Dua Pendana Bom Ketapel Diciduk, Salah Satunya Mantan Relawan Capres di Pemilu 2019

Dua Pendana Bom Ketapel Diciduk, Salah Satunya Mantan Relawan Capres di Pemilu 2019

Widiynews – Polda Metro Jaya telah menangkap penyandang dana kasus perencanaan menggagalkan pelantikan Presiden Joko Widodo dengan menggunakan bom ketapel. Bila sebelumnya Suci Rahayu alias SR yang tertangkap kali ini ada seorang tersangka berinisial RA alias Abu Yaksa yang ikut diciduk.

Kedua orang ini diketahui tergabung dalam grup WhatsApp berinisial ‘F’ yang juga beranggotakan para tersangka lainnya. Kasubbit Penmas Bidang Humas Polda Metro Jaya AKBP I Gede Nyeneng mengkonfirmasikan jika tersangka sempat memberikan dana untuk mendukung aksi tersebut.

“SR juga adalah ikut memberikan uang atau sebagai penyandang dana dengan jumlah Rp 700 ribu,” kata Gede di Polda Metro Jaya, Kamis (24/10). “Pertama (dikirim) Rp 200 ribu, kedua (dikirim) Rp 500 ribu.”

Tersangka SA juga merupakan penyandang dana dalam kelompok tersebut. Berbeda dengan SR, tersangka SA diketahui hanya menyumbang dana sebesar Rp 75 ribu.

Dua Pendana Bom Ketapel Diciduk, Salah Satunya Mantan Relawan Capres di Pemilu 2019
Ilustrasi tangkap tangan

Kedua dana dari tersangka tersebut kemudian ditransfer kepada tersangka SH yang telah lebih dulu ditangkap. “Semua dana yang diberikan itu digunakan untuk membeli perlengkapan terkait dengan ketapel bom. Itu baik untuk beli ketapel, karet maupun kayu,” tutur Gede.

Polisi telah menyita sejumlah barang bukti. Dari situ ada temuan yang menarik berupa satu kartu bertuliskan ‘Kartu Tanda Pendukung Prabowo-Sandi’ yang diketahui milik tersangka SR. Gede menyebutkan jika tersangka SR dulunya memang merupakan pendukung salah satu paslon.

“Jadi tersangka (SR) pernah jadi relawan salah satu paslon, namun jauh dari pemilu mereka sudah berhenti jadi mungkin kartunya kebawa sama dia (SR),” tutur Gede.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menangkap enam tersangka kasus perencanaan peledakan bom ketapel saat acara pelantikan presiden dan wakil presiden Minggu (20/10) lalu. Enam tersangka berinisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM merencanakan pelemparan ‘bom ketapel’ ke Gedung DPR yang menjadi lokasi pelantikan.

Selain itu, komplotan ini juga berencana untuk melepaskan delapan ekor monyet di Gedung DPR dan Istana Merdeka dengan tujuan untuk membuat kegaduhan saat proses pelantikan. Keenam tersangka itu tergabung dalam sebuah grup WhastApp yang berinisial ‘F’ yang dibentuk oleh tersangka SH. Di mana grup WhatsApp itu sendiri memiliki anggota sebanyak 123 orang.[]

Sumber: WOWKEREN

Jadi Sorotan di Media Sosial, Harga Tas Hermes Ibu Nyai Wury Ma’ruf Amin Saat Pelantikan Harganya Mencapai Rp 672 Jt

Jadi Sorotan di Media Sosial, Harga Tas Hermes Ibu Nyai Wury Ma'ruf Amin Saat Pelantikan Harganya Mencapai Rp 672 Jt

Widiynews.com – Momen pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan K.H. Ma’ruf Amin, menghadirkan begitu banyak cerita, salah satunya penampilan dari ibu Wury Estu Handayani.

Istri dari Wakil Presiden, K.H. Ma’ruf Amin ini tampil bersahaja dengan gaya penampilan baju kebaya putih yang dipadukan dengan hijab berwarna hijau pastel serta bawahan berupa kain batik dan juga selendang batik.

Gaya pakaian yang dihadirkan perempuan 45 tahun itu memang terlihat cantik penuh corak kebudayaan Indonesia. Namun, ada aksesori penampilan yang cukup mencuri perhatian AkuratTren, yakni tas tangan warna hitam yang dikenakan ibu Wury.

Jika diamati dengan jelas, tas hitam yang selalu tergenggam di tangan kirinya itu sangat mirip dengan merek tas mewah kenamaan asal Prancis, Hermes. Tas yang dipakai Wury terlihat sangat mirip dengan tas Hermes model Kelly 20 Mini Black Alligator.

