukanlah seorang nabi.”

Terdapat banyak perbedaan mengenai profesi Luqman. Ada yang menyebutkan bahwa Luqman adalah seorang penjahit. Ada pula yang mengatakan dia adalah tukang kayu. Sebagian lagi menyebutkan bahwa beliau adalah penggembala. Dan adapula yang mengatakan bahwa beliau adalah seorang qadhi (hakim).

Mengenai asalnya, ada yang menyebutkan bahwa beliau berasal dari Habasyah. Ada pula yang menyebutkan bahwa asalnya dari Sudan.

Apa pekerjaaan dan dari mana asalnya tidaklah berpengaruh dan tidak penting. Yang jelas beliau adalah seorang lelaki yang Allah Ta’ala beri hikmah.

Allah Ta’ala menyebutkan kepada kita di antara wasiat dan nasihat Luqman kepada anaknya di dalam Al Qur’an agar kita mendapat manfaat dan mengambil faidah darinya. (Lihat at Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Tafsir Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy )

Luqman Mendapat Anugerah Berupa Hikmah

Allah Ta’ala Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman,” (QS. Luqman : 12)

Hikmah pada asalnya memiliki arti bersesuaian dengan kebenaran. Maknanya adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Pemiliknya memiliki akal yang terbimbing dan pemikiran yang lurus sehingga disebut seorang yang hakiim. Oleh karena itu Luqman sering diberi julukan Luqman Al Hakiim.

Hikmah memiliki banyak makna yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya :

  1. Benar dan lurus dalam perkataan dan perbuatan
  2. Meletakkan sesuatu sesuai dengan tempat yang selayaknya, berbicara sesuai dengan kondisinya. Jika melihat kondisi yang membutuhkan keras, maka akan bersikap dan berkata keras. Jika melihat kondisi yang membutuhkan sikap lembut maka dia akan lembut dalam berucap.
  3. Memiliki pemahaman yang baik dan benar, ilmu yang bermanfaat, dan ta’wil serta tafsir yang benar dan bagus. Imam Qatadah rahimahullah ketika menafsirkan hikmah dalam ayat ini berkata. “Maksudnya adalah pemahaman tentang Islam”.
  4. Benar dalam keyakinan dan paham permasalahan agama serta memiliki kecerdasan.
  5. Akal yang sehat yang menghalangi pemiliknya dari jeleknya pemahaman.

(Lihat at Tashiil li Ta’wiil at Tanziil Tafsir Surat Luqman karya Syaikh Musthofa al ‘Adawiy)

Inilah di antara beberapa makna hikmah yang dijelaskan oleh para ulama. Berbagai penjelasan mengenai makna hikmah di atas tidak saling bertentangan, bahkan saling melengkapi sehingga lebih menjelaskan tentang makna hikmah itu sendiri.

Mereka yang Mendapatkan Hikmah

Luqman adalah salah satu di antara makhluk Allah Ta’ala yang mendapatkan hikmah dari-Nya. Selain Luqman, ada beberapa makhluk yang Allah Ta’ala karuniakan hikmah kepadanya. Allah Ta’ala telah mejelaskan keutamaan hikmah dan siapa saja yang mendapatkannya. Allah Ta’ala memberikannya kepada hamba-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman :

يُؤتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْراً كَثِيراً وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).“ (QS. Al Baqarah: 269)

Allah Ta’ala menjelaskan tentang nikmat hikmah kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam:

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan“ (QS. Shaad : 20)

Begitu pula Allah Ta’ala memberi hikmah kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam :

وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“dan (ingatlah) di waktu Aku mengajari kamu kitab dan hikmah.“ (QS. Al Ma’idah : 110)

Demikian juga Allah Ta’ala menganugerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَأَنزَلَ اللّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.“ (QS. An Nisaa;: 113)

Wasiat Luqman Al-Hakim dalam Al Qur’an

Allah Ta’ala menyebutkan dalam beberapa ayat surat Luqman mengenai wasiat dan nasihat Luqman yang hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Di antara pelajaran dan wasiat Luqman tersebut adalah :

  1. Senantiasi bersyukur kepada Allah Ta’ala
  2. Menjauhi kesyirikan
  3. Jangan bersikap sombong
  4. Ingatlah bahwa setiap amalan akan mendapat balasan
  5. Dirikanlah shalat, beramar ma’ruf nahi mungkar, dan bersabar terhadap setiap cobaan
  6. Bersikap tawadhu’ di hadapan manusia

Semoga kita senantiasa bisa mengambil faidah dari setiap kisah yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an.

Referensi :

Siapakah Luqman yang Allah Abadikan Namanya dalam Al Qur’an ?

Diakses 11 Juni 2020

Lailatul Qadar, Waktu Pencatatan Takdir Tahunan

Lailatul Qadar, Waktu Pencatatan Takdir Tahunan

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Di antara maksud lailatul qadar adalah waktu penetapan atau pencatatan takdir tahunan.

Adapun keyakinan seorang muslim terhadap takdir, ia harus meyakini bahwa Allah mengetahui takdir hingga masa akan datang, Dia mencatat takdir tersebut, yang Dia tetapkan pasti terjadi, serta Dia pun menciptakan perbuatan hamba.

