Ketika Abu Nawas Diminta Mengambil Mahkota di Syurga

Ketika Abu Nawas Diminta Mengambil Mahkota di Syurga

SUATU hari Khalifah Harun al Rasyid melakukan penyamaran untuk blusukan untuk mengetahui perkembangan yang ada di rakyatnya. Di sebuah kampung khalifah mendapati sebuah pengajian. Ia kemudian mendekat. Nampak seorang ulama sedang mengisi tausyiah perihal alam barzah.

Para jamaah yang datang tampak antusias. Namun tiba-tiba salah seorang bertanya kepada ulama tersebut . ” Maaf syeikh saya pernah menyaksikan orang kafir yang meninggal. Kami kemudian mengintip kuburannya. Namun tidak pernah mendengar teriakan atau menyaksikan siksa kubur. Pertanyaan saya adalah bagaimana cara membenarkan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata?”

Mendengar hal itu ulama tersebut diam sejenak. Ia nampak berfikir, bagaimana menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. Sejenak kemudian ulama itu menjawab,”Saya kira jawabannya mudah. Untuk mengetahui hal seperti itu harus dengan panca indra yang lain. Seperti Anda dengan orang yang sedang tidur? Orang tidur kadangkala bermimpi dikurung ular. la merasa sakit dan takut bahkan ada yang menjerit serta keringat yang bercucuran. la merasakan bagaimana ketakutan dikurung ular namun Anda yang di seolah-olah tidak menyaksikan apa-apa. Jika masalah mimpi saja tidak mampu mata melihatnya, Bagaimana mungkin bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?”

Ketika Abu Nawas Diminta Mengambil Mahkota di Syurga

Jawaban tersebut membuat Khalifah terkesan. Apalagi ketika ulama itu menerangkan tentang surga.

Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda berfikir betapa senang dan nikmatnya surga itu. Salah satu yang mengusiknya adalah barang- barang, salah satunya adalah mahkota yang lebih bagus dari dunia dan isinya. Keterangan ini mengusik Khalifah. Ia kemudian pulang dan bagaimana caranya mengambil mahkota tersebut. Kemudian ia memanggil Abu Nawas. Setelah bertemu, Khalifah mengutarakan maksudnya.

“ Aku ingin engkau berangkat ke surga dan bawakan sebuah mahkota. Apakah sanggup wahai Abu Nawas?”

“Sanggup Paduka.” kata Abu Nawas tanpa pikir panjang.

Namun Abu Nawas melanjutkan perkataannya ” Namun ada satu saratnya yang harus disanggupi.”

“Cepat sebutkan persyaratan itu,” kata Khalifah seperti penasaran.

“Sediakan hamba pintu agar cepat memasukinya,” jawab Abu Nawas.

“Pintu apa?” tanya Baginda penuh selidik.

Mendengar pertanyaan itu , Abu Nawas langsung menjawab“Pintu alam akhirat.”

“Apa lagi itu?” lanjut Khalifah.

“Kiamat, wahai paduka. Menurut saya masing-masing alam mempunyai puintu. Alam dunia pintunya adalah liang peranakan seorang ibu. Alam kubur pintrunya adalah kematian, dan alam akhirat pintunya adalah kiamat. Adapun surga adalah berada di alam akhirat. Namun bila Baginda masih terus menyuruh saya mengambilkan mahkota di surga, maka harus kiamat dahulu,” jawab Abu Nawas.

Seketika Khalifah menjadi terdiam seribu bahasa.[]

Sumber: islami.co

Kisah Hikmah Abdullah bin Umar yang Hendak Mengukum Pembantunya yang Berbuat Salah

Kisah Hikmah Abdullah bin Umar yang Hendak Mengukum Pembantunya yang Berbuat Salah

DALAM kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Abul Fida’ Isma’il ibnu Katsir mencatat sebuah kisah menarik tentang Sayyidina Abdullah bin Umar dan budaknya, berikut riwayatnya:

أَنَّ خَادِمًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَذْنَبَ فَأَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبِهِ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي أَمَا لَكَ ذَنْبٌ تخاف من الله فيه؟ قال: بلى، قال: بالذي أَمْهَلَكَ لَمَّا أَمْهَلْتَنِي، ثُمَّ أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثَانِيًا فَأَرَادَ عُقُوبَتَهُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَعَفَا عَنْهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ الثَّالِثَةَ فَعَاقَبَهُ وَهُوَ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: مَا لَكَ لم تقل مثل مَا قُلْتَ فِي الْأَوَّلَتَيْنِ؟ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي حَيَاءً مِنْ حِلْمِكَ مَعَ تَكْرَارِ جُرْمِي, فَبَكَى ابْنُ عُمَرَ وَقَالَ: أَنَا أَحَقُّ بِالْحَيَاءِ مِنْ رَبِّي، أَنْتَ حرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya pembantu (budak) Abdullah bin Umar telah berbuat salah. Abdullah bin Umar berencana menghukumnya atas kesalahannya, kemudian budak itu berkata: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?”

Abdullah bin Umar menjawab: “Tentu pernah.” Budak itu berkata: “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Lalu budaknya kembali berbuat salah untuk kedua kalinya. Abdullah bin Umar kembali berencana menghukumnya, maka budaknya mengatakan hal yang sama kepadanya, dan Abdullah bin Umar memaafkannya (kembali). Kemudian budak tersebut mengulangi kesalahannya untuk ketiga kalinya, (kali ini) ia diam saja.

Abdullah bin Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kau tidak berkata seperti yang kau katakan di dua kesalahanmu terdahulu?”

Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, (aku) malu pada kemurahan-hatimu menyikapi kesalahanku yang berulang-ulang.” Kemudian Abdullah bin Umar menangis dan berkata: “Aku lebih berhak untuk malu kepada Tuhanku, kau kubebaskan karena Allah ta’ala.” (Imam Ibnu Katsir, al- Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1988, juz 13, h. 205)

Hikmah Kisah Diatas

Tidak ada manusia yang selalu benar. Berbuat salah sudah menjadi kebiasaan manusia sejak dulu. Yang membuat manusia berharga adalah kemampuannya dalam menyesali kesalahannya, dan kehendak dalam memperbaikinya.

Kisah Hikmah Abdullah bin Umar yang Hendak Mengukum Pembantunya yang Berbuat Salah

Persoalannya adalah, terkadang kemampuan menyesali dan kehendak memperbaiki kalah dari kelalaian dan kerakusan. Semakin sering seseorang melakukan kesalahan, semakin mengecil kesadarannya.

Beruntunglah budak dalam kisah di atas memiliki tuan seperti Sayyidina Abdullah bin Umar, yang tindakannya selalu bercermin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, budak tersebut setiap hari melihat pertunjukkan akhlak dan kesalehan yang diamalkan Sayyidina Abdullah bin Umar.

Sekeras apapun hatinya, sesering apapun kesalahannya, setiap kali berjumpa tuannya, kesadarannya disegarkan kembali.