Jadi Sorotan di Media Sosial, Harga Tas Hermes Ibu Nyai Wury Ma'ruf Amin Saat Pelantikan Harganya Mencapai Rp 672 Jt

Jika benar tas yang dipakai Wury seperti merek yang disebutkan di atas, maka jangan kaget dengan harganya. Dilansir AkuratTren dari Janefids.com, harga tas tersebut dibanderol seharga 49.995 dolar Amerika Serikat, atau sekitar Rp672 jutaan.

Tas mewah tersebut memiliki lebar 20cm dengan tinggi 13 cm dengan topstitching yang terlihat di sepanjang jahitan. Sudut dan ujung tas terlihat lebih tajam, berkontribusi pada tampilan yang lebih berbentuk kotak.

Tentu, momen kali ini bukanlah ajang pamer, apalagi beliau adalah istri wakil presiden. Tampil anggun dan pantas dalam berbagai sesi, apalagi dalam jangkauan sorot mata dunia tentu menjadi tujuannya.[]

Sumber: akurat.co

Jokowi Berencana Pangkas Dua Eselon, Jimly: Gak Usah Terlalu Ekstrem

Berita Terkini Jokowi Berencana Pangkas Dua Eselon, Jimly: Janganlah Terlalu Ekstrem

Widiynews.com – Pemangkasan pejabat eselon di kementerian dan lembaga menjadi gebrakan baru Joko Widodo usai dilantik sebagai Presiden periode 2019-2024 yang disampaikan dalam pidato perdana kenegaraan di Gedung DPR/MPR RI.

Dalam pidato tersebut, Presiden akan menghapus eselon 3 dan 4. Praktis jika hal ini terwujud, hanya akan ada eselon 1 dan eselon 2.

Rencana ini langsung disoroti oleh anggota DPD RI, Jimly Asshiddiqie yang menilai pemangkasan tersebut terlalu berlebihan.

Saya setuju (pemangkasan), cuma jangan dua lah, terlalu ekstrem,” ungkap Jimly di Kompleks Parlemen, Senayan, Minggu (20/9).

Berita Terkini Jokowi Berencana Pangkas Dua Eselon, Jimly: Janganlah Terlalu Ekstrem

Menurutnya, pemangkasan eselon cukup dilakukan satu tingkatan di kementerian. Hal itu agar tak menyulitkan pejabat dalam menjalankan kebijakannya. Sebab menurutnya, antara eselon 1, 2, dan 3 saling berkaitan.

“Start pengambilan keputusan itu direktur-direktur memberi direction sedangkan Dirjen hanya stafnya pimpinan yang mengoordinasi. Baiknya semua proses keputusan selesai di eselon dua, pelaksananya nanti eselon dua dan tiga, eselon satunya koordinator saja. Jadi tiga eselon, jangan dua. Terlalu ekstrem,” jelasnya.

Kendati demikian, jika rencana tersebut tetap akan diterapkan, harus sesuai dengan prosedur undang-undang yang berlaku.

“Ya itu ada aturananya. Tapi semangat Presiden itu bagus, harus didukung. Itu yang penting,” tandasnya.[]

Sumber: politik.rmol.id

Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Widiynews.com – Meski sinyal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan merapat dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Aktivis senior Sri Bintang Pamungkas menyatakan tetap tidak akan mendukung dan tetap melakukan kritik.

Bukan tanpa alasan, menurut aktivis yang pernah dipenjara itu Jokowi dan Prabowo sama-sama didukung pebisnis dan negara Republik Rakyat China. Bintang mengibaratkan keduanya sebagai ayam.

“Di beberapa tempat, orang tanya pada saya, Prabowo itu seperti apa, Jokowi seperti apa. Saya bilang terus terang ini, yang satu ayam sayur, yang satu ayam potong. Ya, jadi memang republik ini akan mengalami kerusakan yang hebat kalau rezim ini terus,” kata Bintang dalam diskusi di Rumah Class Action Guntur Network 49, Jakarta Selatan, Sabtu (19/10).

Alasan lain dirinya tidak mendukung keduanya karena sama-sama mendukung amendemen UUD 1945 yang sudah dilakukan selama ini. Seharusnya, menurut dia, UUD 1945 yang belum diamendemen yang diterapkan Indonesia sebagai warisan kemerdekaan.

Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Pasalnya, amendemen UUD 1945 hanya menguntungkan segelintir elite. Amandemen itu, membatasi rakyat untuk bisa mengusung presiden pilihannya sendiri.