Imam Nawawi rahimahullah berkata,

Disebut lailatul qadar karena di malam tersebut dicatat untuk para malaikat catatan takdir, rezeki dan ajal yang terjadi pada tahun tersebut.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (maksudnya: takdir dalam setahun, -pen).” (QS. Ad Dukhon: 4).

Begitu pula firman Allah Ta’ala,

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al Qadr: 4).

Yang dimaksud ayat ini adalah diperlihatkan pada malaikat kejadian-kejadian dalam setahun, lalu mereka diperintahkan melakukan segala yang menjadi tugas mereka.

Namun takdir ini sudah didahului dengan ilmu dan ketetapan Allah lebih dulu. Lihat Syarh Shahih Muslim, 8: 57.

Mengenai surat Ad Dukhon ayat 4 di atas, Qotadah rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah pada malam lailatul qadar ditetapkan takdir tahunan.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 13: 132)

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas bahwa dicatat dalam induk kitab pada malam lailatul qadar segala yang terjadi selama setahun berupa kebaikan, kejelekan, rezeki dan ajal, bahkan sampai kejadian ia berhaji. Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir, 7: 338.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pada malam lailatul qadar ditetapkan di Lauhul Mahfuzh mengenai takdir dalam setahun yaitu terdapat ketetapan ajal dan rezeki, begitu pula berbagai kejadian yang akan terjadi dalam setahun. Demikianlah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak, dan ulama salaf lainnya.” Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim dalam penjelasan ayat di atas.

Syaikh As Sa’di dalam Taisir Al Karimir Rahman berkata, “Ada salah satu pencatatan kitab yang terdapat pada malam lailatul qadar. Kitab tersebut dicatat namun masih bersesuaian dengan takdir yang dulu sudah ada, di mana Allah sudah menetapkan berbagai takdir makhluk, mulai dari ajal, rezeki, perbuatan serta keadaan mereka. Dalam penulisan tersebut, Allah menyerahkan kepada para malaikat. Takdir tersebut dicatat pada hamba ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Kemudian setelah ia lahir ke dunia, Allah mewakilkan kepada malaikat pencatat untuk mencatat setiap amalan hamba. Di malam lailatul qadar tersebut, Allah menetapkan takdir dalam setahun. Semua takdir ini adalah tanda sempurnanya ilmu, hikmah dan ketelitian Allah terhadap makhluk-Nya.”

Semoga dengan semakin merenungkan tulisan di atas, kita pun semakin merenungkan malam kemuliaan lailatul qadar dan semakin beriman pula pada takdir ilahi. Aamiin.

Semoga bermanfaat…

Sumber: Grup WhatsApp Galeri Cinta Rosulullah

Malam Lailatul Qadar

Malam Lailatul Qadar

Tanda Malam Lailatul Qadar – Semua pasti telah mengetahui keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun, kapan malam tersebut datang?

Lalu adakah tanda-tanda dari malam tersebut?

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan malam yang keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan.

Keutamaan Lailatul Qadar

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya.

Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah Malam Lailatul Qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada Sepuluh Malam Terakhir Di Bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap,

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan.

Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu.

Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.

Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala.

Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Catatan : Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas.

Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya.

Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak.

Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.

Tanda-Tanda Lailatul Qadar

1. Udara dan angin sekitar terasa tenang.

Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya)

2. Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

3. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

4. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.

Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150).

Niat, dan Tata Cara Sholat Malam Lailatul Qadar

Berikut ini bacaan niat, tata cara serta doa sholat lailatul qadar seperti yang dijelaskan oleh Ustad Abdul Somad., LC, MA:

1. Mengucapkan Niat

“Ushalli Sunnata lailatil Qadri Arba’arakaatin Lillahi Ta’aalaa”

2. Takbiratul ikhram

Sama seperti salat lainnya, salat lailatul qadar dimulai dengan melakukan gerakan takbiratul ikram dengan membaca kalimat takbir yaitu “”Alloohhu Akbar”

3. Membaca Al Fatihah dan surat pendek

Membaca Al Fatihah pada rakaat pertama hngga keempat.

Kemudian dilanjutkan membaca surat At Takasur, Al Qadr, dan Al Ikhlas, berturut-turut sebanyak tiga kali.

Jika tidak hafal, boleh diganti dengan bacaan surat lainnya.

4. Tak Ada Tahiyat Awal

Jika pada salat biasanya ada duduk diantara dua sujud atau tahiyat awal, maka pada salat lailatul qadar tidak ada.

Setelah sujud pada rakaat kedua langsung bangun dan lanjut pada rakaat ketiga.

5. Tahiyat Akhir (Rakaat keempat) dan salam

Setelah sujud rakaat keempat, kemudian duduk dan membaca doa tahiyat akhir. Bacaan ini sama dengan salat wajib.

Setelah itu kemudian melakukan salam.

Doa Ketika Mendapat Malam Lailatul Qadar

Bila Anda merasakan tanda-tanda tersebut dan yakin bahwa itu adalah malam Lailatul Qadar, maka segeralah membaca doa berikut.

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”

Artinya: Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku.

Doa tersebut berdasarkan riwayat hadits Ibnu Majah.

Semoga Allah memudahkan kita untuk meraih malam tersebut. Amin Yaa Mujibas Saailin.

Sumber: Rumaysho | papua.tribunnews.com | berbagai sumber lainnya.

