Media Amerika: Pasukan Hizbullah Berhasil Kalahkan Israel Tanpa Peluru Satupun

Media Amerika: Pasukan Hizbullah Berhasil Kalahkan Israel Tanpa Peluru Satupun

Widiynews.com – Sebuah situs berita Amerika Serikat memuat berita seputar serangan terbaru rezim Zionis Israel ke selatan Lebanon dan menulis, Hizbullah berhasil mengalahkan Israel tanpa menembakkan satu butir peluru pun.

Fars News (1/9/2019) melaporkan, American Herald Tribune menulis, militer Israel menyembunyikan dengan baik tentaranya di sepanjang perbatasan Lebanon-Palestina pendudukan, dan Hizbullah mengalahkan mereka tanpa menembakkan satu butir peluru pun.

Ditambahkannya, Hizbullah memaksa militer Israel untuk bersembunyi, dan di dalam kendaraan-kendaraan militernya mereka menempatkan boneka, dengan harapan Hizbullah tidak bisa membalas kematian anggotanya di Suriah, serangan drone ke Beirut dan serangan ke perwira militer Palestina di Bekaa.

Menurut situs Amerika itu, Hizbullah mengejar tentara Israel di sepanjang perbatasan Lebanon, dari kota Naqoura hingga wilayah pertanian Sheeba, dan sampai sekarang tidak satupun tentara Israel yang tampak.

Terkait kemampuan Hizbullah melumpuhkan target Israel, American Herald Tribune menulis, bank data target Hizbullah kaya, maka dari itu pemilihan satu target Israel tidak terlalu sulit bagi mereka. Hizbullah tidak terpaksa untuk mengumumkan waktu balasan, dan mereka senang Israel siaga dan terus berada dalam ketakutan.

“Hizbullah tidak perlu terburu-buru untuk menutup kasus ini, dan tidak perlu pula tergesa-gesa menggunakan senjata melawan Israel,” pungkasnya.[pt]

Kendaraan Tempur Israel Hancur Ditembak Rudal Antitank Hizbullah

Kendaraan Tempur Israel Hancur Ditembak Rudal Antitank Hizbullah

Widiynews.com – Hizbullah Lebanon mengumumkan telah menghancurkan sebuah kendaraan militer rezim Zionis Israel di utara Palestina pendudukan, dan menewaskan serta melukai para penumpangnya.

Fars News (1/9/2019) mengutip stasiun televisi Al Manar melaporkan, Ahad (1/9) pukul 16:15 Unit Tempur Syahid Hassan Zainab dan Syahid Yasser Dhaher, menghancurkan sebuah kendaraan tempur Israel di jalan menuju salah satu pangkalan militer Israel.

Juru bicara militer Israel mengkonfirmasi serangan balasan Hizbullah tersebut dan mengklaim, rudal antitank dari arah Lebanon ditembakkan ke wilayah pendudukan.

Militer Israel juga mengkonfirmasi beberapa rudal antitank mengenai beberapa kendaraan tempur dan pangkalan militer Israel, serta menimbulkan kerugian jiwa dan materi. [pt]

Jika Nekat Serang Gaza, HAMAS Ancam Hujani Rudal Israel

Jika Nekat Serang Gaza, HAMAS Ancam Hujani Rudal Israel

YERUSSALEM, Widiynews.com – Pemimpin gerakan perlawanan Hamas di Jalur Gaza memperingatkan Israel agar tidak melancarkan kampanye militer baru ke Jalur Gaza. Ia menegaskan, pejuang Hamas akan menang dalam setiap konflik dengan tentara Zionis di jika mereka nekat masuk ke wilayah kantong itu.

“Kami akan menghancurkan tentara pendudukan jika melintasi ke Jalur Gaza. Kami tahu apa yang kami katakan dan maksudkan dengan apa yang kami ucapkan,” kata Yahya Sinwar dalam sebuah pidato yang disampaikan kepada keluarga-keluarga Palestina di kampung halamannya di Khan Younis, Gaza selatan.

“Jika Israel meluncurkan kampanye militer di Gaza, kami akan menghujani kota-kota mereka dengan ratusan rudal sekaligus,” tambahnya.

“Jika terjadi perang, kita akan menyerang tentara pendudukan dan menghancurkan kekuatannya sekali dan selamanya. Kami tidak bercanda,” ucapnya seperti dikutip dari Press TV, Rabu (14/8/2019).