Sampai pada akhirnya, ia memutuskan diam, tidak melakukan pembelaaan diri dengan mengatasnamakan Tuhan. Sebelumnya ia selalu mengatasnamakan Tuhan untuk menghindari hukuman tuannya.

Ia tahu betul bahwa tuannya sangat takut dan hormat setiap kali nama Tuhan disebut. Ia pun dengan pintar memainkan itu, katanya: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?”

Sayyidina Abdullah bin Umar menjawab, “tentu pernah.” Budak itu berkata lagi, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Penundaan hukuman yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin Umar, bukan berarti ia tidak tahu akal bulus budaknya, ia tahu. Tapi, ketakutan dan pengagungannya kepada Allah jauh lebih besar dari itu.

Lagipula, apa yang dikatakan budaknya tidak sepenuhnya salah. Setiap maksiat yang dilakukan manusia, pengadilannya akan dilakukan di akhirat kelak, tidak langsung di dunia ini. Ini juga mengindikasikan bahwa kesalahan yang dilakukan budaknya tidak terlalu besar, mungkin.

Selain itu, bisa jadi Sayyidina Abdullah bin Umar sedang memberi ruang perenungan kepada budaknya. Sebab, tidak mungkin orang bodoh bisa memainkan logikanya sampai berkata, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Dari kalimat itu, kita bisa tahu bahwa ia adalah budak yang cerdas. Orang cerdas memiliki kemampuan mencerap pengetahuan lebih tinggi, sehingga ia mudah diajari dengan sikap, teladan dan tindak-tanduk. Bisa jadi ini yang sedang dilakukan putera Khalifah Umar bin Khattab ini.

Tentu saja, kesadaran yang terlahir pada diri budak tersebut tidak dihasilkan secara instan. Tidak sesederhana seperti yang digambarkan kisah di atas, melainkan dihasilkan dari perjumpaan panjang antara kelalaiannya dengan kemurahan hati tuannya.

Kemurahan hati yang tidak dicitrakan, tapi berasal dari kepribadiannya yang asli. Kemurahan hati yang tidak pernah membekaskan singgung, tapi meninggalkan jejak kesadaran. Setiap hari budak itu bergaul dengan Sayyidina Abdullah bin Umar, setiap hari pula ia menyaksikan kontinuitas akhlak dan kesalehan.

Karena itu, setiap kali berbuat salah, kemurahan hatinya seakan menampar kesadaran, tanpa harus dimarahi dan dinasihati. Akhlak mulianya memojokkan hatinya. Ia pun resah, hingga perlahan-lahan rasa malunya menguat. Bagaimana tidak, berulang kali ia bersalah, berulang kali pula ia beralasan, tak sekalipun Sayyidina Abdullah bin Umar menampakkan ketidak-sukaan, dan mendaratkan hardikan.

Oleh sebab itu, kata yang digunakan sang budak ketika merasa malu adalah, “hilmika—kemurahan hatimu/toleransimu.” Artinya, selama ia mengabdi kepada Sayyidina Abdullah bin Umar, ia tidak pernah diperlakukan buruk; ia tidak pernah dihardik; ia tidak pernah dicemooh.

Setiap kali ia bersalah, tanpa basa-basi, Sayyidina Abdullah bin Umar berkeinginan langsung menghukumnya. Tapi, karena budak tersebut mengetahui kemurahan hati Sayyidina Abdullah bin Umar, ia dengan santai mengajukan keberatan dan alasan. Andai Sayyidina Abdullah bin Umar orang yang keras, tentu budaknya tidak akan berani membela diri, apalagi keberatan dengan hukuman yang diberikan.

Ya, kita memang tidak tahu hukuman seperti apa yang hendak diberikan Sayyidina Abdullah bin Umar, dan kesalahan apa yang dilakukan budaknya. Kita hanya bisa mengira-ngira yang belum pasti kebenarannya. Tapi yang pasti, keberanian seorang budak mengajukan keberatan dan alasan adalah bukti, bahwa keluhuran pekerti dan kemurahan hati kerap kali dimanfaatkan, seperti seorang murid yang enggan menghafal karena tahu gurunya terlalu baik untuk menghukumnya.

Namun, kemurahan hati yang tidak dicitrakan dan tulus, pada akhirnya akan memberi dampak besar bagi orang di sekitarnya. Karena sebenarnya ia tahu sedang dipandang remeh dan dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia memberinya ruang untuk merenung dan bertafakur.

Setelah budaknya berhasil melintasi jembatan kelalaian, dan berujar malu karena kemurahan hatinya, Sayyidina Abdullah bin Umar justru menangis dan berkata, ia yang lebih berhak malu kepada Allah. “Berhak malu” di sini bisa dipahami sebagai penyesalannya karena terlambat mengenali perubahan budaknya, ia pun memerdekakannya saat itu juga. Wallahu a’lam bish shawwab…

Ditulis oleh: Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen. (nu.or.id)

Kisah Ahli Ibadah yang Merugi dan Diganjar Neraka

Kisah Ahli Ibadah yang Merugi dan Diganjar Neraka

DAHULU ada seorang yang begitu rajin beribadah. Ia giatkan dirinya untuk melakukan banyak peribadatan kepada Allah baik di siang maupun malam hari.

Sebagian besar waktu hidupnya benar-benar ia habiskan untuk berdekat-dekat dengan Tuhannya.

Hanya saja ada satu sikap yang tak baik dari ahli ibadah itu; ia suka membuat orang berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah subhânahû wa ta’âlâ. Terhadap orang-orang yang masih suka bermaksiat ia suka menakut-nakutinya dengan siksaan api neraka. Kepada mereka ia sampaikan bahwa Allah tak mau mengampuni dosa mereka, mereka jauh dari rahmat Allah, mereka adalah ahli maksiat yang tak termaafkan, dan lain sebagainya.

Singkat cerita ketika sang ahli ibadah ini meninggal dunia ia bertanya kepada Allah, “Tuhanku, apa bagianku dari sisi-Mu?”

Allah menjawab, “Bagianmu adalah neraka!”

Kisah Ahli Ibadah yang Merugi dan Diganjar Neraka

Mendengar jawaban Allah ini sang ahli ibadah protes, “Neraka? Di mana ibadah-ibadahku? Ke mana kesungguhanku dalam mengabdikan diri kepada-Mu? Mengapa semua itu dibalas dengan neraka?”

Atas protesnya ini Allah menjawab, “Wahai hamba-Ku, dulu waktu engkau hidup di dunia engkau memang begitu bersemangat beribadah kepadaku. Namun di sisi lain engkau begitu suka memutus-asakan orang-orang dari mendapatkan rahmat-Ku. Maka sekarang Aku putusasakan kamu dari mendapatkan rahmat-Ku.”

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, “Seorang yang ahli maksiat yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah dari pada seorang ahli ibadah yang memutusasakan orang dari rahmat Allah.” Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin).

Kisah ini dikutip dari kitab “Al-Mawâ’idh Al-‘Ushfûriyyah” karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar.