Ramadhan, Bulan Turunnya Al-Qur’an

Ramadhan, Bulan Turunnya Al-Qur'an

Ketahuilah bahwa di antara keutamaan bulan Ramadhan yang agung nan penuh berkah ini adalah Allah turunkan pada bulan ini Kitab-Nya yang mulia, Al-Qur`an Al-Karim.

Turunnya Al-Qur’an sekaligus merupakan salah satu bentuk nikmat Allah kepada segenap makhluk-Nya.

Baca juga: 4 Keutamaan Bulan Ramadhan yang Istimewa dalam Islam

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur`an pada salah satu malam dari bulan Ramadhan Mubarak ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ  البقرة:185

“bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (Al-Baqarah : 185).

Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan bahwa pada bulan Ramadhan inilah Dia menurunkan Al-Qur`an. Kemudian Allah lanjutkan :

 “Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Menunjukkan bahwa sebab Allah memilih bulan Ramadhan sebagai bulan puasa adalah karena dalam bulan Ramadhan tersebut Allah telah menurunkan Al-Qur`an. Ini merupakan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat ini.

Jika kita tahu bahwa bulan termulia di sisi Allah adalah bulan yang diturunkan padanya Al-Qur`anul Karim maka selayaknya juga memuliakan bulan tersebut dengan cara memiliki perhatian serius dan semangat yang besar untuk memperbanyak amal shalih padanya.

Di antara ibadah terbesar dan ketaatan termulia yang sangat dianjurkan dilakukan pada bulan Al-Qur`an ini adalah ibadah yang terkait dengan Al-Qur`an secara langsung, yaitu dalam bentuk tilawah (membaca) Al-Qur`an dan mentadabburinya (mempelajari dan memahami maknanya) agar kita bisa mengamalkannya.

Sungguh telah banyak hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memberikan hasungan dan motivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan tilawah Al-Qur`an, di antaranya:

Dari Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  

« الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ ». متفقٌ عَلَيْهِ

“Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244]

Orang yang mahir membaca Al-Qur`an adalah orang yang bagus dan tepat bacaannya. Adapun orang yang tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala : pertama, pahala tilawah, dan kedua, pahala atas kecapaian dan kesulitan yang ia alami.

Dari shahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu : Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه »

“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membaca Al-Qur`an dengan bentuk perintah yang bersifat mutlak. Sehingga membaca Al-Qur`an diperintahkan pada setiap waktu dan setiap kesempatan. Lebih ditekankan lagi pada bulan Ramadhan. Nanti pada hari Kiamat, Allah subhanahu wata’ala akan menjadikan pahala membaca Al-Qur`an sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, datang memberikan syafa’at dengan seizin Allah kepada orang yang rajin membacanya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang memperhatikan Al-Qur`an, yaitu dengan rajin membacanya, menghafalnya, mendengarnya dengan serius, diam ketika dibacakan kepadanya, mempelajarinya, mengajarkannya, mengingatnya, dan mentadabburinya.

Terutama pada bulan Ramadhan yang mulia ini. Dan semoga kita tidak termasuk orang-orang yang meninggalkan Al-Qur`an.

 ألَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ و يا مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

أللَّهُـمَّ اَحْيِنَا بِالإِيْمَانِ,وَاَمِتْنـَا بِالإِيْمَانِ,وَاحْشُرْنَا بِالإِيْمَانِ,وَاَدخِلْنَا الجَنَّةَ مَعَ الإِيْمَانِ,وَثَبِّتْنَا مَعَ الإِيْمَانِ,وَاَخْرِجْنَا مِنَ الدُّنيـَا مَعَ الإِيْمَانِ,وَخْدِّم لَنَامِنَ الجِنِّ بِالإِيْمَانِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala Senantiasa memberikan keteguhan Iman  di hati kita semua.

Sumber: Group WhatsApp Galeri Cinta Rosulullah

4 Keutamaan Bulan Ramadhan yang Istimewa dalam Islam

4 Keutamaan Bulan Ramadhan yang Istimewa dalam Islam

Keutamaan Ramadhan – Alhamdulillah, kita kini berjumpa lagi dengan bulan suci Ramadhan. Bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan yang selalu dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam diseluruh dunia.

Banyak sekali diantara kita yang sering kali bertanya-tanya, apa perbedaan bulan Ramadhan dengan bulan-bulan Islam lainnya?

Hal ini tentu akan terjawab dengan mengetahui beberapa keistimewaan Ramadhan dibawah ini. Selain untuk dijadikan jawaban, sebagai umat Islam tentu kita wajib banyak belajar hal tentang ibadah, salah satunya terkait bulan suci ini.

Berikut adalah keutamaan dan keistimewaan Ramadhan yang disebutkan didalam hadits dan ayat Al-Qur’an.

Allah Menurunkan Al-Qur’an

Dilansir dari situs Rumaysho.com, ramadhan merupakan bulan agung nan mulia. Bulan ini dipilih  sebagai bulan untuk menjalankan ibadah berpuasa serta diturunkannya kitab suci Al-Qur’an.

Sebagaimana firman Allah SWT:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ibu Katsir rahimahullah menanfsirkan ayat ini dengan mengatakan:

”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji bulan puasa –yaitu bulan Ramadhan- dari bulan-bulan lainnya. Allah memuji demikian karena bulan ini telah Allah pilih sebagai bulan diturunkannya Al Qur’an dari bulan-bulan lainnya. Sebagaimana pula pada bulan Ramadhan ini Allah telah menurunkan kitab ilahiyah lainnya pada para Nabi ’alaihimus salam.”