Sinwar kemudian memuji operasi 1 Agustus di Jalur Gaza selatan, tempat pria asal Palestina Hani Abu Sallah terbunuh dan tiga tentara Israel cedera dalam baku tembak. Ia menyebutnya sebagai aksi heroik.

Sinwar juga menyatakan bahwa aksi protes anti pendudukan mingguan di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel akan terus berlangsung sampai tujuannya tercapai.

Palestina telah mengadakan aksi unjuk rasa mingguan di perbatasan Gaza untuk memprotes pengepungan di daerah kantong itu. Aksi juga menuntut hak bagi para pengungsi untuk kembali ke rumah mereka yang terpaksa ditinggalkan selama pembentukan negara Israel pada tahun 1948.

Setidaknya 305 warga Palestina telah terbunuh oleh pasukan Israel sejak demonstrasi anti-pendudukan dimulai di Gaza pada 30 Maret 2018. Lebih dari 17.000 warga Palestina juga menderita luka-luka.

Bentrokan Gaza mencapai puncaknya pada 14 Mei tahun lalu, menjelang peringatan 70 tahun Hari Nakba (Hari Bencana), yang bertepatan dengan relokasi kedutaan Amerika Serikat (AS) dari Tel Aviv ke Yerusalem Timur yang diduduki.

“Kami akan melanjutkan upaya-upaya kami untuk mengakhiri perpecahan internal dan mencapai persatuan nasional berdasarkan proyek perlawanan, pembebasan dan pengembalian Palestina,” tegas Sinwar.[]

Sumber: SINDONEWS

Warga Palestina Ditembak Mati Tentara Israel

Warga Palestina Ditembak Mati Tentara Israel

Seorang warga Palestina ditembak mati tentara Zionis pada hari Kamis (1/8/2019) lantaran diketahui melintasi perbatasan Gaza dan menembaki tentara Israel.

Widiynews.com – Aksi penembakan yang dilakukan pria Palestian tersebut mengakibatkan tiga tentara Israel terluka.

Selama insiden itu, sebuah tank Israel menembaki sebuah pos milik Hamas, kelompok bersenjata Palestina yang mengendalikan Jalur Gaza. Belum ada laporan tentang korban dari pihak Palestina akibat tembakan tank tersebut.

Militer Zionis, dalam sebuah pernyataan, mengatakan pria tersebut yang mengumbar tembakan setelah menyusup ke pagar keamanan Israel di sepanjang perbatasan Gaza.

Baca: Israel Klaim Iran dan Hamas Bakal Buka Front Gaza

“Pasukan…menanggapi dengan tembakan ke arahnya, mengakibatkan kematian penyerang,” bunyi pernyataan militer tersebut, dikutip Reuters. “Seorang perwira terluka sedang dan dua prajurit tempur lainnya cedera ringan akibat tembakan penyerang.”

Pada hari Jumat, pasukan Israel menembak mati seorang pria Palestina selama protes mingguan di perbatasan Gaza. Menurut militer Israel, insiden itu terjadi ketika ribuan orang Palestina berkumpul di sepanjang perbatasan dan beberapa dari mereka melemparkan bahan peledak dan granat ke arah pagar perbatasan.

Para pejabat Gaza mengatakan sekitar 210 warga Palestina telah terbunuh sejak protes dimulai lebih dari setahun yang lalu. Sejak itu, seorang tentara Israel ditembak mati oleh seorang sniper Palestina di sepanjang perbatasan dan yang lainnya tewas dalam serangan rahasia pasukan Zionis ke Gaza.[sn]

Israel Klaim Iran dan Hamas Bakal Buka Front Gaza

Israel Klaim Iran dan Hamas Bakal Buka Front Gaza

Seorang pejabat senior pertahanan Israel mengatakan Hamas dan Jihad Islam akan berusaha memaksa Israel untuk mengalihkan pasukan dan sistem pertahanan udara ke selatan dari front utara.

Widiynews.com – Pejabat pertahanan Israel percaya jika Iran dan Hamas akan membuka front kedua di selatan Jalur Gaza jika perang pecah di utara Israel. Keduanya diyakini telah mencapai kesepakatan terkait hal itu.

Pejabat itu menambahkan beberapa bulan terakhir Iran telah semakin dekat dengan Hamas, dan Hamas telah menjalin hubungan dengan Garda Revolusi Iran tentang masalah ini.