Ketika Nabi Minta Didoakan Sahabat Umar yang Hendak Umrah ke Mekkah

Ketika Nabi Minta Didoakan Sahabat Umar yang Hendak Umrah ke Mekkah

Widiynews.com – Jamaah haji Indonesia yang sudah tiba di Arafah, Jumat (9/8), mendapatkan siraman rohani dari sejumlah ulama. Siraman rohani ini dilakukan setelah mereka melaksanakan shalat Maghrib dan Isya yang dilakukan secara jamak takdim qasar.

Salah satunya di tenda yang dijadikan masjid di Maktab 9. Adalah KH Musthofa Aqil Siroj, pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek, Gempol, Cirebon yang memberi ceramah di maktab yang didiami oleh sebagian jamaah dari embarkasi Lombok.

Dalam ceramahnya, Kiai Musthofa menerangkan soal keutamaan Makkah dan haji. Dia menceritakan sebuah riwayat di mana ada seorang sahabat nabi yang pamit ke Rasulullah untuk bepergian ke Yaman.

Sahabat tersebut meminta doa kepada nabi dan nabi pun mendoakan keselamatan untuknya. Tetapi, ketika Umar bin Khattab di suatu waktu berpamitan untuk umrah ke Makkah kepada nabi, justru nabi yang meminta Umar untuk mendokannya.

“Nabi justru merangkul Syaidina Umar dan berkata wahai Umar jangan lupa doakan saya,” kata Kiai Musthofa.

Menurut Kiai Musthofa, dua kisah ini 180 derajat berbeda. Karena, ada orang ke Yaman yang lebih jauh dari Madinah tetapi nabi yang mendoakan sebaliknya ada orang ke Makkah justru nabi yang minta didoakan.

Selanjutnya, Kiai Musthofa menjelaskan soal keutamaan haji. Menurut dia, dalam Al quran hanya haji yang ayatnya diapit dua lillah.

“Ayat tentang haji diawali lillah dan diakhiri lillah. Di depan bunyinya karena Allah hajilah dan di belakang hajilah karena Allah,” kata Kiai Musthofa.

Menurut Kiai Musthofa, haji adalah amal yang tidak bisa dipikirkan sebab dan tujuannya apa. “Semuanya lillah karena Allah,” kata Kiai Musthafa.

Contoh, tentang amalan melempar jumrah. Di mana, orang datang ke Mina tapi disuruh melempar sumur.

“Ini kan yang dilempar sumur, lah ini semua lillah karena Allah,” kata Kiai Musthafa.

Kemudian, haji juga sebagai tapak tilas Nabi Ibrahim. Bahkan, dalam Alquran disebutkan ikutilah Nabi Ibrahim.

Ini menurut Kiai Musthofa karena Nabi Ibrahim bisa melakukan amalanya dengan lillah. Sehingga, perilakunya pun dijadikan syariar oleh Allah.

“Tak ada yang mampu ketika hamba disuruh Allah mau menyembelih anaknya,” kata Kiai Musthofa.[ihram]

Rosulullah Pun Menangis Ketika Shalat

Rosulullah Pun Menangis Ketika Shalat

Rosulullah Muhammad SAW pun menangis ketika shalat

Ubaid bin Umar dan ‘Atha’ pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha (RA).

”Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah SAW.”

Kemudian, sambil terisak, Aisyah menjawab, “Kana kullu amrihi ‘ajaba.” (Sungguh semua ihwal Rasululullah SAW sangat menakjubkan.)

Baca: Jangan Tunda Shalatmu…..

Aisyah melanjutkan, “Pada suatu malam, beliau datang kepadaku sehingga kulit kami saling bersentuhan. Beliau lalu berbisik, ‘Ya Khumaira (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah, artinya, ‘wahai yang berpipi kemerah-merahan’), izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.’

Maka, beliau meninggalkanku dan mengambil bejana air untuk berwudhu. Tidak lama setelah beliau takbir, aku mendengar suara beliau terisak-isak. Terasa dadanya bagaikan terguncang.

Rasulullah terus-menerus menangis, sehingga air matanya membasahi janggut dan bertetesan ke tanah. Rasulullah larut dalam tangisan sampai berkumandangnya adzan Subuh.

Bilal kemudian memberi tahu, waktu shalat Subuh telah masuk. Bilal menyaksikan keadaan Nabi SAW yang masih terisak.

Kemudian, dia (Bilal) berkata, ‘Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Padahal, dosa-dosamu telah diampuni Allah. Engkau adalah kekasih Allah yang paling utama?’

Baca: Jumlah Rakat dan Tata Cara Shalat Witir Rosulullah SAW

Rasul SAW menjawab, ‘Sungguh besar kasih sayang-Nya, tetapi betapa aku belum menjadi hamba yang bersyukur.'”

Abdullah bin as-Syikhir berkata, “Saya datang kepada Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang shalat. Maka terdengarlah isak tangis beliau yang bergemuruh di dalam dadanya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana” (Diriwayatkan oleh Dawud dan Turmudzi).

Dari hadis-hadis di atas, semoga kita mengambil hikmah. Betapa Nabi Muhammad SAW masih menangis dan merasakan belum menjadi hamba yang bersyukur.

Padahal, jelas beliau adalah hamba yang ma’shum, yakni terjaga dan bersih dari dosa.

Selain itu, Allah SWT juga memuliakannya melebihi siapapun makhluk ciptaan-Nya. Rasulullah adalah al-Musthafa (manusia pilihan) yang pertama kali memasuki surga sebelum yang lain memasukinya.

Lantas, bagaimana dengan kita?

Apakah kita telah dijamin masuk surga? Apakah keislaman kita diterima oleh Allah SWT?

Adakah kita masih tetap tertawa dan tidak menangis menghadapi akhirat yang setia menunggu untuk kita datangi?

Bilakah kita tetap tertawa menikmati dunia yang tidak pernah setia menemani ketika kita pergi, menghembuskan nafas terakhir? Apakah kita masih tetap tertawa dan lalai pada perjalanan akhir, sedangkan dunia itu bakal lenyap dan tenggelam ditelan waktu?

Kenikmatan di dunia ini hanya sesaat dan pasti akan sirna.

Mengapa air mata kita enggan menetes? Apakah hati kita telah beku? Ke manakah nurani kita? Apakah kita sudah bersyukur dengan yang telah kita raih atau sebaliknya kita makin kufur?

Baca: Inilah 10 Orang yang Shalatnya Tidak Diterima Allah SWT

Tangisan bagi seorang Muslim adalah ekspresi rasa harap dan cemas. Tangis demikian sebagaimana diungkapkan ketika seorang Muslim yang beriman teguh berdoa dan berzikir, memohon perlindungan dan ampunan Allah SWT. Kita saksikan, misalnya, tetesan air mata orang-orang saleh pada waktu shalat.

Inilah relevansinya saat menjelang puncak haji. Kita saksikan, air mata yang membasahi muka jamaah haji di Padang Arafah. Memang, menangis adalah bagian dari akhlak yang baik. Dalam Alquran, Allah berfirman, yang artinya, “Dan mereka tundukkan dagu dan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS [17]: 109, [19]: 58).[ra]

Ini 3 Kriteria Mati Syahid yang Harus Kamu Ketahui

Puluhan orang menggotong keranda jenazah Ustaz Arifin Ilham menuju persemayaman terakhirnya di Pondok Pesantren Az-Zikra Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat pada Kamis malam, 23 Mei 2019.