Allah Menutup Pintu Neraka

Keutamaan bulan Ramadhan lainya adalah dimana Allah SWT membelenggu setan-setan, dan menutup pintu neraka. Sedangkan saat tiba bulan Ramadhan, Allah senantiasa membuka seluruh pintu-pintu surga.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosulullah SAW berikut:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

”Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.”

Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan:

“Hadits di atas dapat bermakna, terbukanya pintu surga dan tertutupnya pintu Jahannam dan terbelenggunya setan-setan sebagai tanda masuknya bulan Ramadhan dan mulianya bulan tersebut.”

Lanjut Al Qodhi ‘Iyadh:

“Juga dapat bermakna terbukanya pintu surga karena Allah memudahkan berbagai ketaatan pada hamba-Nya di bulan Ramadhan seperti puasa dan shalat malam. Hal ini berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Di bulan Ramadhan, orang akan lebih sibuk melakukan kebaikan daripada melakukan hal maksiat. Inilah sebab mereka dapat memasuki surga dan pintunya. Sedangkan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan, inilah yang mengakibatkan seseorang mudah menjauhi maksiat ketika itu.”

Terdapat Malam Seribu Bulan

Pada bulan penuh rahmat ini, terdapat salah satu keutamaan Ramadhan yang tidak akan pernah dijumpai pada bulan-bulan lainnya, yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Malam tersebut dinamakan Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah, yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, saat dimana Al-Qur’an diturunkan.

Firman Allah SWT didalam Al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3).

Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

”Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan: 3).

Yang dimaksud malam yang diberkahi di sini adalah malam lailatul qadr. Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir Ath Thobari rahimahullah. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama di antaranya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Dikabulkannya Do’a

Keistimewaan Ramadhan yang patut kita ketahui lainnya bulan ini merupakan waktu yang tepat untuk bertaubat, memperbanyak amal ibadah dan memanjatkan doa, karena bulan ini adalah salah satu waktu dikabulkannya do’a.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda:

إِنَّ لِلّهِ فِى كُلِّ يَوْمٍ عِتْقَاءَ مِنَ النَّارِ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ ,وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةً يَدْعُوْ بِهَا فَيَسْتَجِيْبُ لَهُ

”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga orang yang do’anya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’a orang yang dizholimi”. (HR. Tirmidzi)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

“Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berdo’a dari awal ia berpuasa hingga akhirnya karena ia dinamakan orang yang berpuasa ketika itu.”

An Nawawi rahimahullah mengatakan pula:

“Disunnahkan bagi orang yang berpuasa ketika ia dalam keadaan berpuasa untuk berdo’a demi keperluan akhirat dan dunianya, juga pada perkara yang ia sukai serta jangan lupa pula untuk mendoakan kaum muslimin lainnya.”

Demikian penjelasan mengenai keutamaan bulan Ramadhan dalam Islam disertai hadits dan ayat-ayat yang masih berkaitan.

Semoga penjelasan ini dapat menambah wawasan kita dan motivasi untuk lebih semangat dalam mengeruk pahala dan Ridho Allah SWT. Mari, kita jadikan Ramadhan sebagai bulan untuk melatih diri, sehingga pada hari Idhul Fitri kita benar-benar kembali dalam fitrah. Semoga bermanfaat.

Amalan Sederhana yang Bisa Membuatmu Selamat dari Siksa Kubur

Amalan Sederhana yang Bisa Membuatmu Selamat dari Siksa Kubur

Alam kubur menjadi alam penguhubung antara alam dunia dan alam akhirat. Mereka yang sudah meninggal dari dunia akan berada di alam ini hingga datangnya hari kiamat, hingga kemudian berpindah ke alam akhirat. Selama di alam kubur ini, manusia juga akan menerima ganjaran atas apa yang mereka perbuat selama di dunia.

“Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

Tidak ada yang tahu pasti, kecuali Allah, penghuni kubur mana yang mendapatkan rahmat dan mereka mendapatkan siksa. Ada seorang yang dikenal alim dan ahli ibadah selama di dunia, namun disiksa di alam kubur karena ‘urusan tusuk gigi’.

Ada juga yang mendapatkan nikmat kubur karena membiarkan serangga meminum cairan di ujung penanya. Kebaikan atau kejahatan yang dianggap ‘remeh’ di dunia bisa menjadi penentu nasib seseorang ketika di alam kubur dan alam akhirat. Semua tergantung ketentuan dan keridhaan Allah.

Lantas bagaimana caranya agar seseorang terbebas dari siksa alam kubur? Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Ruh (2012) mengemukakan dua jawaban; secara umum dan secara rinci terkait dengan hal tersebut—yang bisa menyelamatkan seseorang dari siksa kubur.

Pertama, menghindari semua perkara yang bisa mendatangkan siksa kubur. Ini merupakan cara global yang disampaikan Ibnu Qayyim.

Caranya, seseorang melaksanakan muhasabah diri sebelum tidur malam. Ia menghisab dirinya sendiri; apa keuntungan dan kerugian yang diperbuatnya pada hari itu. Jika ia melakukan keburukan, maka ia berjanji bertaubat dan tidak akan mengulanginya pada keesokan harinya.