“Nonpartai tidak boleh memilih. Padahal syarat-syarat membuat partai itu triliunan, hanya orang kaya macam, ya Jokowi di belakangnya kan ada, Prabowo juga ada,” tuturnya.

Ia masih memiliki keyakinan, bahwa Jokowi bisa jatuh ditengah jalan seperti rezim Soeharto yang bisa ditumbangkan karena kehendak rakyat.

Kalau Soeharto dilantik bulan Maret, bulan Mei jatuh. Jadi kalau Jokowi dilantik besok, saya kira Desember jatuh. Ini saya ingin sampaikan kepada Polda kalau saya diperiksa lagi,” ia menambahkan.

“Kalau Soeharto dilantik bulan Maret, bulan Mei jatuh. Jadi kalau Jokowi dilantik besok, saya kira Desember jatuh,” pungkasnya.

Sumber: politik.rmol.id

Bagaimana Sikap Habib Rizieq atas Romantisnya Prabowo dan Jokowi?

Berita Terkini: Bagaimana Sikap Habib Rizieq atas Romantisnya Prabowo Subianto dan Jokowi?

Widiynews.com – Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab belum mengeluarkan komentar atas mesranya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Hal itulah yang diungkapkan kuasa hukum FPI sekaligus penasehat hukum Habib Rizieq, Sugito Atmo Seperti dilansir dari Riau24, Jumat (18/10/2019). Kemarin. “HRS setahu saya belum berkomentar,” ujarnya.

Namun, Sugito menyebutkan, Habib Rizieq pasti mengetahui fenomena merapatnya Prabowo Subianto ke istana. “Beliau pasti mengikuti perkembangan juga,” jelasnya.

Sugito sendiri berpendapat, menyatunya Gerindra ke Istana bakal merusak fungsi check and balance. “Bagusnya, kan, tetap harus ada oposisi yang kritis, yang jumlahnya signifikan,” katanya.

Tetapi, fenomena tersebut bagi Sugito bukan hal yang mengherankan. Karena politik itu dinamis sehingga bisa berubah sikap sesuai dengan kepentingan parpol.

Bagaimana Sikap Habib Rizieq atas Romantisnya Prabowo dan Jokowi?

Sugito menambahkan, FPI tetap akan menjadi mitra kritis pemerintah. “Kalau sikap kami [FPI] tetap mengikuti perkembangan, siapapun yang memimpin, meskipun Pak Prabowo yang memimpin, jika bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan umat, kami tetap akan bersikap kritis jika ada yang tidak sesuai,” kata dia.

Hal senada diungkapkan Ketua PA 212, Slamet Ma`arif. Ia juga menyayangkan sikap Prabowo dan Partai Gerindra yang melakukan rekonsiliasi dengan Jokowi sebagai presiden terpilih.

“Kami menyayangkan Prabowo Subianto dan Gerindra yang kurang sensitif dengan perasaan emak–emak, umat Islam, dan lainnya yang selama ini ikhlas mendukung dan telah berkorban untuk beliau,” katanya.

Meskipun nanti Prabowo beserta Partai Gerindra bergabung dengan pemerintahan Jokowi–Ma`ruf, kata Slamet, PA 212 dengan tegas tidak akan pernah melakukan rekonsiliasi dengan ketidakadilan, kecurangan, dan kezaliman.

Slamet meminta kepada pemerintah untuk menghentikan kriminalisasi terhadap para ulama dan aktivis 212. Ia juga mendorong kepada pemerintah untuk mengusut kasus pembantaian massa aksi pada 21–22 Mei, pelajar, dan mahasiswa agar segera diungkap.

“Jangan bicara rekonsiliasi sebelum kasus tewasnya 700 petugas pemilu diungkap. Jangan bicara rekonsiliasi dengan kami sebelum imam besar kami Habib Rizieq dipulangkan,” kata Slamet.

Menurut Slamet, sikap FPI dan PA 212 ke depan akan tetap berpegang teguh pada hasil Ijtima Ulama IV yang digelar di Lorin Hotel Sentul, Bogor, Jawa Barat, pada Senin (5/8/2019).

Salah satu sikap pada pertemuan tersebut menolak kekuasaan yang berdiri atas dasar kecurangan dan kezaliman. Sebab, mereka menilai Pemilu 2019 kemarin, adalah pesta demokrasi yang penuh dengan kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM) serta brutal.[]

Sumber: law-justice.co

Dihari Pelantikan Jokowi, Eggi Sudjana Kembali Diciduk Polisi Terkait Kasus Perakitan Bom

Dihari Pelantikan Jokowi, Eggi Sudjana Kembali Diciduk Polisi Terkait Kasus Perakitan Bom

Widiynews.com – Kepolisian kembali menangkap Aktivis 212 Eggi Sudjana lantaran diduga mengetahui perihal informasi tentang seseorang dalam perakitan bom.