MATI SYAHID banyak didambakan oleh umat Islam. Kembali ke peristiwa penembakan yang terjadi di Selandia Baru, menjadi duka bagi seluruh Muslim di dunia. Meninggalnya Muslim dalam keadaan setelah Salat Jumat merupakan kematian syahid.

“Korban yang meninggal akibat perbuatan teroris memperoleh pahala mati syahid akhirat dan surga sebagai balasannya,” ujar Ustaz Muhammad Ilham, penyuluh di Kementerian Agama Kantor Solo, di Kecamatan Laweyan, Solo.

Menurutnya, mati syahid merupakan seseorang yang meninggal dalam keadaan membela agama Islam. Namun, apabila meninggal dalam keadaan tidak membela agama bukan merupakan mati syahid yang sesungguhnya.

“Seperti zaman Rasulullah dalam berbagai perang seperti Perang Badar dan Uhud para sahabat dan umat Islam yang gugur merupakan mati syahid. Syahid itu dari kata syahadat atau menyaksikan, secara estimologi syahid itu orang yang dapat menyaksikan. Menyaksikan dalam hal ini pahalanya, ketika meninggal dapat melihat surga, malaikat yang menjemputnya, atau bahkan melihat perjuangannya. Ini kematian idaman bagi seluruh umat Islam,” ujar Ustaz Ilham.

Menurutnya, zaman dahulu ada seorang sahabat Nabi bernama Kalid bin Walid yang berperang melawan musuh Islam namun sangat menyesal karena ia tidak gugur di medan pertempuran. Sedangkan luka-luka yang dideritanya sangat parah. Di zaman Nabi, seluruh Muslim mengorbankan jiwa dan hartanya demi agama yang bertujuan untuk mati syahid.

Ia menambahkan terdapat tiga kriteria mati syahid. Pertama, mati syahid dunia akhirat yang dialami oleh para sahabat Nabi dalam berjuang di jalan Allah lantas gugur. Saat ini konteks yang relevan dengan mati syahid dunia akhirat dialami oleh para pejuang di Palestina dalam mempertahankan agama Islam.

Terdapat kisah Hamzah bin Abdul Muthalib yang gugur dalam Perang Uhud karena ditombak. Hal itu merupakan kisah seseorang yang mati syahid dunia akhirat pahalanya. Darah seseorang yang mati syahid wanginya ibarat minyak kasturi. Bahkan, dalam peperangan seseorang yang mati syahid jenazahnya tidak dimandikan namun langsung dikuburkan. Mati syahid dunia akhirat merupakan idaman bagi seluruh umat namun tidak mudah untuk memerolehnya.

Kedua, mati syahid dunia.

Dikisahkan saat Perang Uhud seseorang yang berjuang di jalan Allah namun tidak meniatkan diri untuk mati syahid. Peperangan diniatkannya untuk memperoleh harta rampasan perang atau gonimah. Hal itu terjadi ketika pemanah muslim yang berada di atas gunung melihat orang kafir gugur lantas berkeinginan untuk memperoleh harta orang kafir itu.

“Padahal sesungguhnya itu merupakan siasat orang kafir untuk membunuh para pemanah Muslim. Karena masuk perangkap, pemanah Muslim gugur, itu merupakan mati syahid dunia,” lanjutnya.

Ketiga, mati syahid akhirat

seseorang yang memperoleh pahala mati syahid seperti orang yang meninggal karena wabah penyakit, musibah yang berat, atau seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya.

Menurutnya, para korban tewas di Selandia Baru merupakan mati syahid akhirat karena sedang melaksanakan ibadah lantas terbunuh. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri, dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka terbunuh atau membunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran.” (Q.S At Taubah : 111)

Hal itu merupakan ayat yang memberikan motivasi atau semangat juang para Muslim untuk berjuang di jalan Allah meski harus gugur dalam medan perang. Turunnya ayat itu ketika seorang sahabat hendak makan lalu terdengar suara panggilan jihad fi sabilillah. Ia yang sedang hendak makan menyadari bahwa makanan itulah yang akan menghalanginya masuk ke dalam surga. Ia menaruh makanannya lalu turun ke medan perang dan ia gugur.

Menurutnya, Islam mengajarkan kedamaian dan Nabi Muhammad tidak pernah mencontohkan. Munculnya peperangan zaman dahulu karena Islam diperangi dan umat Islam selalu mempertahankan diri.

“Namun yang perlu diingat yakni hukum qisas atau orang yang melakukan pembunuhan dengan sengaja tanpa alasan yang jelas maka pelaku harus memeroleh hukuman yang sama seperti yang pelaku lakukan,” katanya.

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa seseorang mengaku sebagai mati syahid namun Allah mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah dusta karena niat perangnya hanya untuk memeroleh harta. Sedangkan konteks mati syahid yakni harta, jiwa, dan agama.[]

Sumber: OKEZONE

Tiga Cara Meraih Kemuliaan Dihadapan Allah

Tiga Cara Meraih Kemuliaan Dihadapan Allah

Didalam sebuah Hadits Rosulullah SAW mengingatkan tiga hal yang jika dilakukan dapat menjadi kunci meraih derajat mulia dihadapan Allah SWT.

Dan tiga kunci tersebut diantara adalah banyak bersedekah, selalu memaafkan, dan rendah hati pada sesama. Rasulullah SAW mengingatkan:

“Tiada berkurang harta karena sedekah. Allah pasti akan menambah kemuliaan orang yang suka memaafkan, dan seseorang yang selalu merendahkan diri karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya,” (HR Muslim)

Memang hal itu tidak mudah, tapi berusahalah untuk diterapkan dalam keseharian. Membantu orang lain baik dalam kondisi kita sedang lapang atau sempit, membuat hidup ini diselimuti kebaha giaan. Rasulullah SAW menyatakan:

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah dia yang memberi manfaat kepada sesamanya. Amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberi kebahagiaan kepada sesama Muslim dan menghiburnya saat dia dilanda ke susahan, atau meringan kannya saat dia dililit utang, atau memberinya makanan saat dia merasakan lapar. Karena, aku lebih menyukai berjalan bersama seorang Muslim yang berbagi dengan orang yang sedang membutuhkan, daripada melakukan iktikaf di masjid selama satu bulan penuh,” (HR at-Thabrani).

Sementara itu, memaafkan membuat jiwa menjadi tenang. Senyum merekah, lepas bebas tanpa beban berat yang berbatas. Tak akan ada dendam yang membakar jiwa. Ingatlah, kebencian membuat hidup dikuasai dosa. Dengki membakar kebaikan, kesumat menjadikan hati menjadi keji.