Karena dengan demikian, jika dia meninggal maka dia meninggal dalam keadaan taubat. Jika dia masih hidup keesokan harinya, maka ia memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang belum diperbuatnya sebelum menghadap Allah. Itu harus dilakukan setiap hari. Dan akan lebih baik lagi, kalau muhasabah diri tersebut disertai dengan berdzikir kepada Allah.

Kedua, melakukan amalan atau orang yang meninggal dalam keadaan tertentu. Ini merupakan jawaban Ibnu Qayyim secara rinci. Ibnu Qayyim menjelaskan, ada beberapa amalan yang bisa menghindarkan seseorang dari siksa api neraka. Dalam satu hadits yang diriwayatkan al-Miqdam bin Ma’fi Yakrib, Nabi Muhammad bersabda bahwa salah satu ‘keistimewaan’ orang yang mati syahid adalah dilindungi dari siksa kubur.

Pada hadits lain, Nabi mengatakan bahwa QS Al-Mulk adalah pencegah dan penyelamat dari siksa kubur. Oleh karenanya, siapa saja yang membaca Surat Al-Mulk maka dia akan selamat dari siksa kubur. Namun, Imam Tirmidzi menilai, hadits dari Ibnu Abbas tersebut hasan gharib. Artinya, tingkatannya berada di pertengahan, antara shahih dan dhaif.

Orang yang meninggal dunia karena sakit perut juga terlindungi dari siksa kubur. Mengapa? Karena meninggal dalam keadaan seperti itu dianggap sebagai syahid (dunia). Hal ini sesuai dengan keterangan hadits dari Abu Hurairah, seperti yang tertera dalam Sunan Ibnu Majah. Begitupun dengan seorang Muslim yang meninggal dunia pada hari Jumat. Allah akan melindunginya dari ujian kubur.

Di samping itu, ada beberapa amalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari siksa di alam barzah. Di antaranya dzikir kepada Allah, shalat, puasa bulan Ramadhan, haji dan umrah, sedekah, menjalin silaturahmi, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, berharap dan berprasangka baik kepada Allah.

Dalam Busyral Karim, Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’asyin juga menjelaskan bahwa seorang Muslim yang membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 40 kali menjelang kematiannya juga akan terhindar dari siksa kubur. Ia juga aman dari himpitan kubur dan malaikat dengan telapak tangannya akan membawanya menyebrangi ‘jembatan’ hingga ke surga. Wallahu ‘Alam. []

* Sumber: NU (Penulis: Muchlishon)

Bulan Rabiul Awal, Jadwal Puasa, Keutamaan, dan Amalan Bulan Kelahiran Rosulullah

Bulan Rabiul Awal, Jadwal Puasa, Keutamaan, dan Amalan Bulan Kelahiran Rosulullah

Bulan Rabiul Awal “Rabi’ul Awwal” merupakan bulan ketiga dalam penanggalan Tahun Hijriyah. Bulan ini menjadi salah bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena banyak keutamaan bulan Robiul Awal, salah satunya menjadi bulan kelahiran Rosulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Robiul Awal tahun Gajah. Dan pada tahun 2019 kali ini, Maulid Nabi jatuh pada hari Sabtu, 9 November 2019. BUlan ini juga kerap kali dinamakan bulan Maulid.

Sejumlah peristiwa bersejarah juga terjadi pada bulan Rabiul Awal diantaranya, diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rosul, peristiwa hijrah serta wafatnya Rosulullah.

Keutamaan Bulan Rabiul Awal

Bulan Rabiul Awal (Rabi’ul Awwal) adalah bulan ketiga dalam kalender Hijriyah. Dalam bahasa Arab, kata “Rabi'” memiliki makna “musim semi”, sedangkan “Al Awwal” berarti pertama. Maka jika diartikan menurut bahasa, Rabiul Awal dapat diterjemahkan sebagai musim semi pertama.

Keutamaan Bulan Rabiul Awal

Dan kini, tidak terasa kita sudah berada di bulan Rabiul Awal, salah satu bulan yang agung bagi umat Islam di seluruh dunia. Dan berikut beberapa keutamaan bulan ketiga tahun Hijriyah ini.

1. Disunnahkan memperbanyak Sholawat

Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang sering di manfaatkan untuk bershalawat dan memberi salam kepada Rasulullah Saw.

Terutama shalawat Nariyyah yang bermanfaat untuk membuat hidup menjadi lebih baik, dan insya allah akan mendapatkan sya’faat dari Rasulullah Saw.

2. Banyak Berkah

Bulan Rabiul Awal sering dimanfaatkan untuk berkumpul sesama muslim di masjid ataupun majelis-majelis, bertujuan untuk menanamkan rasa cinta atau mahhabah kepada Rasulullah SAW .

3. Kecintaan kepada Rasulullah SAW

Keutamaan bulan Rabiul Awal menjadi bulan untuk mengungkapkan,akan kecintaan kepada Rasulullah. Bahkan orang kafir sekalipun akan mendapatkan manfaat dengan kegembiraan tersebut.

4. Mendapatkan rahmat Allah

Rahmat Allah berupa taman Surga, serta dibangkitkan di hari kiamat dengan golongan orang-orang yang mati sahid, sholeh, dan orang jujur.

Imam Syafi’i Rohimahullah mengatakan, “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na’im.”.

