Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Widiynews.com – Meski sinyal Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan merapat dalam pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Aktivis senior Sri Bintang Pamungkas menyatakan tetap tidak akan mendukung dan tetap melakukan kritik.

Bukan tanpa alasan, menurut aktivis yang pernah dipenjara itu Jokowi dan Prabowo sama-sama didukung pebisnis dan negara Republik Rakyat China. Bintang mengibaratkan keduanya sebagai ayam.

“Di beberapa tempat, orang tanya pada saya, Prabowo itu seperti apa, Jokowi seperti apa. Saya bilang terus terang ini, yang satu ayam sayur, yang satu ayam potong. Ya, jadi memang republik ini akan mengalami kerusakan yang hebat kalau rezim ini terus,” kata Bintang dalam diskusi di Rumah Class Action Guntur Network 49, Jakarta Selatan, Sabtu (19/10).

Alasan lain dirinya tidak mendukung keduanya karena sama-sama mendukung amendemen UUD 1945 yang sudah dilakukan selama ini. Seharusnya, menurut dia, UUD 1945 yang belum diamendemen yang diterapkan Indonesia sebagai warisan kemerdekaan.

Sri Bintang Pamungkas: Soeharto Bulan Mei Jatuh, Saya Kira Jokowi Bulan Desember Jatuh

Pasalnya, amendemen UUD 1945 hanya menguntungkan segelintir elite. Amandemen itu, membatasi rakyat untuk bisa mengusung presiden pilihannya sendiri.

“Nonpartai tidak boleh memilih. Padahal syarat-syarat membuat partai itu triliunan, hanya orang kaya macam, ya Jokowi di belakangnya kan ada, Prabowo juga ada,” tuturnya.

Ia masih memiliki keyakinan, bahwa Jokowi bisa jatuh ditengah jalan seperti rezim Soeharto yang bisa ditumbangkan karena kehendak rakyat.

Kalau Soeharto dilantik bulan Maret, bulan Mei jatuh. Jadi kalau Jokowi dilantik besok, saya kira Desember jatuh. Ini saya ingin sampaikan kepada Polda kalau saya diperiksa lagi,” ia menambahkan.

“Kalau Soeharto dilantik bulan Maret, bulan Mei jatuh. Jadi kalau Jokowi dilantik besok, saya kira Desember jatuh,” pungkasnya.

Sumber: politik.rmol.id

Ini Penjelasan Polisi Terkait Penggeledahan Rumah Sri Bintang Pamungkas

Widiynews.comBerita MAKAR Terkini: Ini Penjelasan Polisi Terkait Penggeledahan Rumah Sri Bintang, Jajaran Polda Metro Jaya menggeledah dua rumah di lokasi berbeda di Jakarta. Salah satu lokasi yang digeledah yakni rumah Sri Bintang Pamungkas di Kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Penggeledahan itu terkait kasus dugaan makar yang menyeret Sri Bintang.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Raden Prabowo Argo Yuwono, polisi terpaksa melakukan penggeledahan rumah Sri Bintang lantaran yang bersangkutan tidak mau bersikap kooperatif untuk dimintai keterangan soal dugaan perbuatan makar. “Sri Bintang selama ini kurang koperatif, sedangkan penyidik butuh alat bukti tambahan untuk memudahkan penyidikan,” ujarnya.

Dikutip dari Antara, Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Hendy F Kurniawan memimpin penggeledahan terkait makar itu. Dari penggeledahan di Cibubur, penyidik mengambil flashdisk milik istri Sri Bintang dan beberapa catatan berupa tulisan tangannya. Meski demikian, Argo belum menjelaskan lebih lanjut soal barang bukti yang didapat oleh penyidik.

Penggeledahan itu dibenarkan oleh kuasa hukum Sri Bintang, Dahlia Zein. Namun dia mengaku tidak mengetahui apa saja yang diambil oleh penyidik, selain flashdisk, saat menggeledah rumah Sri Bintang di Jalan Guntur.

“Hanya flashdisk (yang disita). Itu milik istrinya Pak Bintang yang isinya hanya soal-soal ujian itu aja,” ujarnya saat dihubungi.