Mengapa kita harus selalu rendah hati? Ingatlah kita tidak dapat hidup sendiri. Selalu ada peran orang lain agar roda kehidupan terus berjalan. Disadari atau tidak, semua yang dinikmati dan diraih saat ini pasti dalam prosesnya ada campur tangan orang lain. Saling membutuhkan dan berbagi peranlah dalam kehidupan. Menjaga hubungan baik dengan sesama menjadi kewajiban. Berfokuslah pada upaya menempa diri agar lebih baik.

Tak perlu fokus menilai orang lain, hingga lupa dengan diri kita sendiri, perbanyaklah introspeksi. Di atas itu semua, capaian sukses yang diraih saat ini, sejatinya adalah karunia Tuhan.

“Dan, janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri,” (QS Luqman:18).

Kesuksesan seorang atasan, tak lepas dari kontribusi bawahannya. Demikian pula sebaliknya, bawahan tumbuh berkembang atas dukungan atasan. Maka, sudah sepatutnya untuk saling menguatkan, membantu, dan membesarkan.

“Dan, tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,” (QS al-Maidah:2).

Hidup ini usianya sebentar maka jangan diisi oleh sikap arogan. Rendah hati tak membuat kita kurang dihormati.

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombong kan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan, kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS al-Qashash: 83).

Apa pun posisi kita saat ini, tetaplah saling memberi nasihat kebaikan dan kesabaran dalam berjuang, berjihad dan berkarya yang terbaik pada setiap tarikan napas kehidupan. Seandainya tidak boleh memberi nasihat kebaikan dan kesabaran, kecuali seseorang yang terjaga dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasihati orang lain, kecuali Rasulullah SAW karena tidak ada yang terjaga selain beliau. Padahal, Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Barang siapa yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang me ngerjakan kebaikan itu,” (HR Muslim).

Demikianlah tiga kunci kemuliaan yang semuanya berfokus pada kemanusiaan. Harmonisasi tiada henti dengan bersedekah dan saling memaafkan. Tetaplah rendah hati pada sesama tanpa kecuali, untuk terus belajar mengejar kehidupan yang diliputi kebahagiaan. Wallaahu’alam.[rol]

Ini Empat Bulan Haram yang Disebutkan Rasulullah

Ini Empat Bulan Haram yang Disebutkan Rasulullah

Empat bulan haram yang disebutkan oleh Rasulullah Muhammad SAW tertuang didalam hadist.

Yang artinya, “Setahun itu ada 12 bulan dan di antaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang ia itu berada antara Jumada dan Sya’ban.” (Muttafaq ‘alaih).

Sejak bumi diciptakan, Allah telah menetapkan satuan waktu. Dalam satu tahun, ada 12 bulan. Empat bulan di antaranya yang dikenal dengan bulan haram. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya, empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.” (QS at-Taubah: 36).

Dinamakan bulan haram karena besarnya kemuliaan bulan-bulan tersebut dan beratnya bobot nilai kebaikan dan keburukan yang terlaksana di dalamnya. Abdullah bin’Abbas berkata, “Allah mengkhususkan empat bulan sebagai bulan haram dan Allah mengagungkan kemuliaannya. Dan Allah menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan di dalamnya lebih besar. (Sebagaimana) Allah pun menjadikan amalan saleh dan ganjaran yang didapatkan di dalamnya lebih besar pula.” (lihat Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rojab al-Hambali, hlm 207).

Secara historis, bulan haram ini cukup dikenal sebelum datangnya Islam. Bahkan, keberadaannya membawa dampak yang sangat positif. Kabilah Arab yang biasa berperang sebelum datangnya Islam akan menahan diri dari berperang ketika memasuki bulan haram. Meski pada akhirnya mereka mengakali dengan memindahkan bulan haram ke bulan lain jika mereka terlibat peperangan di bulan haram.

Saat ini, kita berada dalam bulan haram. Sebagai orang beriman, tentu lebih berhak untuk meraih pengaruh positif dengan keberadaan bulan haram. Hal itu bisa dicapai dengan selalu menyadari bahwa kita berada di bulan haram dan terikat dengan keadaan dan aturan yang lebih khusus. Kesadaran seperti ini bisa menjadi bekal terjadinya perubahan dalam diri. Sebagaimana perubahan saat kita memasuki bulan suci Ramadhan.

Secara khusus, Allah sangat menekankan di bulan haram untuk menjauhi segala tindak kezaliman. Allah berfirman yang artinya:

“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (at-Taubah: 36).

Menganiaya diri atau zalim mencakup semua jenis kemaksiatan. Imam al-Qurthubi berkata, “Jangan menzalimi diri kalian dengan melakukan maksiat.” (Tafsir al-Qurthubi, 8/134 maktabah syamilah).

Tidak berarti kezaliman di bulan lain dibolehkan. Kezaliman diharamkan dalam seluruh rangkaian waktu manusia. Tapi, jika hal itu terjadi di bulan-bulan haram maka bobot kezaliman tersebut akan lebih berat dibandingkan bulan yang lainnya.

Jadi, jika dicermati, datangnya bulan haram adalah karunia sebagaimana bulan Ramadhan. Kehadiran bulan haram bisa menjadi pengendali dari tindak kezaliman sekaligus juga menjadi motivasi untuk meningkatkan produktivitas dalam kebaikan. Semoga, kita bisa memanfaatkannya, sehingga makin istiqamah dalam kebaikan. Amin ya robbal alamin.[rol]

Islam Mengajarkan Dakwah tanpa Memaki

Islam Tidak Mengajarkan Dakwah 'Memaki'
Quraish Shihab mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah memaki dalam menyampaikan ajaran Islam.

Islam Tidak Pernah Mengajarkan Menghina dan Memaki

Widiynews.com | Cendekiawan Muslim Prof Quraish Shihab dalam Milad ke-47 Dewan Masjid Indonesia (DMI) menegaskan kepada para da’i dan mubaligh yang hadir agar tidak menyampaikan ujaran kebencian dan menunjukkan sikap yang welas asih dalam berdakwah.

“Kita ingin dakwah itu ramah untuk mengajak simpati orang, mengurangi tata cara yang menimbulkan antipati orang, berikan Rahmat, berikan harapan, supaya orang lebih simpati pada anda, Islam dan Tuhan,” kata Quraish Shihab dalam Milad ke-47 DMI di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Rabu (17/7).

Quraish Shihab mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah memaki dalam menyampaikan ajaran Islam. Ia mengimbau walaupun tidak setuju dengan orang lain, umat Islam agar tidak memaki.

“Jangan memaki, ajaran Islam bukan untuk memaki, boleh kritik, tapi yang membangun,” kata Quraish yang merupakan satu-satunya anggota Majelis Al Hukama’ Al Muslimin dari Indonesia, sebuah Majelis Ulama Sunni Se-Dunia.

Quraish mengkhatirkan jika perilaku umat Islam sering mengeluarkan makian dan ujaran kebencian terhadap pihak lain yang berbeda kelompok maupun pemahaman, banyak orang akan menjauh dari Islam.

Ia mengibaratkan seperti kisah seorang pendosa yang hendak bertaubat, namun menjadi marah dan membunuh pemuka agama karena mengatakan pendosa tersebut tidak diampuni dosanya karena telah membunuh terlalu banyak orang.