5. Melakukan amal kebaikan

Bulan Rabiul Awal menjadi bulan untuk melakukan amal kebaikan, seperti yang dilakukan Abu Lahab memerdekakan Suwaibah. Amal kebaikan yang mudah dilakukan seperti membaca Al Quran, bersholawat kepada Nabi, dan memperbanyak sedekah.

Amalan-Amalan yang Baik Dilakukan Pada Bulan Rabiul Awal

Memang tidak ada anjuran khusus pada hari itu. Tapi, umat Islam menghormati bulan Rabiul Awal dengan melakukan berbagai jenis amalan kebaikan.

Amalan-Amalan yang Baik Dilakukan Pada Bulan Rabiul Awal

Adapun amalan-amalan yang jamak di lakukan adalah sebagai berikut.

1. Membaca shalawat Nabi

Sebagaimana ketika kita membaca tasyahud akhir ketika shalat. Inilah shalawat yang paling diagungkan oleh para Sahabat dan generasi berikutnya.

Di antara bentuk bacaan shalawat nabi yang paling utama yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah:

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kamaa shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu riwayat, wa barik, tanpa Allahumma) ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid).

“Ya, Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) shalawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya, Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.” (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya).

2. Memperbanyak Sedekah

Memperbanyak sedekah tidak akan menjadi miskin. Bahkan, semakin banyak bersedekah semakin berkah harta yang kita punyai.

Keberkahan adalah berkumpulnya semua kebaikan. Orang yang diberkahi adalah orang yang selalu melakukan dan mendapatkan kebaikan.

3. Melaksanakan Puasa Sunnah

Melakukan puasa sunnah seperti Senin dan kamis, serta puasa tengah bulan Yaumul Bids pada tanggal 13-14-15 Hijriyah.

4. Memperbanyak Amalan kebaikan.

Ini adalah segala bentuk amalan yang baik-baik. Jangan sampai melakukan amalan yang bersifat maksiat. Orang-orang tua kita dulu mengatakan, di bulan lahirnya Nabi lahir, pantang untuk melakukan segala bentuk kemaksiatan.

Jika dalam bulan Rabiul Awal ini kita mampu melaksanakan semua amalan yang baik, menjauhkan kemaksiatan, maka di bulan-bulan berikutnya akan menjadi terbiasa.

Jadwal Puasa Sunnah Robiul Awal

Puasa sunnah yang dapat dilakukan pada bulan Maulid ini adalah puasa sunnah senin dan kamis serta puasa Ayyamul Bidh (Puasa tiga hari di tengah bulan). Berikut jadwal lengkap puasa sunnah di bulan Rabiul Awal 1441H/2019.

  1. Puasa Kamis, 31 Oktober
  2. Puasa Senin, 4 November
  3. Puasa Kamis, 7 November
  4. Puasa Senin, 11 November
  5. Ayyamul bidh 13 Rabiul Awal, 10 November
  6. Ayyamul bidh 14 Rabiul Awal, 11 November
  7. Ayyamul bidh 15 Rabiul Awal, 12 November
  8. Puasa Kamis, 18 November
  9. Puasa Senin, 21 November
  10. Puasa Kamis, 25 November

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Awal

Selain kelahiran Nabi Muhammad SAW, terdapat sejumlah peristiwa penting dan bersejarah dalam bulan Rabiul Awal yang patut diketahui umat Islam. Berikut beberapa diantaranya.

  1. Tanggal 2 Rabiul Awwal 53 sebelum hijrah/ 21 April 571 M: Lahirnya Baginda Nabi Muhammad Saw.
  2. Tanggal 6 Rabiul Awwal 1369 H/ 27 Desember 1949 M/ Belanda mengakui kedaulatan Indonesia yang sejatinya telah merdeka sejak 17 Agustus 1945
  3. Tanggal 7 Rabiul Awwal 543 H/1 Agustus 1148: Tentara Salib gagal menaklukkan Damaskus untuk kedua kalinya
  4. Tanggal 8 Rabiul Awwal 1089 H/ 30 Maret 1678 M: Sultan Turki Utsmani Muhammad IV menyerang Rusia
  5. Tanggal 10 Rabiul Awwal 979 H/ 1 Agustus 1571 M: Turki Utsmani menaklukkan Siprus
  6. Tanggal 13 R. Awwal 1190 H/ 2 Mei 1776 M: Turki Utsmani mengumumkan perang dengan Iran
  7. Tanggal 14 R. Awwal 1347 H/ 1 November 1928: Mustafa Kemal Ataturk menghapuskan huruf Arab dari Turki
  8. Tanggal 17 R. Awwal 950 H/ 20 Juni 1543 M: Turki Utsmani menaklukkan Sisilia
  9. Tanggal 17 R. Awwal 1370 H/15 Maret 1951 M: Nasionalisasi kilang minyak di Iran
  10. Tanggal 28 R. Awwal 1243 H/ 20 Oktober 1827 M: Armada Eropa meruntuhkan armada Turki Utsmani di Navarinu, dekat pantai Yunani

Inilah penjelasan tentang bulan Rabiul Awal berserta keutamaan dan jadwal puasa sunnah Ayyamul Bidh atau puasa tiga hari pada pertengahan bulan. Semoga dapat menambah wawasan serta menjadikan motivasi untuk terus memperbanyak amal kebaikan. Salam.