Dahlia mengatakan, penyidik menggeledah lima kamar dan ruang kerja di kediaman Sri Bintang di Cibubur. Namun, dari penggeledahan itu hanya ditemukan buku dan soal-soal ujian milik Sri Bintang. Meski demikian, Dahlia mengaku tersinggung dengan sikap penyidik yang melakukan penggeledahan tanpa izin.

“Kami merasa tersinggung, dan kami akan melakukan keberatan atas tidak ada pemberitahuan kepada kami,” ujar Dahlia saat dikonfirmasi, Jakarta, Rabu (14/12/2016).

Dia dan tim pun mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum melalui praperadilan atas tindakan penyidik Polda Metro Jaya tersebut. “Kami akan berunding dengan tim kuasa hukum dan klien (Sri Bintang) apakah kami akan melakukan (upaya hukum) atau tidak, tapi kami tersinggung,”ucapnya.

Ini Penjelasan Polisi Terkait Penggeledahan Rumah Sri Bintang Pamungkas

Saat penggeledahan dilakukan, hanya ada anak Sri Bintang dan asisten rumah tangga di rumahnya. Istri Sri Bintang saat itu tengah berada di rumah sakit melakukan kontrol kesehatan secara rutin.

“Pada saat anaknya ambil foto, sempet ada ancaman. ‘Kamu jangan foto aja’. Soalnya waktu penangkapan bapak kemarin saja jadi viral. ‘Kalau kamu foto, nanti HP kamu saya rampas,” ucap Dahlia menirukan.

Dahlia sendiri mengaku mengetahui penggeledahan itu dari anak dan istri Sri Bintang. Dahlia pun bergegas mendatangi rumah Sri Bintang. Namun saat datang, penggeledahan terkait kasus makar itu sudah hampir selesai.

“Saya baru sampai kantor langsung ke rumah Pak SBP. Boleh masuk tapi jangan diambil foto,” pungkas dia.

Sri Bintang saat ini berada di ruang tahanan narkotik Polda Metro Jaya. Ia ditahan bersama dua tersangka makar lainnya, Rizal Kobar dan Jamran, yang juga ditangkap pada 2 Desember lalu.

Selain tiga orang itu, kepolisian juga menangkap Kivlan Zein, Adityawarman Thahar, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko Santjojo, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri. Namun mereka telah dipulangkan pihak kepolisian.

Selain 10 tersangka makar, musisi Ahmad Dhani ikut ditangkap dengan jeratan pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa. Di antara para tersangka itu ada Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin, Rachmawati, dan Sri Bintang Pamungkas yang diduga terlibat makar. Dua tersangka lainnya yakni Jamran dan Rizal, dijerat menggunakan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Berita Terkini Hari Ini: DPR Belum Menerima Surat Dugaan MAKAR Dari Sri Bintang Pamungkas

Widiynews.comBerita Terbaru Terkini Hari Ini: DPR Belum Menerima Surat Dugaan MAKAR Dari Sri Bintang Pamungkas, Dari total delapan orang tersangka makar, hanya Sri Bintang Pamungkas yang kini masih ditahan Polisi. Hingga kini, polisi masih mendalami isi surat Sri Bintang ke DPR terkait pemintaan pencabutan mandat Jokowi – Jusuf Kalla serta keterlibatan pihak lain terkait dugaan makar.

Sebelumnya, polisi menyatakan penyidik telah mengantongi dugaan hasutan makar aktivitas tersebut. Bukti itu adalah berupa video pernyataan Sri Bintang di Kalijodo terkait perlunya ‘revolusi’, seperti dikutip dari laman Detik.

Di lain kesempatan, Erlina, istri Sri Bintang mengungkapkan bahwa sang suami pada 1 Desember 2016 telah mengirimkan surat ke DPR. Surat tersebut berisikan sejumlah poin permintaan, salah satunya agar DPR menggelar sidang pencabutan mandat Jokowi-JK.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Agus Hermanto mengaku pihaknya hingga kini belum menerima surat dugaan makar yang telah ditulis oleh Sri Bintang Pamungkas. “Saya belum menerima surat tersebut, nanti dicek di Sekretariat Jendral. Tapi memang sampai saat ini kami belum menerima surat dari Sri Bintang Pamungkas tersebut,” ujar Agus seperti dikutip dari laman Liputan6.