Sumber-sumber intelijen di Israel mengatakan Iran telah meningkatkan keterlibatannya di Gaza untuk mengubah Hamas menjadi cabang operasional Teheran.

Sumber-sumber pertahanan Israel juga mengatakan mereka percaya Iran memandang penguatan Hamas sebagai kekuatan militer sebagai bagian penting dari strateginya melawan Israel.

Dalam sebuah video di halaman Facebook yang diarahkan pada warga Gaza, Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah, Mayor Jenderal Kamil Abu Rukon, mengomentari hubungan yang semakin dekat antara Hamas dan Iran. Ia memperingatkan bahwa Iran berusaha untuk kendalikan Jalur Gaza.

Dia juga mengutip dari pernyataan yang dibuat pekan lalu oleh seorang tokoh senior Hamas, Saleh al-Arouri, yang mengatakan Hamas berada di garis pertahanan pertama di Iran. Dan minggu ini, seorang diplomat Iran mengumumkan pembentukan front militer bersatu dari Teheran ke Gaza.

“Itu baru permulaan,” kata Abu Rukon dalam sambutannya yang ditujukan kepada audiens Gaza.

“Hanya kamu yang bisa memilih akhirnya,” imbuhnya seperti dikutip dari Haaretz, Kamis (1/8/2019).

Para pejabat pertahanan Israel berharap Hamas akan memulai babak baru pertempuran dengan Israel kecuali jika langkah-langkah diambil untuk meningkatkan ekonomi Gaza dan kemajuan signifikan dibuat dalam pembicaraan mengenai pengaturan jangka panjang dengan Israel mengenai situasi di Jalur Gaza.

Menurut para pejabat pertahanan Israel, para pemimpin Hamas percaya satu-satunya cara mereka dapat meringankan blokade Gaza adalah melalui eskalasi skala besar yang akan memaksa Israel untuk mengadakan pembicaraan tentang masalah tersebut.

Pejabat pertahanan Israel juga prihatin dengan meningkatnya upaya Hamas baru-baru ini untuk mengambil kendali Tepi Barat dengan bantuan dari Iran. Sebagai bagian dari upaya itu, Hamas membangun infrastruktur operasional di Tepi Barat dan menyalurkan dana untuk itu.

Para pejabat pertahanan juga mencatat peningkatan jumlah serangan teroris yang diarahkan oleh Hamas: Pada tahun 2018, serangan yang direncanakan oleh sekitar 130 sel teroris Hamas di Tepi Barat digagalkan – 40 sel lebih banyak dari 2017 dan hampir dua kali lipat jumlahnya pada 2016.

Peningkatan operasi Hamas di Tepi Barat menjadi perhatian para pejabat pertahanan Israel, yang percaya bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang bermarkas di Tepi Barat, perlu “dicukur.” Hamas memulai upaya untuk meningkatkan kekuatannya di Tepi Barat setelah menyimpulkan bahwa kedudukan Abbas telah melemah setelah krisis ekonomi di Tepi Barat.

Pejabat Hamas percaya bahwa penduduk Tepi Barat tidak ramah kepada Otoritas Palestina yang terus koordinasi keamanan dengan Israel, yang tetap berlangsung meskipun keputusan Israel untuk mengimbangi jumlah pemabayaran keamanan tahanan Palestina dari pendapatan pajak yang dikumpulkan Israel atas nama Otoritas Palestina.

Sebaliknya, Hamas telah berhasil mendapatkan bantuan ekonomi dari Qatar dengan persetujuan Israel terlepas dari aktivitas anti-Israel.[sns]

Rumah-Rumah Warga Palestina Dibuldozer Israel

Rumah-Rumah Warga Palestina Dibuldozer Israel

Militer Israel percaya bahwa rumah-rumah warga Palestina di dekat tembok perbatasan itu memiliki ancaman serius.

Widiynews.com – Ratusan tentara Israel mulai menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Sur Baher dengan buldozer. Negeri Zionis itu mengabaikan protes warga Palestina dan kritik dunia internasional.

Menurut warga Desa Wadi al Hummus, sebanyak 16 bangunan dan sekitar 100 apartemen jadi target penghancuran. Pasukan Israel telah mempersiapkan diri dengan buldozer sejak dinihari.

” Beberapa keluarga diancam akan dikubur jika tidak pindah atau bangun dari rumahnya,” kata Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dikutip dari Al Jazeera, Senin 22 Juli 2019.