5 Keajaiban Sedekah yang Tak Banyak Diketahui, Nomor 3 Pasti Diinginkan Semua Orang!

5 Keajaiban Sedekah yang Tak Banyak Diketahui, Nomor 3 Pasti Diinginkan Semua Orang!

Keutamaan sedekah tidak sekedar dianjurkan oleh Rosulullah SAW kepada seluruh umat Islam. Dalam Islam, sedekah atau shadaqoh juga sering kali disebut dan dianjurkan dalam tausyiah oleh para Ustadz, Ulama, dan Guru Agama di sekolah. Namun tahukah Anda, jika sedekah memiliki banyak sekali kejaiban. Beberapa keutaaman sedekah berikut mungkin belum pernah Anda ketahui.

Sebagai umat Islam, kamu patut mengetahui apa saja keutamaan dari bersedekah. Selain untuk menambah wawasan dan pengetahuan, dari beberapa keutamaan tersebut bisa menjadi motivasi untuk lebih giat lagi dalam bersedekah.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah berfirman :

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

Artinya

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

5 Keutamaan dan Keajaiban Sedekah

Sedekah tidak hanya bisa mendatangkan rizki berlimpah dan menjadikan hidup berkah saja. Banyak sekali keutamaan yang tidak kita ketahui selama ini. Berikut 5 keajaiban / keutamaan sedekah yang mungkin selama ini belum kamu pelajari sehingga tidak kamu ketahui. Simak selengkapnya dibawah ini.

1. Hidup Semakin Berkah

Sedekah bisa dilakukan dalam berbagai cara. Sedekah juga jadi salah satu cara untuk bersyukur kepada Allah SWT. Salah satu hadist tentang sedekah:

“Setiap persendian manusia wajib disedekahi, setiap hari yang padanya matahari terbit. Beliau bersabda,”Mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, membantu seseorang dalam masalah kendaraannya lalu menaikannya ke atas kendaraannya atau mengangkat bawang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Beliau bersabda, “(Mengucapkan) kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dia berjalan menuju masjid untuk sholat adalah sedekah dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Bisa Menolak Bala

Bila kamu sakit, bersedekahlah. Ini merupakan salah satu keajaiban sedekah anak yatim. Bila sudah bersedekah dan belum juga sembuh, maka perbanyaklah lagi sedekah. Allah sedang mendengarkan doa orang-orang yang pernah kamu beri sedekah.

Keajaiban sedekah dan istighfar tidak hanya dapat membuat kamu sembuh dari penyakit. Sedekah juga bisa mencegah penyakit. Bila ada orang bermaksud jahat atau penyakit menyerang, sedekah akan menangkal bala.

Dalam sebuah hadist, Nabi SAW berpesan:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Ada seseorang yang datang kepada Nabi SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab” “Bersedekahlah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai tenggorokan, maka kamu baru berkata: “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hal si fulan (ahli warisnya),” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Dimudahkan Mencari Rezeki Halal

Sedekah akan membuat kamu selalu ingat, bahwa kamu bekerja di bawah pengawasan Allah SWT. Inilah sebabnya, sedekah akan membuat kamu berusaha mengumpulkan rezeki dengan cara yang halal.

Rezeki halal yang dimakan seseorang akan membuat orang tersebut mudah mensyukuri anugerah yang diberikan Allah. Seperti dalam firman Allah SWT berikut:

“Maka makanlah yang halal lagi baik dan rezeki yang telah diberikan Allah kepada kalian. Dan syukurilah nikmat Allah jika kalian hanya kepada-Nya saja beribadah”. (An-Nahl:114).

4. Harta yang Disedekahkan akan Kekal di Sisi Allah

Harta yang kita sedekahkan di jalan Allah akan membantu kita kelak di akhirat. Allah nantinya akan menyimpan harta yang umatnya sedekahkan, dalam hadist yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang bersedekah senilai dengan satu butir kurma dari hasil usaha yang halal dan Allah tidak menerima kecuali yang halal, maka Allah menerimanya dengan tangan kananNya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala kembangbiakkan sedekah itu untuk orang yang bersedekah seperti salah satu diantara kalian mengembangbiakkan anak kudanya sehingga semakin banyak sampai seperti gunung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada pula keajaiban sedekah subuh yang pahalanya ratusan ribu kali lipat. Yakni, sedekah kepada orang tua, hingga sedekah kepada ulama atau fuqaha.

5. Berlipatganda Pahala

Perbanyaklah bersedekah sebagai amalan hari Jumat. Sedekah bisa berupa uang, makanan, atau lainnya. Jangan takut uang menjadi habis jika bersedekah. Karena keajaiban sedekah di hari Jum’at adalah Allah akan melipatgandakan pahala sedekah. Bahkan Allah akan menambah rezeki jika kita bersedekah. Nabi bersabda, ‘Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan”. (Imam al-Syafi’i, al-Umm, juz 1, hal. 239).

Apakah hukumnya bersedekah?

1. Sunnah, artinya bagi yang melakukannya maka Allah SWT akan memberikan pahala, sedangkan bagi yang meninggalkannya, maka Allah SWT tidak akan mengadzabnya dengan dosa.

2. Haram, yaitu apabila orang yang memberikan sedekah sudah tahu dengan pasti bahwa apa yang akan ia sedekahkan nantinya akan digunakan si penerima sedekah untuk perbuatan kemaksiatan.