Agus menyebutkan, sampai saat ini belum ada yang mengkonfirmasi soal surat Sri Bintang tersebut. Namun, Agus menilai, hak dari setiap orang untuk menyampaikan surat kepada DPR ataupun MPR.

“DPR dan MPR kan merupakan wakil rakyat, jadi siapa saja dapat menyampaikan aspirasinya kepada baik DPR maupun MPR. Dan kami tentunya sebagai wakil rakyat yang harus menindaklanjuti permasalahan tersebut, tentunya sebatas kemampuan kami seluruhnya,” ucap agus

Lebih lanjut, hingga kini Agus belum mengetahui sepenuhnya apakah benar isi surat yang ditulis tesebut benar-benar terkait dugaan makar atau tidak. “Kita sampai saat ini belum mengerti apa isinya, sehingga tidak mau bicara masalah konten.” jelas Agus.

Sri Bintang Pamungkas ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan makar. Ernalia, istri Sri Bintang sempat membacakan surat yang pada 1 Desember 2016 lalu hendak diantar ke DPR/MPR dan Markas TNI di Cilangkap yang isinya diduga soal makar.

Berikut isi surat Sri Bintang Pamungkas:

Kepada Yth:
Pimpinan
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
d/a Gedung DPR/MPR-RI
Jl. Jenderal Hatot Soebroto
Jakarta Selatan

Dengan hormat,

Bersama ini, kami dari kelompok Gerakan Nasional People Power Indonesia, yang merupakan gabungan dari beberapa exponen aktivis, sehubungan dengan situasi tanah air sekarang ini, sudah menyampaikan keinginan kami meminta kesediaan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk memanggil Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia guna menggelar Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (SI-MPR RI) sesegera mungkin. Yaitu, dengan maksud menyelesaikan persoalan-persoalan Negara yang dari hari ke hari semakin berbahaya bagi kelangsungan jalannya Negara Kesatuan Republik Indonesia

Adapun tujuan akhir dari SI-MPR RI itu adalah untuk menghasilkan Ketetapan-ketetapan MPR-RI yang meliputi:

1. Menyatakan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945 Asli di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
2. Mencabut Mandat Presiden dan Wakil Presiden RI yang sekarang, masing-masing dijabat oleh Joko Widodo dan Jusuf Kalla
3. Mengangkat Penjabat Presiden Republik Indonesia yang baru, yang sekaligus menjadi Ketua Presidium Republik Indonesia dengan wewenang menyusun Pemerintah Transisi Republik Indonesia.

Demikian permintaan kami, dengan harapan MPR-RI dapat memenuhinya dengan segera. Terimakasih atas segala perhatian dan kesediaannya.

Hormat saya,
Sri-Bintang Pamungkas

Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami apakah ada pihak-pihak lain berkaitan dengan dugaan makar itu. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengaku belum mengetahui secara pasti. Meski demikian, pihak kepolisian akan terus menelusuri hal itu. “Sekarang tahapnya baru pemeriksaan saksi-saksi. Belum diketahui, sementara baru Sri Bintang saja,” ujar Argo seperti dilansir dari laman Detik.

Sebelumnya, polisi juga menelisik siapa yang mendanai upaya percobaan menggulingkan pemerintah yang sah itu. Hal tersebut masih dikembangkan oleh polisi. “Masih dikembangkan oleh penyidik, nanti kita masih memerlukan beberapa saksi ahli, saksi bahasa, dan lain-lain, akan kita kembangkang,” ujar Argo

Delapan orang tersangka dugaan makar, polisi menunda pemeriksaan terhadap putri Presiden RI ke-1 Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri, karena alasan kesehatan. Sejumlah tokoh hingga kini mempersoalkan penangkapan 8 tersangka atas dugaan makar ini. Namun, argo menegaskan bahwa polisi memiliki bukti-bukti yang kuat untuk menetapkan kedelapan orang itu sebagai tersangka.

Dari 8 tersangka itu, polisi hanya menahan Sri Bintang. Syarat subjektivitas menjadi salah satu alasan polisi mengapa yang lainnya tidak ditahan. [Detik]

Lanjut Baca Berita Terbaru Kami
<< SebelumnyaBerikutnya >>