“Alasan penangkapannya mau klarifikasi dengan orang yang lagi disidik oleh Polda yang merakit bom. Orang itu pernah WhatsApp dan pergi ke rumah Eggi,” kata Kuasa Hukum Eggi Sudjana, Alamsyah Hanafiah saat dihubungi wartawan, Minggu (20/10).

Alamsyah menjelaskan, Eggi adalah pelanggan pijat dari pelaku yang diduga merakit bom tersebut. Namun, Alamsyah mengklaim tak tahu menahu ihwal identitas orang tersebut.

Dihari Pelantikan Jokowi, Eggi Sudjana Kembali Diciduk Polisi Terkait Kasus Perakitan Bom

“Dia pernah pijetin (Eggi), kemungkinan karena sering telepon dengan Eggi, makanya ditangkap,” ujarnya.

Untuk diketahui, saat ini status Eggi Sudjana masih menjadi tersangka kasus dugaan makar atas pidatonya di depan kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4) lalu.

Saat itu, Eggi menyerukan ajakan people power di hadapan pendukung kubu Prabowo-Sandiaga pada masa pilpres.

Dirinya pun sempat ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, namun status penahanannya ditangguhkan.[]

Sumber: hukum.rmol.id

Kalau Pidato Jokowi Disimak, Harusnya Para Menteri Bisa Langsung Kerja

Kalau Pidato Jokowi Disimak, Harusnya Para Menteri Bisa Langsung Kerja

Widiynews.com – Pakar Komunikasi Politik Emrus Sihombing menilai, para calon menteri seharusnya sudah tahu tugas-tugas mereka ketika nanti dipilih sebagai pembantu presiden dalam jajaran kabinet kerja untuk lima tahun ke depan.

“Semestinya, calon-calon menteri Jokowi bisa menyimak pidato pelantikan itu, dan menangkap apa-apa yang menjadi tupoksinya di kementerian yang dipimpinnya kelak,” katanya, Minggu (20/10).

Hal itu bisa disimak lewat pidato perdana yang disampaikan Jokowi usai dirinya dilantik oleh MPR.

Kalau Pidato Jokowi Disimak, Harusnya Para Menteri Bisa Langsung Kerja

Jadi, kata dia, begitu ditunjuk sebagai menteri bisa langsung menjabarkan apa yang diprogramkan Jokowi, sesuai dengan bidang kementeriannya.

Sekadar informasi, rencananya, Jokowi-Maruf akan mengumumkan dan mengenalkan menteri-menteri pada kabinetnya lima tahun mendatang, pada hari ini, namun belum jelas jam berapa pengumuman itu akan berlangsung.[]

Sumber: politik.rmol.id

Jelang Jokowi-KH. Ma’ruf Dilantik, Listrik DPR Padam Empat Kali, Ada Apa?

Jelang Jokowi-KH. Ma'ruf Dilantik, Listrik DPR Padam Dua Kali, Ada Apa?

Widiynews.com – Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta mendadak gelap gulita pada Jumat malam (18/10). Terjadi pemadaman listrik di gedung para dewan tersebut.

Pemadaman listrik tidak hanya sekali, melainkan empat kali. Listrik pertama kali padam pada pada pukul 20.25.

Pemadaman pertama hingga ketiga berlangsung singkat, sekitar 1 menit. Pada pemadaman keempat, durasi lebih panjang, yakni hingga empat menit.

Pemadaman ini cukup membingungkan wartawan yang tengah menulis di Media Center di lantai dasar Gedung Nusantara III.

Jelang Jokowi-KH. Ma'ruf Dilantik, Listrik DPR Padam Dua Kali, Ada Apa?

Pemadaman yang umumnya terjadi ketika ada gangguan penyaluran listrik ini terbilang mengkhawatirkan. Sebab, terjadi dua hari sebelum pelantikan Jokowi-Maruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden di tempat tersebut.

Dikonfirmasi soal kejadian itu, Sekretaris Jenderal DPR, Indra Iskandar menyebut pemadaman terjadi karena ada uji beban penyaluran listik oleh PT PLN.

“Sedang uji beban dari PLN,” singkat Indra kepada wartawan.[]

Sumber: rmol.id