Selain itu, menurut Quraish Shihab yang merupakan pakar tafsir Qur’an ini, ratusan ayat dalam Al Qur’an berbicara tentang ampunan sementara hanya sedikit yang berbicara tentang siksaan. Menurutnya hal itu merupakan penekanan Tuhan agar manusia lebih banyak memberi harapan ketimbang mengancam.[ga]

Nikahilah Wanita Karena Agamanya, Bukan Karena….

Nikahilah Wanita Karena Agamanya, Bukan Karena....

YAHYA BIN YAHYA an Naisaburi mengatakan bahwa beliau berada di dekat Sufyan bin Uyainah ketika ada seorang yang menemui Ibnu Uyainah lantas berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah -yaitu istrinya sendiri-. Aku adalah orang yang hina di hadapannya”.

Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata:

“Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?”. “Benar, wahai Abu Muhammad”, tegas orang tersebut.

Ibnu Uyainah berkata, “Siapa yang menikah karena menginginkan kehormatan maka dia akan hina. Siapa yang menikah karena cari harta maka dia akan menjadi miskin. Namun siapa yang menikah karena agamanya maka akan Allah kumpulkan untuknya harta dan kehormatan di samping agama”.

Baca: Menikah Bukan Cara Mencari Bahagia, Tapi Ibadah

Kemudian beliau mulai bercerita, “Kami adalah empat laki-laki bersaudara, Muhammad, Imron, Ibrahim dan aku sendiri. Muhammad adalah kakak yang paling sulung sedangkan Imron adalah bungsu. Sedangkan aku adalah tengah-tengah. Ketika Muhammad hendak menikah, dia berorientasi pada kehormatan.

Dia menikah dengan perempuan yang memiliki status sosial yang lebih tinggi dari pada dirinya. Pada akhirnya dia jadi orang yang hina. Sedangkan Imron ketika menikah berorientasi pada harta.

Karenanya dia menikah dengan perempuan yang hartanya lebih banyak dibandingkan dirinya. Ternyata, pada akhirnya dia menjadi orang miskin.

Keluarga istrinya merebut semua harta yang dia miliki tanpa menyisakan untuknya sedikitpun. Maka aku penasaran, ingin menyelidiki sebab terjadinya dua hal ini.

Tak disangka suatu hari Ma’mar bin Rasyid datang. Kau lantas bermusyawarah dengannya.

Kuceritakan kepadanya kasus yang dialami oleh kedua saudaraku. Ma’mar lantas menyampaikan hadits dari Yahya bin Ja’dah dan hadits Aisyah. Hadits dari Yahya bin ja’dah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi” (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan hadits dari Aisyah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perempuan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biaya pernikahannya” (HR Ahmad no 25162, menurut Syeikh Syu’aib al Arnauth, sanadnya lemah).

فاخترت لنفسي الدين وتخفيف الظهر اقتداء بسنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فجمع الله لي العز والمال مع الدين

Oleh karena itu kuputuskan untuk menikah karena faktor agama dan agar beban lebih ringan karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di luar dugaan Allah kumpulkan untukku kehormatan dan harta di samping agama. (Tahdzib al Kamal 11/194-195, Maktabah Syamilah).

Demikianlah nasehat dan petuah salah seorang ulama besar di zamannya, Sufyan bin Uyainah bin Maimun Abi Imran. Beliau lahir pada pertengahan Sya’ban tahun 107 H dan meninggal dunia pada hari sabtu tanggal 1 Rajab tahun 198 H.

Dalam nasehat beliau di atas bagaimanakah wujud nyata dari menerapkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Pilihlah yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. Namun banyak orang yang bangga dengan pendapatnya.

Kebahagiannya menurutnya adalah memiliki istri cantik, memiliki kelas sosial yang bergengsi atau mendapatkan istri yang kaya meski agama perempuan tersebut nol besar.

Tentang hadits di atas al Amir ash Shan’ani mengatakan, “Hadits ini menceritakan bahwa faktor yang mendorong laki-laki untuk menikah adalah salah satu dari empat hal ini. Faktor terakhir menurut para laki-laki adalah agama.

Baca juga: Sebelum Menikah, Pilihlah Pendamping Hidup yang Ideal dan Islami

Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam malah memerintahkan para laki-laki jika sudah mendapatkan perempuan yang agamanya baik supaya tidak memalingkan hati kepada yang lainnya. Bahkan terdapat larangan menikahi perempuan bukan karena motivasi agama. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, al Bazzar dan Baihaqi dari Abdullah bin Amr, Nabi bersabda,

لَا تَنْكِحُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُرْدِيهِنَّ ، وَلَا لِمَالِهِنَّ فَلَعَلَّهُ يُطْغِيهِنَّ ، وَانْكِحُوهُنَّ لِلدِّينِ ، وَلَأَمَةٌ سَوْدَاءُ خَرْقَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

“Janganlah kalian menikahi perempuan karena cantiknya. Boleh jadi kecantikan tersebut akan membinasakannya. Jangan pula karena hartanya karena harta boleh jadi akan menyebabkannya melampaui batas. Menikahlah karena agama. Sungguh budak hitam yang cacat namun baik agamannya itu yang lebih baik” (Namun hadits ini dinilai sebagai hadits yang sangat lemah oleh al Albani dalam kajian beliau untuk Ibnu Majah no 1859-pent)

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa dekat-dekat dengan orang yang baik agamanya itulah yang terbaik dalam semua kondisi.

Dengan dekat-dekat dengan mereka kita bisa mengambil manfaat dari akhlak, berkah dan tingkah-laku mereka.

Terlebih lagi adalah istri karena istri adalah kawan tidur, ibu untuk anak-anak dan orang yang diberi amanah untuk menjaga harta dan rumah suami serta kehormatannya.

Yang dimaksud dengan ‘taribat yadak’ adalah tangan dilekatkan ke tanah karena miskin”(Subulus Salam 4/431-432).

Semoga bermanfaat InsyaAllah…[]

Sumber: kembanganggrek2.blogspot.com

Al-Qur’an Hiburan Terbaik Bagi Muslimah

Al-Qur'an Hiburan Terbaik Bagi Muslimah
Disinilah manfaat kitab suci Al-Qur’an, dengan Al-Qur’an Allah ingin membersihkan jiwa kita.

Allah SWT telah menciptakan manusia sebagai penebar kasih bagi seluruh penjuru alam. Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin. Demikianlah Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun, sepanjang kehidupan manusia yang penuh lika-liku, seringkali mereka lalai dan hilang arah mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan dan apa yang seharusnya mereka kejar untuk menggapai kebahagiaan abadi. Surga, yang lebarnya seluas langit dan bumi.

Untuk kembali kepada Allah atau dalam istilah islam yaitu bertaubat, kita perlu mengenal terlebih dahulu siapa Tuhan kita, Apa yang Ia inginkan dari kita, dan kemana kita kelak kembali ketika jatah usia kita telah terhenti.