Bulan lalu, Mahkamah Agung Israel mendukung militer untuk mengakhiri pertempuran hukum tujuh tahun, dan menetapkan Senin sebagai batas waktu untuk merobohkan rumah-rumah.

Otoritas Palestina mengatakan, tindakan itu akan menjadi percontohan bagi kota-kota lain di sepanjang tembok perbatasan sepanjang kilometer di Tepi Barat.

Rob Matheson, jurnalis Al Jazeera, melaporkan bahwa aksi Israel dimulai sekitar pukul 07:15 waktu setempat.

” Kami mendengar dentuman yang sangat keras datang dari sebuah bangunan di sebelah tempat kami berada sekarang. Suara itu berasal dari penggali mekanik besar yang merobek bagian atap bangunan yang sampai pagi ini kepada dua keluarga,” kata Rob.

” Ayah dari salah satu keluarga telah duduk di kursi di jalan menyaksikan rumahnya terkoyak.”

Matheson mengatakan, pasukan Israel telah meratakan sebuah bangunan di sisi Tepi Barat. Israel juga menghancurkan 50 persen rumah milik keluarga Palestina 10 di sisi Yerusalem Timur.

” Pada dini hari, ketika hari masih gelap, pasukan Israel bergerak ke rumah-rumah dan memindahkan keluarga penghuni. Mereka membawa keluarga itu pergi- kami mendengar teriakan demi teriakan. Dan dalam dua jam, 50 persen bangunan telah dihancurkan. ”

Pembongkaran itu menandai ” hari yang sangat suram dan menyedihkan” bagi warga Palestina.[dm]

Dua Jurnalis Al Jazeera Diskor Karena Sebut Israel Musnahkan Warga Palestina dengan Cara Nazi

Widiynews, Berita Terkini – Jaringan media Al Jazeera menskors dua jurnalis yang bertanggung jawab atas sebuah video yang mengklaim sejauh mana Holocaust telah disalahpahami oleh orang Yahudi. Dalam video itu, mereka menyatakan Israel menggunakan pembenaran Nazi untuk pembersihan ras dan pemusnahan warga Palestina.

Video di-posting oleh AJ+, jaringan media Al Jazeera. Isi video berupa narasi yang menyebut Nazi membunuh 6 juta orang Yahudi diadopsi oleh gerakan Zionis.

Dalam sebuah pernyataan, Dr Yaser Bishr, direktur eksekutif divisi digital penyiaran media setempat, mengatakan video berbahasa Arab tersebut sudah dihapus dari situs web karena melanggar standar editorial.

“Al Jazeera sepenuhnya menolak konten ofensif yang dipermasalahkan,” kata Bishr. “Tidak akan menoleransi materi seperti itu pada salah satu platform jaringan,” lanjut dia.

Di-posting di situs web dan media sosialnya, video AJ+ mempertanyakan sejarah Holocaust dan menuduh orang-orang Yahudi mengeksploitasi pembantaian masyarakat Eropa mereka untuk mendirikan Negara Israel, dan menyatakan bahwa Zionisme sendiri berasal dari ideologi Nazi.

Bishr tidak menyebutkan nama dua jurnalis yang diskors. Namun, Lembaga Riset Media Timur Tengah (MEMRI) yang berpusat di Washington, mengunggah video tersebut dengan terjemahan bahasa Inggris, sehingga nama jurnalisnya diketahui.

“Israel adalah pemenang terbesar dari Holocaust dan menggunakan pembenaran Nazi yang sama sebagai landasan untuk pembersihan ras dan pemusnahan warga Palestina,” kata jurnalis Muna Hawwa dalam video itu.

Dalam pernyataan pihak perusahaan, direktur pelaksana konten digital Al Jazeera, Dima Khatibsaid, mengatakan video tersebut telah diproduksi “tanpa pengawasan” dan alur kerja sedang ditinjau untuk memastikan semua produksi melewati saluran editorial yang tepat setiap saat.

Pada hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri di Israel mengatakan video itu bertujuan untuk “mencuci otak” pemuda Arab untuk membenci Israel.

“Penjelasan AJ+ tentang Holocaust ini adalah jenis kejahatan terburuk,” kata Kementerian Luar Negeri Israel di Twiter. “Begitulah cara Al Jazeera mencuci otak orang-orang muda di dunia Arab dan melanggengkan kebencian terhadap Israel dan Yahudi.”[]

Sumber: SINDONEWS