3. Wajib, yaitu apabila sedekah tersebut diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan sementar kita dalam keadaan mempunyai apa yang ia butuhkan. Misalnya saja kita mempunyai makanan sementara ada orang yang kelaparan, maka hukumnya wajib bagi kita untuk bersedekah. Selain itu hukum sedekah juga menjadi wajib ketika seseorang bernadzar untuk bersedekah.

Penutup

Demikian keutamaan serta keajaiban sedekah yang semoga dapat menambah motivasi bagi kita semua untuk lebih giat dalam bersedekah dan berbuat amal kebaikan. Shadaqoh atau sedekah tidak hanya dalam bentuk materi, uang saja.

Sedekah bisa dikerjakan melalui berbagai macam, diantaranya berbuat kebaikan, membantu atau meringankan beban orang lain, berkata yang baik-baik, mengucapkan salam dan tersenyum dan masih banyak lagi lainnya. Semoga bermanfaat.

*Dilansir dari berbagai sumber.

Mintalah Ampun pada Allah, Baca Doa Pendek Setelah Sholat Lima Waktu Ini

Mintalah Ampun pada Allah, Baca Doa Pendek Setelah Sholat Lima Waktu Ini

Bacaan Doa Pendek Setelah Sholat Lima Waktu – Lafal doa berikut ini mengandung permohonan ampunan kepada Allah di akhirat atas segala dosa kita. Doa ini dapat dibaca setiap kali selesai shalat lima waktu.

Doa pendek ini dapat disertakan dengan doa lain yang sudah lazim dibaca setelah shalat lima waktu.

Mintalah Ampun pada Allah, Baca Doa Pendek Setelah Sholat Lima Waktu Ini

“Ini doa dibaca apabila lepas sembahyang supaya mendapat ampunan dari Allah ta’ala daripada segala dosanya di negeri akhirat,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 51).

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةِ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Allāhumma innī as’alukal ‘afwa wal ‘āfiyah fid dīni wad duniyā wal ākhirah. Walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya, “Ya Allah, sungguh, aku memohon kepada-Mu maaf dan kekuatan pada agama, dunia, dan akhirat. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 51-52).

Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita semua dan membebaskan kita dari siksa api neraka. Amīn. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Sedekah yang Sangat Disukai Rosulullah SAW

Sedekah yang Sangat Disukai Rosulullah SAW

SEDEKAH termasuk amalan yang bersifat sosial (al-muta’ddiyah). Artinya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengerjakannya, namun juga dirasakan oleh banyak orang lain.

Selama ini sedekah dipahami sebatas pemberian sejumlah uang kepada orang miskin atau mereka yang tidak mampu. Sehingga, seakan-akan sedekah hanya “dimonopoli” oleh orang kaya atau kalangan tertentu yang mumpuni secara finansial semata.

Padahal sedekah bisa dilakukan oleh siapapun termasuk orang yang tak berpunya sekalipun. Sebab sedekah tidak selalu berati pemberian materi. Sedekah juga bisa bermakna pemberian yang bersifat non-materi. Semisal, membantu orang lain, menyingkirkan duri di jalan, berbicara dengan bahasa yang santun dan sopan, dan lain-lain. Pemahaman ini merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah berikut.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم – كل سُلامى من الناس صدقة , كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين اثنين صدقة , وتعين الرجل في دابته فتحمله عليها أ, ترفع عليها متاعه صدقة , والكلمة الطيبة صدقة , وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة , وتميط الأذى عن الطريق صدقة ” رواه البخاري ومسلم

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; kamu mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah; kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah; setiap langkah kakimu menuju tempat sholat juga dihitung sedekah; dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedekah yang Sangat Disukai Rosulullah SAW

Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah yang dianjurkan, bukan sedekah wajib. Ibnu Bathal dalam Syarah Shahih al-Bukhari menambahkan bahwa manusia dianjurkan untuk senantiasa menggunakan anggota tubuhnya untuk kebaikan. Hal ini sebagai bentuk rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah Subhahanu wa Ta’ala.

Penulis kitab ‘Umdatul Qari Badruddin al-Ayni berpendapat bahwa segala amal kebaikan yang dilakukan atas dasar keikhlasan, ganjaran pahalanya sama dengan pahala sedekah. Sebab itu, seluruh bagian dari anggota tubuh kita yang digunakan untuk kebaikan, dinilai oleh Allah SWT sebagai sedekah berdasarkan hadis yang disebutkan di atas.

Bahkan dalam kitab Adab al-Mufrad, al-Bukhari meriwayatkan, apabila seorang tidak mampu untuk melakukan perbuatan yang disebutkan di atas, minimal ia menahan dirinya untuk tidak menganggu orang lain. Karena secara tidak langsung, ia sudah memberi (sedekah) kenyamanan dan menjaga kesalamatan orang banyak.

Selama kita mampu melakukan banyak hal, peluang untuk bersedekah masih terbuka luas. Sedekah tidak hanya berupa uang, tetapi juga memanfaatkan anggota tubuh kita untuk orang banyak.

Para ulama mengatakan, amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis di atas hanya sekedar contoh, bukan membatasi. Penafsiran hadis ini masih bisa diperluas cakupannya.

Singkatnya, segala bentuk amalan yang dilakukan anggota tubuh kita, akan dinilai sebagai sedekah oleh Allah SWT bila dilakukan dengan penuh keikhlasan termasuk sembahyang Dhuha. Wallahu a’lam.[]

Sumber: islami.co