Namun, terkadang kita lupa. Dan lupa ini menjadikan kita terombang-ambing dalam kehidupan, mengejar suatu yang tak pasti yaitu dunia, berlomba-lomba nengumpulkan harta dan membanggakan anak-anak kita.

Yang kita sendiri pun kadang tahu, suatu saat nanti mereka akan pergi meninggalkan kita.

Ya, kalau mereka tidak meninggalkan kita, tentu kita justru yang akan meninggalkan mereka.

Siap tidak siap, itu sebuah kepastian yang tidak dapat kita pungkiri kebenaran dan ketetapannya. Hanya tinggal menunggu waktu, karena tiada satu pun yang benar-benar tahu kecuali Dia.

Lalu, cukupkah sekedar menunggu?

Sebagai seorang muslimah seharusnya tidak boleh bersikap demikian. Muslimah, yang terkadang menjelma sebagai seorang ibu, seorang istri, seorang remaja, atau bahkan sebagai tokoh masyarakat yang berpengaruh di lingkungannya perlu semacam petunjuk atau pedoman, sehingga apa yang mereka perjuangkan selama ini yaitu menebar kasih sayang tidak begitu saja menguap karena seakan tidak ada pena yang bersedia mencatat semua gerak-gerik muslimah.

Ya, kasih sayang, sebuah sifat yang sangat kental menggambarkan komunitas kaum ‘hawwa’ dimanapun mereka berada dan apapun peran yang mereka emban dalam kehidupan. Entah itu sebagai ibu, sebagai istri, sebagai remaja putri, maupun tokoh masyarakat yang disegani oleh seluruh pihak karena kompetensi yang Allah Azza Wa Jalla anugerahkan kepadanya.

Perjuangan terkadang melelahkan.

Dan terkadang kehidupan memang diwarnai dengan kegagalan dan kebosanan agar muslimah tahu bahwa memang seperti itulah menjalani hidup. Hidup tidak semanis di film-film korea atau drama-drama televisi yang kita amati sehari-hari.

Lalu bagaimana mencari hiburan yang tepat saat diri kita dirundung masalah dan seakan hidup membebani hati kita dan mengganggu ketentramannya?

Disinilah manfaat kitab suci Al-Qur’an, dengan Al-Qur’an Allah ingin membersihkan jiwa kita. Allah ingin mengangkat noda-noda dunia yang membebani kita dengan cahaya yang memancar dari setiap huruf yang kita baca.

Sebagai tips, cobalah sesekali saat anda memiliki masalah, diam-diam ambillah Al-Qur’an dan bayangkan seakan-akan itu surat cinta yang datang dari Dia yang sangat mencintai anda dan itu ditujukan khusus untuk anda.

Baca perlahan dan hayati setiap pesan yang tersirat maupun tersurat. Tidak perlu tergesa-gesa. Satu ayat yang menghibur dan merubah hidup anda jauh lebih berarti daripada solusi yang datangnya dari manusia yang belum tentu terjamin dan pasti. Okey, selamat berdua dengan-Nya.[]

Inilah 10 Jenis Dosa Besar Menurut Islam dan Al-Qur’an

Inilah 10 Jenis Dosa Besar Menurut Islam dan Al-Qur'an

Dosa adalah tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.  Sahabat dunia islam sebagai manusia biasa kita tidak luput dari dosa, sesungguhnya Allah SWT Maha Pengampun sehingga Allah memaafkan dosa yang telah di perbuat hambanya jika bertaubat.

Namun sebagai orang beriman kita juga harus menjauhi dosa dosa besar, karena dosa besar hanya bisa di tebus dengan hukuman yang sangat berat. Dan semoga kita jangan sampai melakukan dosa yang paling besar yang tidak bisa dimaafkan yaitu berbuat syirik.

10 Macam Dosa Besar Menurut Islam

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas 10 macam dosa besar menurut Islam yang harus kita hindari dan tinggalkan.

Syirik (Menyekutukan Allah SWT)

Syirik menurut bahasa berarti syarikat atau sekutu. Menurut istilah tauhid adalah perbuatan menyekutukan Allah swt dengan sesuatu selainnya yang seharusnya hanya di tujukan kepada Allah swt, orang yang melakukannya disebut dengan musyrik. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An Nisaa: 48).

Dan Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga”. (Al Maidah: 72).

Berputus Asa dari Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Berputus asa dari rahmat Allah SWT merupakan sifat orang-orang sesat dan pesimis terhadap karunia-Nya merupakan sifat orang-orang kafir. Karena mereka tidak mengetahui keluasan rahmat Rabbul ‘Aalamiin. Siapa saja yang jatuh dalam perbuatan terlarang ini berarti ia telah memiliki sifat yang sama dengan mereka. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(Yusuf: 87).

Merasa Aman dari Ancaman Allah SWT

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf: 99)

Durhaka Kepada Kedua Orang Tua

Orang yang paling banyak jasanya dan paling dekat dengan kita adalah kedua orang tua kita. Seseorang yang durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar. Perbuatannya antara lain membentak, menghardik, berkata tidak sopan dan lain-lain masih banyak lagi contohnya.

Baca juga: Wanita Ini Menyesal Seumur Hidup Karena Melakukan Ini Pada Ibu Kandungnya

Karena Allah SWT mensifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang ‘jabbaar syaqiy’ yaitu ‘orang yang sombong lagi celaka’.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. (Maryam: 32).

Membunuh

Hak-hak yang paling utama bagi setiap manusia yang dijamin pula oleh Islam adalah hak hidup, hak pemilikan, hak pemeliharaan kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya”. (An Nisaa: 93).

Menuduh Wanita Baik-Baik Berbuat Zina

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (An Nuur: 23)

Memakan Riba

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila”. (Al Baqarah: 275).

Baca juga: Malam Pertama di Alam Kubur, Sebab-Sebab Siksa Kubur

Lari dari Medan Pertempuran

Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (Al Anfaal: 16)

Memakan Harta Anak Yatim

Memakan harta anak yatim hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Banyak ayat AL-QUR’AN menjelaskan kepada kaum muslimin untuk membantu mengasuh dan mendidik anak yatim, apabila anak yatim dianiyaya dengan cara memakan hartanya, maka itu termasuk dosa besar. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (An Nisaa: 10)

Baca juga: Hukum dan Larangan Politik Uang Dalam Islam

Berbuat Zina

Asusila adalah perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan yangsaat ini cenderung banyak terjadi di kalangan masyarakat, terutama remaja. Islam dengan Al Qur’an dan sunah telah memasang bingkai bagi kehidupan manusia agar menjadi kehidupan yang indah an bersih dari kerusakan moral. ini dia Balasan Dosa Zina Di Dunia Dan Akherat.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu”. (Al Furqaan: 68-69)

Di dalam Al-Qur’an di sebutkan bahwa Allah akan mengampunkan semua dosa kecuali syirik artinya dengan taubat nashuha dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tsb insya Allah akan diampunkan dan apabila dosa yang berkaitan dengan manusia misalnya kedzoliman maka harus meminta maaf kepada orang di dzolimi.[]

Sumber: asyadadmubarok.blogspot.com

Dicela Itu Lebih Baik Daripada Dipuji…..

Dicela Itu Lebih Baik Daripada Dipuji.....

Dicela orang lain mungkin rasanya memang sangat menyakitkan, karena hati mungkin terasa malu sebab kekurangan yang kita miliki nampak jelas dimatanya.

Tetapi perlu kita sadari, bahwa celaan yang membuat kita introspeksi diri lebih baik dari pada pujian yang hanya sekedar membuat kita hina dihadapan Allah, karena tak sedikit dari kita yang setelah mendapat pujian dari orang lain membuat diri ini lupa akan daratan.

Banyak diantara kita yang ketika dipuji langsung bersifat ujub, sehingga bersifat riya’pun sudah menjadi identitasnya untuk terlihat lebih baik dihadapan orang lain.

Tak Perlu Berharap Pujian

Untuk apa mengharap pujian dari manusia, jika pujian itu hanya membuat kita lupa dan hina dihadapan Sang Pencipta.

Lalu untuk apa mengharap pujian dari manusia, jika hanya membuat kita hina dihadapan Allah. Karena sesungguhnya yang berhak dipuji itu hanyalah Allah yang maha sempurna, sebab kita sebagai hambanya memang tidak akan pernah selamanya menjadi makhluq yang sempurna.

Jangan Membenci Saat Orang Lain Mencelamu, Karena Celaan Itu Bagaikan Jamu Pahit Yang Menyehatkan Tubuh

Maka dari itu, jangan membenci saat orang lain mencela, karena celaan itu bagaikan jamu pahit yang menyehatkan pada tubuh kita. Tapi memang tak bisa dipungkiri, marah itu tentu akan kita rasakan saat orang lain mencela kekurangan yang kita miliki, tapi ada kalanya jika saat merasa tidak enak hati kita segera introspeksi diri agar celaan itu tidak terulang kembali suatu saat nanti.

Dicela, Segeralah Perbaiki Diri

Saat dirimu mendapat celaan dari orang lain, maka tanggaplah untuk segera melakukan perbaikan diri.

Sebab itulah saat orang lain sedang mencela, kita harus segera tanggap untuk melakukan perbaikan diri. Buktikan pada mereka bahwa kita tidak selemah yang mereka kira, boleh saja saat ini kita masih menjadi bahan ejekan mereka, tetapi siapa yang tahu kehidupan kita nanti dan seterusnya.

Karena Allah adalah Dzat yang maha kuasa, jika kita bersungguh-sungguh menjadikan diri lebih baik maka insyaallah celaan itu akan berubah menjadi berkah nanti pada kehidupan yang kita miliki.

Bersyukurlah Atas Celaan Itu

Bersyukulah saat ada yang mencela kekuranganmu, karena dari itu semualah kamu bisa memperbaiki dirimu sendiri.

Bersyukurlah saat orang lain tengah mencela kekurangan yang kita miliki, karena dengan demikian kita bisa melakukan perbaikan diri. Jadikan celaan itu motivasi kita agar selalu bersemangat untuk terus melakukan kebaikan, ntah dalam memperbaiki diri atau dalam mengharap rahmat dari sang pemberi kebaikan.

Dicela Itu Lebih Baik Daripada Dipuji

Lebih baik dicela tapi bisa membuatmu lebih bernilai sebagai manusia, daripada dipuji namun membuatmu lupa bahkan lebih hina.

Karena lebih baik dicela tapi bisa membuat kita lebih bernilai sebagai manusia, dari pada hanya dipuji tapi malah membuat kita lupa diri dan lebih hina, baik dihadapan manusia lainnya ataupun dihadapan Allah. Karena pujian itu melenakan, dan mengundang syetan untuk menggoda nafsu agar melakukan keburukan yang berupa takabbur, ujub, dan riya’.[]

Kisah Abu Darda, Seekor Unta dan Hari Kiamat

Kisah Abu Darda, Seekor Unta dan Hari Kiamat

HARI KIAMAT adalah hari yang besar. Hari dimana orang taat dan pelaku maksiat keduanya menyesal. Mereka yang taat menyesal, kenapa dulu tidak beramal lebih banyak dari apa yang telah dilakukannya.

Pelaku maksiat, sesal mereka adalah sesal yang tak terperi. “Sekiranya kami dulu mendengarkan dan merenungi, tentu kami tidak menjadi penghuni neraka ini,” kata mereka.

Ada sebuah kisah, yang mengingatkan kita akan besarnya pertanggung-jawaban di hari Kiamat. Kisah tersebut tentangsahabat Nabi SAW yang bernama Abu Darda ra. dengan seekor ontanya.

Abu Darda memiliki seekor onta yang ia beri nama Damun. Tidak pernah ia letakkan suatu barang yang tak mampu dibawa oleh onta itu. Apabila ada seorang yang meminjam si onta, Abu Darda berpesan, “Engkau hanya boleh membawa barang ini dan ini padanya, karena ia tak mampu membawa yang lebih banyak dari itu.”

Ketika serasa ajal hendak dating menjemputnya, Abu Darda memandang ontanya kemudian berkata, “Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku, jangan kau tuntut aku pada hari Kiamat kelak di hadapan Rabbku wahai Damun,” begitu kiranya kata Abu Darda. “Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi,” tutupnya.

Semoga Allah SWT meridhai Abu Darda, dan mengampuni kesalahannya.

Tentu kita teringat akan diri kita. Suami akan teringat pada istrinya, dan istri merenungkan adakah kata yang telah membebankan suami.

Adakah kita sebagai suami memberi beban yang tidak mampu diemban istri?

Adakah kita sebagai istri menuntut sesuatu yang terasa berat bagi suami?

Adakah kita mengusahakan sesuatu di dunia ini, yang nanti kita akan menyesali “Seandainya dulu aku tidak melakukan hal ini…”

Abu Darda ra, seorang yang shaleh, menghisab dirinya atas ontanya, tentu kita lebih layak lagi berkaca dan mengoreksi diri.

Sumber : Kisah Hikmah MNH 157 Februari 2017

[Muhasabah] Sibuk Menilai Orang Lain Tapi Lupa Memperbaiki Diri Sendiri

[Muhasabah] Sibuk Menilai Orang Lain Tapi Lupa Memperbaiki Diri Sendiri

Muhasabah diri, ‘Sibuk Menilai Orang Lain Tapi Lupa Memperbaiki Diri Sendiri’.

Ada seorang pemuda yang bertanya tentang sebuah fenomena yang tengah terjadi disekitar kehidupannya. Dia menanyakan kegundahan hatinya kepada seorang Syaikh.

“Wahai Syaikh,” ujar seorang pemuda, “Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama?”

“Subhanallah, keduanya baik,” ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya.”

“Jadi siapa yang lebih buruk?” desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi sang Syaikh.

“Kita anakku,” ujar beliau.

“Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.”

Beliau terisak-isak.

“Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.

Semoga kita mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah singkat ini. Semoga kita semua menjadikan semakin baik akhlaq dan ibadah kita.

Semoga Bermanfaat. Silahkan SHARE.